Terapi Tazkiyatun Nafs

“At-tazkiyah bermakna at-tath-hiir, yaitu penyucian atau pembersihan. Adapun kata an-nafs (bentuk jamaknya: anfus dan nufus) berarti jiwa, hati, qolbu, emosi atau nafsu. Dengan demikian tazkiyatun nafs berarti penyucian hati, jiwa atau nafsu kita.

Tazkiyatun Nafs adalah proses penyucian jiwa dan hati dari sifat-sifat buruk, serta menumbuhkan sifat-sifat baik. Tazkiyatun nafs dapat diartikan sebagai upaya “Spiritual Self Healing” karena dapat membantu seseorang untuk menjadi lebih baik dan memiliki jiwa yang bersih. 

Spiritual Self Healing

Spiritual self-healing dalam Islam adalah proses penyembuhan diri dengan melibatkan Allah SWT dalam menghadapi masalah dan memperbanyak mengingat-Nya. Self-healing merupakan proses pemulihan diri sendiri yang melibatkan kekuatan yang tumbuh dari diri sendiri untuk bangkit dari permasalahan kejiwaan atau psikologisnya maupun gangguan masalah phisik. 

Menurut pandangan agama Islam, makna dan arti penting healing adalah dengan terus mengingat Allah SWT. Hal ini dijelaskan pada QS. Ar-Ra’du ayat 28:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”

Dalam ayat ini secara langsung Allah SWT. menyampaikan bahwa dengan kita terus mengingat Allah SWT, maka hati akan tentram. Teruslah mengingat di dalam hati dan pikiran bahwa bumi beserta isinya tak ada yang melebihi kekuasaan Allah SWT. Dengan kita terus mengingat Allah SWT. kita akan lebih bahagia menjalani hidup dan hati lebih tenang karena apapun masalahnya kita akan terus bergantung semata-mata hanya kepada Allah SWT.

Hati yang tenang, sehat, dan bahagia disebut qolbun salim. Qolbun salim merupakan konsep penting yang menggambarkan hati yang suci, tunduk dan ikhlas tawakal kepada Allah, menjadi sumber kebahagiaan. 

Hati merupakan bagian terpenting bagi seorang manusia. Jika hati ini baik, maka seluruh tubuhnya akan baik pula. Sebaliknya, jika hati itu rusak, maka rusak juga seluruh anggota tubuh.

Sebagaimana yang Nabi sabdakan:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. رواه البخاري ومسلم.

Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging tersebut buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati (qolbu).” (HR Bukhari dan Muslim)

Allah berfirman yang artinya, “(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. asy-Syu’ara: 88-89)

Tazkiyah juga dilakukan semua makhluk Allah SWT, dalam firmannya:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا ٤٤

Artinya: “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS Al Isra: 44)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap anak Adam berbuat salah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.”

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ مِنْهَا، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ فَذَلِكُمُ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي كِتَابِهِ: كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sesungguhnya apabila seorang mukmin melakukan dosa, maka akan terjadi bintik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertaubat dan melepaskan dosa tersebut serta beristighfar, maka hatinya akan dibersihkan. Namun, jika ia menambah dosanya, maka bintik hitam tersebut pun akan bertambah hingga menutupi hatinya.

Maka itulah yang dimaksud dengan raan (karat). Hal ini disebutkan oleh Allah dalam kitab-Nya, ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.’ [Al-Muthaffifin/83: 14]

Beberapa penyakit hati dalam Islam adalah:

  • Riya’Pamer atau melakukan amal saleh untuk dipuji orang lain  
  • Hasad dan Husud: Iri hati atau dengki  
  • Takabur: Sombong  
  • Ujub: Merasa saleh dan membanggakan diri sendiri  
  • Ghadab: Pemarah  
  • Ghibah: Bergunjing atau menyebarkan aib orang lain  
  • Buruk sangka: Berburuk sangka terhadap sesama atau Allah SWT  
  • Fitnah: Menyebarkan berita bohong untuk menjatuhkan seseorang  
  • Cinta dunia: Sifat tercela yang sangat berbahaya bagi kondisi hati  
  • Tamak atau Rakus: Sifat yang sangat tercela, dianggap sebagai sumber kehinaan dan bencana  
  • Penyakit yang bersumber dari gangguan Setan dan Jin jahat

Setan dan jin dapat masuk ke dalam hati manusia dan mempengaruhi manusia. 

Setan memiliki banyak akal untuk dapat menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan. Setan juga bisa masuk ke dalam hati melalui banyak pintu dan memberi pengaruh buruk pada manusia.

Kita ingat dengan hadits Nabi yang menyebutkan, “Sesungguhnya setan atau jin jahat masuk pada diri Bani Adam melalui jalan (aliran) darah” (HR. Al Bukhari)

Berikut beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits yang menjelaskan tentang setan menggoda manusia:

  • “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (Fathir : 5).  
  • “Aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang indah perbuatan maksiat di muka bumi. Dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis” (Qs Al Hijr ayat 39).  
  • “Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat Al Baqarah di dalamnya” (HR Muslim, no. 780).  

Jin dapat mengganggu manusia dengan beberapa cara, yaitu:

  • Menyeluruh, jin menguasai dan mengganggu seluruh tubuh manusia.
  • Sebagian, jin menguasai salah satu anggota tubuh manusia.
  • Terus menerus, jin menetap di tubuh manusia dalam jangka waktu yang sangat lama.
  • Waktu tertentu, jin mengganggu manusia hanya beberapa waktu saja atau pada waktu tertentu.  

Dan yang paling bahaya adalah setan menyebarkan penyakit hati yang berdampak pada sifat Munafik dan perbuatan Syirik

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an mengenai kedudukan orang-orang munafik:

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu berada di tingkat yang paling bawah dari neraka, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisa: 145)

Ayat ini jelas menunjukkan betapa hinanya kedudukan orang munafik di akhirat. Namun, penting untuk memahami bahwa sifat munafik tidak hanya berkaitan dengan tindakan-tindakan besar, tetapi juga bisa melibatkan hal-hal kecil dalam berperilaku.

Larangan syirik dalam Al-Qur’an tercantum dalam beberapa surah, di antaranya:

  • Surah Al An’am ayat 88, yang berbunyi: “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, pasti sia-sialah amal yang telah mereka kerjakan”  
  • Surah Al Bayyinah ayat 6, yang berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang kufur dari golongan Ahlulkitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka Jahanam”  
  • Ayat yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni dosa yang selain (syirik) itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar”  

Syirik adalah perbuatan menyekutukan Allah dengan hal-hal selain-Nya. Syirik merupakan dosa besar yang dianggap sebagai kezaliman yang paling besar. 

Terapi Hati dengan Tazkiyatun Nafs

Hati merupakan unsur manusia yang rapuh dan mudah terombang-ambing. Ia merupakan organ yang paling cepat terpengaruh oleh keadaan.

Hati cepat kotor dikarenakan setiap manusia yang melakukan dosa dan telah terpapar, yang pertama kali akan terkena dampaknya adalah hati.

Dampak yang muncul berupa titik hitam yang lambat laun akan menjadi kumpulan titik besar dan bisa merusak jiwa manusia sehingga bisa disebut hati tersebut menjadi sakit.

Apabila hati sakit, maka kenikmatan dalam penghambaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala menjadi hilang, sebagaimana fisik yang sakit menjadikan kenikmatan saat seseorang makan menjadi hilang.

Hati juga dapat mudah lelah karena penglihatan hati lebih sensitif dan tajam dibandingkan mata. Ia bisa dengan cepat berputar-putar dan berbolak-balik karena merupakan organ yang pertama kali merespons perubahan dunia. Itu sebabnya hati disebut dengan kata “qolbun” dalam Al-Qur’an.

Hati adalah unsur dan eksistensi terdalam yang membutuhkan konsumsi spiritual. Maka dari itu, terapi hati lebih penting dibandingkan pemenuhan materi, terlebih di zaman kini yang penuh dengan fitnah-fitnah dunia. Terapi hati memberi kesucian jiwa yang dapat membuahkan kejernihan diri lahir dan batin.

Mengingat hal itu, terapi hati harus dilakukan dengan format yang benar guna tercapainya kesejahteraan, kebahagiaan serta kesucian jiwa yang maksimal. Agama menjadi tonggak serta pedoman manusia untuk mencapai kebaikan, kesejahteraan, kebahagiaan dunia dan akhirat.

Tidak ada cara atau tempat yang lebih baik untuk memurnikan jiwa dan hati, kecuali ilmu yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya.

Dalam Islam batin manusia, terdiri atas dua domain :

Nafsani (kejiwaan, psikis) dan ruhani (ruhaniah). Dalam domain nafsani (kejiwaan) terdapat intelektual dan emosi, yang bisa bermuatan positif dan juga negatif, itulah yang diisyaratkan dalam firman Allah QS. As-Syams / 91 : 7-10):

٧- وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَاۖ

7. Artinya: Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya,

٨- فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ

8. Artinya: Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,

٩- قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ

9. Artinya: Sungguh beruntung orang yang mensucikannya (jiwa itu),

١٠ – وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ

10. Artinya: Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.

“Demi nafs (jiwa) dan penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS. As-Syams / 91 : 7-10).

Wilayah nafsani ini banyak dipengaruhi oleh dunia fisik, karena dekatnya dengan dunia fisik itu. Namun, dia juga mendapatkan pengaruh dari dunia ruhani, karena merupakan stadium menuju dunia ruhani itu. Domain ruhani merupakan bagian terdalam dari diri manusia yang didalamnya tersimpan fitrah dan qalbu.

Fitrah adalah watak kesucian primordial manusia yang cenderung kepada tauhid, kebenaran dan kebaikan. Dengan demikian, warna dasar watak kemanusiaan adalah cenderung kepada Agama dan kebaikan.
Bagi Islam, ruhani, kendati senantiasa menyuarakan kebenaran dan menampilkan kebaikan, hal itu bisa saja tertutup oleh suara-suara kebathilan.

Menurut Psikolog segenap perbuatan yang kita lakukan memberi kesan dan dampak pada hati (emosi).

Ketika kita melakukan perbuatan jelek, maka akibat perbuatan itu akan menutupi kalbu kita. “sebenarnya apa-apa yang mereka lakukan itu menutup hati mereka”. (QS. Al-Muthaffifin:14).

Hati yang terlalu banyak mendengarkan hingar binger dunia material produk peradaban modern akan membuatnya terlupa mendengarkan suara nuraninya sendiri.
Akibatnya orang terjebak pada rasa cemas, ketakutan, kesepian. Dan bukan suatu yang mustahil jika timbul berbagai kecemasan, kegelisahan dan konflik batin yang timbul secara besar-besaran sehingga menimbulkan penyakit yang dinamakan psikosomatik.
Kata psikosomatik berasal dari kata psyche – jiwa dan soma – badan.

Penyakit Psykosomatik

Dalam ilmu kedokteran yang dinamakan dengan istilah tersebut adalah untuk menjelaskan adanya dua hubungan yang erat antara jiwa, hati dan badan. “Jika jiwa berada dalam kondisi yang tidak normal seperti susah, cemas, gelisah dan sebagainya, maka badan turut menderita”. Dalam istilah lain seperti menurut Prof Dadang Hawari, psikosomatik yakni “penyakit atau keluhan pada satu atau beberapa organ dilatar belakangi oleh pikiran dan emosi.”

Sedangkan menurut Dr. Achmad Mubarok MA. : Dalam bukunya Psikologi Qur’ani menjelaskan bahwa “psikosomatik adalah suatu jenis penyakit yang disebabkan oleh faktor-faktor kejiwaan dan sosial seseorang jika emosinya menumpuk dan memuncak. Maka hal itu dapat menyebabkan kekacauan dan kegoncangan dalam dirinya. Jika faktor-faktor yang menyebabkan memuncaknya emosi itu secara berkepanjangan tidak dapat dijauhkan, maka ia dipaksa untuk selalu menekan perasaannya. Maka perasaan tertekan, cemas, kesepian dan kebosanan yang berkepanjangan dapat mempengaruhi kesehatan fisiknya.”

Psikologi Qur’an adalah kajian mengenai aspek psikologis manusia yang terdapat dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an mengandung berbagai konsep psikologis yang relevan untuk kesehatan mental dan perilaku manusia. Beberapa konsep psikologis utama yang terdapat dalam Al-Qur’an adalah: Konsep nafsu (jiwa), Konsep tawakkul (berserah diri), Konsep pengampunan.
Al-Qur’an juga banyak menyentuh aspek psikologis manusia dengan terminologi nafs (jiwa). Al-Qur’an memberikan landasan normatif bagi umat Islam untuk mengatasi permasalahan kepribadian, jauh sebelum ilmu psikologi secara resmi lahir pada tahun 1879.

Jadi psikosomatik dapat disebut sebagai penyakit gabungan antara fisik dan mental, yang dalam bahasa Arab disebut Nafs jasadiyah atau nafs biologiyah. Yang sakit sebenarnya jiwanya tetapi kemudian menjelma dalam bentuk sakit fisik.
Penderita psikosomatik biasanya selalu mengeluh merasa tidak enak badan, jantung berdebar-debar, merasa lemah dan tidak bisa kosentrasi. Wujud psikosomatik bisa dalam bentuk syndrome, trauma, stress, ketergantungan pada obat penenang/ alkohol/ narkotika atau berperilaku menyimpang.
Para Psikiater pernah menjelaskan tentang gejala-gejala yang dialami penderita psikosomatik yaitu gejala-gejalanya antara lain dapat dilihat dari
segi :

  • Dari segi perasaan gejalanya antara lain menunjukkan rasa cemas, gelisah, iri dengki, takut, kuatir, sedih, risau, kecewa, putus asa, bimbang dan marah.
  • Dari segi fikiran dan kecerdasan gejala-gejalanya antara lain menunjukkan sifat lupa dan tidak mampu mengkonsentrasikan fikiran pada suatu pekerjaan karena kemampuan menurun.
  • Dari segi tingkah laku antara lain menunjukkan kelakukan yang menyimpang dan tidak terpuji, seperti suka mengganggu lingkungan, mengambil hak orang lain, menyakiti dan memfitnah orang.

Manusia diciptakan dalam satu sistem yang anggota-anggotanya berhubungan satu dengan yang lain, dimana jika salah satunya mengalami gangguan maka keseluruhan sistem juga akan terganggu. Karena itu kondisi kejiwaan seseorang dapat mempengaruhi tubuhnya, atau dapat dikatakan perubahan emosi seseorang mampu menambah atau mengurangi rasa sakit yang di deritanya.

Kesehatan Holistik

Kesehatan holistik adalah pendekatan hidup yang mempertimbangkan berbagai aspek kesehatan yang multidimensi. Pendekatan ini mendorong individu untuk mengenali pribadi secara menyeluruh: fisik, mental, emosional, sosial, intelektual, dan spiritual.

Keselarasan dan Keseimbangan mind, body, and soul dimana kondisi ketika pikiran, tubuh, dan jiwa berada dalam harmoni. Keseimbangan ini dapat membuat seseorang merasa lebih bahagia, sehat, dan bersemangat. 

Prinsip-prinsip kesehatan holistik merangkum suatu pendekatan terhadap kesehatan yang memandang individu sebagai kesatuan yang terdiri dari tubuh, pikiran, dan jiwa. Prinsip keterkaitan antar dimensi mengajarkan bahwa tubuh, pikiran, dan jiwa saling mempengaruhi secara kompleks, dan perubahan dalam satu aspek dapat berdampak pada dimensi lainnya. Kesehatan holistik menekankan pentingnya memahami bahwa kesehatan fisik, mental, dan spiritual tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Kesehatan mental menjadi aspek yang tak kalah pentingnya dibandingkan dengan kesehatan fisik. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, tekanan, tantangan, dan stres dapat memengaruhi kesejahteraan mental seseorang. Untuk mengatasi hal ini, melakukan muhasabah menjadi salah satu pendekatan yang efektif dalam merawat kesehatan mental dan mencapai keseimbangan dalam hidup.

Aspek kedua dari kehidupan kita adalah dunia fikiran atau kita sebut saja dunia emosi dan mental.

Fikiran tidak sepenuhnya terpisah dari tubuh, tetapi merupakan bagian dari dan berhubungan erat dengan fungsi fisik. Suasana hati dan perasaan yang berasal dari fikiran (emosi, seperti perasaan marah, khawatir dan bahagia) seringkali berpengaruh terhadap tubuh. Apabila salah satu atau beberapa unsur itu dialami maka tekanan darah dapat naik atau turun, keringat tubuh, air mata akan keluar.

Terutama emosi-emosi yang menyertai insting religiuslah yang memberikan pengaruh baik atas jiwa tiap orang bahkan akan melenyapkan emosi-emosi yang memberikan pengaruh buruk. Serta memurnikan emosi-emosi yang menyertai insting seperti keberanian, persahabatan, gotong royong dan tolong menolong. Emosi kikir, misalnya akan lenyap jika emosi pengorbanan atau rela membela dijalan Allah tumbuh. Sifat tidak jujur atau korup, emosi malas, emosi mengejar kemaksiatan atau kenikmatan akan lenyap oleh emosi suci. Emosi marah Bengal, dengki, cemburu akan hilang oleh emosi sabar, hawa nafsu oleh suci, sombong oleh budi pekerti luhur.

Penyakit inilah yang disebut dengan penyakit psikosomatik. Krisis Akhlak pun mempunyai sebab-sebab dalam emosi tercela yang sedang merajalela. Karena emosi itu merupakan kenyataan yang dapat disaksikan dalam tubuh manusia dan dapat dibagi dalam emosi yang negatif dan positif dan emosi yang positif dapat membantu melenyapkan atau menetralkan yang negatif dan menjadi insan dalam insting religious dan akan menjadi bukti nyata bahwa Agama itu bagian yang sangat penting bagi kehidupan manusia.

Jadi, Agama menjadi solusi mujarab bagi penyakit-penyakit yang disebabkan oleh emosi negatif.

Beberapa contoh penyakit psikosomatis adalah: Sindroma lelah kronis, Sindroma hiperventilasi, Sindroma kolon iritabel, Ansietas, Depresi, Gangguan penyesuaian, Dispepsia fungsional, Sindroma fibromyalgia, Nyeri psikogenik, Gangguan tidur, lambung, maag, Gerd dll.

Gejala psikosomatis umumnya muncul ketika penderitanya merasa stres, berada di bawah tekanan, atau saat beban pikiran meningkat. Gejala lain yang bisa muncul adalah:

  • Merasa khawatir secara berlebihan, meskipun mengalami gejala fisik yang ringan
  • Memburuknya penyakit yang sudah ada sebelumnya 

Penyakit Degeneratif dan Lansia

Penyakit degeneratif adalah penyakit kronis yang muncul akibat penurunan fungsi organ atau jaringan tubuh. Penyakit ini cenderung memburuk seiring waktu dan lebih banyak dialami oleh Lansia. Beberapa contoh penyakit degeneratif yang sering menyerang lansia adalah: 

  • Penyakit jantung koroner
  • Diabetes mellitus
  • Stroke
  • Hipertensi: Penyakit kronis degeneratif yang perlu perhatian serius
  • Osteoporosis: Penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kepadatan tulang (tulang keropos)
  • Osteoarthritis (OA) : Penyakit yang timbul akibat kerusakan jaringan tulang rawan yang melapisi tulang, sehingga tulang saling berbenturan ketika digerakkan
  • Penyakit Alzheimer dan Demensia: Penyakit degeneratif yang membuat penderitanya mengalami penurunan daya ingat, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan berpikir.

Penyakit degeneratif dapat menyerang saraf, tulang belakang, sendi, dan otak. Risiko terjadinya penyakit degeneratif pada lansia dapat meningkat jika gaya hidupnya buruk atau terpapar bahan kimia. 

Banyak penyakit yang karena kondisi dan emosi-emosi buruk itu yang tidak mungkin dapat disembuhkan oleh obat.

Lalu bagaimana cara menyembuhkannya?

QS. Al-Qiyamah Ayat 27

وَقِيلَ مَنْ ۜ رَاقٍ

Dan dikatakan (kepadanya), “Siapa yang dapat menyembuhkan?”

Surat Asy-Syu’ara’ Ayat 80

وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ ۙ ٨٠

Apabila aku sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkanku.

Sebagaimana dalam surat Fussilat ayat 44 berikut:

قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هُدًى وَّشِفَاۤءٌۗ

Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman.

Surat Yunus Ayat 57
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada (hati / qolbu) dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Surat Al-Israa ayat 82:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penyembuh dan rahmah bagi orang yang beriman (percaya, yaqin) sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.”

Sebuah penelitian ilmiah membuktikan bahwa Al Qur’an dapat memberikan ketenangan jiwa sehingga dapat meningkatkan ketahanan tubuh, imunologi, mengurangi resiko serangan penyakit jantung dan meningkatkan usia harapan. Sebaliknya jiwa yang merintih, meronta, gelisah dan penuh kemunafikan, gersang. Jika terus menerus dibiarkan dapat menurunkan imunitas tubuh, jantung menjadi lemah sehingga terserang infeksi, kanker dan lainnya.


Tazkiyatun Nafs dalam Penerapan 29 Karakter Luhur

Tazkiyatun nafs juga merupakan upaya psikologis untuk membersihkan berbagai kecenderungan buruk yang ada dalam hati dalam mengatasi konflik batin.

Selain itu, tazkiyatun nafs bisa menjadi sebuah pilihan metode untuk memperbaiki seseorang dalam hal sikap, sifat, kepribadian dan karakter dari tingkat yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi (luhur).

Semakin sering seseorang melakukan tazkiyah pada karakter kepribadiannya, semakin Allah subhanahu wa ta’ala membawanya ke tingkat keimanan yang lebih tinggi.

Metode penyucian jiwa ini di dalamnya terdapat tahapan-tahapan, di antaranya:

  1. Takhalli (pengosongan atau penghapusan jiwa dari akhlak jelek), 
  2. Tahalli (pengisian dan menghiasi diri dengan akhlak terpuji)
  3. Tajalli (terbiasanya suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan).

Cara Melakukan Tazkiyatun Nafs

Ada berbagai cara tazkiyatun nafs, di antaranya banyak berdzikir, menjaga wudhu, sholat, puasa, shodaqoh, infaq, memahami dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an dan Hadits, serta bersungguh-sungguh untuk selalu menjadi orang yang lebih baik dengan tetap beristiqomah dalam beribadah.

Dalam metode ini juga menganjurkan setiap manusia kuat dalam menghadapi cobaan dan kesulitan hidup dengan cara sabar dan sholat.

Islam sendiri memberi ajaran itu kepada manusia lewat Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 153:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Pada dasarnya mengobati hati termasuk dalam ranah di dalam ilmu tazkiyatun nafs. Selain cara-cara di atas, tazkiyatun nafs atau pengobatan hati juga dapat diperoleh dengan mengistirahatkan hati di tempat-tempat yang disebut sebagai pengistirahatan hati, yakni majelis ilmu.

Hal ini dikarenakan dengan duduknya seseorang pada majelis ilmu, maka kemudian lelahnya hati ketika mengikuti dunia, sementara waktu akan diistirahatkan untuk fokus merespons hal-hal mengenai urusan akhirat.

Hanzhalah Al-Usaydi radhiyyallahu ‘anhu, salah seorang juru tulis Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah berkata:

نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ، حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ، فَنَسِينَا كَثِيرًا

Ketika kami berada di sisi Rasulullah, beliau sering mengingatkan kami tentang siksa neraka dan nikmat surga hingga seolah-olah kami melihatnya dengan mata kepala kami sendiri. Akan tetapi, ketika kami keluar dari sisi Rasulullah, maka kami pun berlaku kasar dan jahat kepada istri dan anak-anak kami serta sering melakukan perbuatan yang tidak berguna.  Jadi saya sering bersikap lengah,” (HR Muslim).

Berdasarkan hadits di atas, dapat dipahami bahwa dekat dengan majelis ilmu dan berkumpul dengan orang-orang sholeh akan selalu mengingatkan umat Islam tentang eksistensi akhirat, yakni surga dan neraka. 

Cara mengatasi penyakit hati adalah:

  • Hati yang Pasrah dan Ikhlas karena Allah
  • Membaca Al-Qur’an dan tadabbur (merenungkan maknanya)
  • Rajin mengosongkan perut (shaum)
  • Mendirikan shalat malam (tahajud)
  • Infaq dan Shodaqoh
  • Taubat Nasuha dan Merendahkan diri di hadapan Allah
  • Do’a dan Dzikir 
  • Ruqyah Mandiri
  • Merutinkan “Amalan Andalan”

Pasrah dan Ikhlas

Tawakal (Pasrah) memberikan efek, bukan saja pada kehidupan sosial, bermasyarakat dan berbangsa, bahkan tawakal melestarikan jaminan berkah dan keselamatan jasmani dan rohani kemanusiaan individu dengan efisien. Tawakal adalah Perwujudan nyata kekurangan menjadi kecukupan, penyempurnaan amalan dan spiritualitas secara komprehensif daripada anugerah yang ditawarkan Allah SWT kepada para mutawakil. Alquran menjelaskan,

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. (Ath-Thalaq)

Dengan menyandarkan, menyerahkan diri, dan berlaku ikhlas karena Allah dalam ibadah, Allah membukakan pintu nikmat dan keberkahan, memberikan anugerah spiritual dengan lenyap dan hilangnya rasa takut, kekhawatiran, kesakitan, dan kekurangan harta yang jadi ujian kehidupan di masa lalu. Allah Ta’ala menukar kesulitan dan kesusahan menjadi maslahat-maslahat dan manfaat-manfaat yang besar bagi mutawakil yang ikhlasul amal. Perbuatan, tindakan, dan perilaku mutawakil yang ikhlas merupakan model psikoterapi Islam yang mampu melenyapkan ketegangan, kesulitan, kesusahan, kegalauan, stres, frustrasi, traumatik, psikosis, dan psikoneorosis yang menghadang individu kemanusiaan.

Pasrah atau Tawakal sebagai bagian dari ibadah juga menunjukkan bahwa tawakal bukanlah sekadar sikap pasrah tanpa usaha yang berarti, melainkan bagian penting dari ibadah yang dilakukan oleh umat Islam. Dalam Islam, tawakal tidak boleh dipisahkan dari ibadah lainnya seperti salat, puasa, dan sedekah. Dengan melakukan tawakal, seseorang menunjukkan ketaatan dan ketergantungan sepenuhnya kepada Allah SWT, sehingga meningkatkan nilai ibadahnya di hadapan-Nya. Tawakal juga memperkuat ikatan spiritual antara hamba dengan Allah SWT, sehingga membantu seseorang untuk lebih ikhlas dan tawaduk dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Salah satu kata yang sederhana namun cukup sulit dilakukan oleh sebagian besar orang. Dalam menghadapi ujian kehidupan yang berat seperti sakit, kehilangan orang yang dicintai, salah satu cara kita bertawakal adalah menerima takdir Allah SWT dengan ikhlas dan tetap kuat dari cobaan tersebut.

Ikhlas menerima Qodar Allah adalah salah satu cara untuk menjalani hidup dengan tenang dan damai. Dalam Islam, umat Muslim diyakini bahwa takdir Allah adalah yang terbaik untuk hamba-Nya, meskipun tidak selalu sesuai harapan. 

Berikut beberapa cara untuk menerima Qodar Allah dengan ikhlas: 

  • Yakin dan Ridha: Yakin bahwa Allah SWT memiliki rencana terbaik untuk hamba-Nya, baik itu kemiskinan, kekayaan, sehat, sakit, kegagalan, atau kesuksesan. 
  • Berpikir positif: Berpikir positif dapat membantu mengambil keputusan tepat dan membuat hati lebih bersemangat. 
  • Memohon pertolongan kepada Allah SWT: Allah SWT menyukai hamba-Nya yang selalu memperbaiki diri dan memohon ampunan. 
  • Berlapang dada: Tidak semua yang diinginkan adalah yang terbaik menurut Allah. 
  • Menerima keadaan tanpa mengeluh dan membenci; Sesulit apapun keadaan, kondisikan hatimu untuk menerima keadaan tanpa membenci. 
4 MAQODIRULLOH
  1. Apabila di Qodar mendapatkan nikmat bisa bersyukur
  2. Apabila di Qodar mendapatkan musibah bisa istirja’
  3. Apabila di Qodar mendapatkan cobaan, bisa sabar
  4. Apabila di Qodar salah bisa bertaubat

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ ألفِ سَنةٍ رواه مسلم

“Allah telah menulis taqdir/ qodar para makhluk, lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”

Syukur

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدُ. سورة إبراهيم : ٧

“Seandainya kalian bersyukur pasti Aku (Alloh) menambah nikmat kepada kalian dan seandainya kalian kufur sesungguhnya siksaKu amat berat.”

Syukur merupakan paradigma yang menurut para ahli adalah pola pikir, konsep dasar atau sebuah keyakinan. Bersyukur menjadi salah satu hal yang wajib bagi umat islam. Allah berfirman:
“Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (Qs. Al Baqarah: 152)
Setiap orang memiliki paradigma yang berbeda-beda tentang bersyukur.

Bersyukur merupakan salah satu tali keimanan. Maksudnya dengan bersyukur membuat seorang mukmin tidak mudah terjerumus dalam perbuatan maksiat, karena bersyukur membuat seseorang menjadi lebih sabar. Dilansir dalam majalah Time, penelitian dari Northeast University menemukan bahwa orang mensyukuri hal-hal remeh setiap harinya menjadikan seseorang lebih sabar dan mampu membuat keputusan yang rasional, dibandingkan yang tidak bersyukur.
 
Dari sisi kesehatan, bersyukur juga membuat orang dapat menghargai dirinya sendiri. Para peneliti menemukan hubungan tingkatan dalam bersyukur terhadap kesehatan secara fisik dan psikologis, serta kebiasaan yang berdampak bagi kesehatan seperti olahraga dan menjalankan gaya hidup sehat dan rutinitas cek kesehatan, menunjukkan adanya pengaruh positif. Hal tersebut menunjukkan bersyukur dapat membuat orang lebih menghargai dirinya sendiri, berdasarkan pernyataan jurnal yang dirilis Personality and Individual Differences.
Kurangnya rasa syukur pada akhirnya memicu depresi dan ketidak bahagiaan individu, karena seseorang selalu merasa dirinya gagal mencapai hal yang lebih dibandingkan orang lain. Di zaman ini, sosial media seperti dua mata pisau. Selain memberikan pengaruh positif, social media juga memberikan pengaruh negatif bagi orang yang belum bijak dalam menggunakannya.
Beberapa orang terobsesi membandingkan kehidupan dirinya dengan kehidupan orang lain karena sosial media. Padahal apa yang diperlihatkan seseorang di sosial media terkadang berbanding terbalik dengan kenyataan. Bahkan, tanpa dia sadari banyak orang lain tidak memiliki kehidupan yang sekarang dia jalani.
Dalam Al-Quran, Allah berfirman:
“Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa yang kufur (tidak bersukur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (Qs. Luqman : 12).
Sebuah riset menunjukkan adanya penurunan gejala depresi pada orang yang bersyukur. Dalam jurnal yang berjudul ‘Strength-Based Positive Interventions: Further Evidence for Their Potential in Enhancing Well-Being and Alleviating Depression’ menjelaskan pengaruh intervensi positif dan penurunan gejala depresi. Menurut Gander et al (2012) kebahagiaan dan gejala depresi dapat diubah ke arah yang diinginkan melalui berbagai intervensi positif.
Eksperimen dilakukan dengan cara peserta diminta untuk menuliskan tiga hal yang berjalan baik dan menyenangkan bagi mereka dan menjelaskan mengapa hal-hal itu terjadi dalam sehari selama seminggu. Hasilnya menunjukkan orang yang bersyukur berhasil meningkatkan kebahagiaan dan menurunkan gejala depresi mereka dari waktu ke waktu.
Selain itu, bersyukur dapat meningkatkan peluang kesuksesan individu. Dilansir dari CNBC.com, penelitian ilmiah dari psikolog terkemuka menunjukkan bahwa orang yang bersyukur lebih cenderung bahagia dan sukses. Hal tersebut dikarenakan kebahagiaan memainkan peran penting dalam karir dan bisnis. Orang yang positif cenderung akan mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik dan mendapat evaluasi yang menguntungkan, dibandingkan yang tidak. Pernyataan tersebut juga didukung dalam sebuah jurnal Psikologi bertajuk ‘Does Savoring Increase Happiness? A Daily Diary Study’.
Allah sejatinya telah memberikan kita banyak kenikmatan. Mulai dari nikmat sehat yang selalu kita sepelekan, kewarasan yang mungkin tidak pernah kita bayangkan bagaimana jika Allah menakdirkan kita hilang akal dan juga tanpa kita sadari menyia-nyiakan waktu senggang untuk melakukan hal yang tidak bermanfaat. Masih banyak lagi kenikmatan yang telah Allah berikan.
Bagian terpentingnya bahwa Allah tidak memerintahkan hambanya untuk menghitung semua kenikmatan tersebut, melainkan cukup untuk disyukuri. Allah berfirman:

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An Nahl: 18)

Doa Mensyukuri Nikmat ALLAH

رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصّٰلِحِينَ ..

”Ya Tuhanku, berikanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhoi dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu kedalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh.” (QS. An-Naml : 19)

Berdo’a

Doa Nabi Ayyub

Berikut doa Nabi Ayyub ‘alaihissalam yang diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Al-Anbiya Ayat 83. Beliau sembuh dari penyakit yang dideritanya selama belasan tahun berkat doa ini dan izin Allah.

اللَّهُمَّ اَنِّىۡ مَسَّنِىَ الضُّرُّ وَاَنۡتَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِيۡنَ

“Ya Allah Tuhanku, sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua penyayang.”

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Allah aku minta pada Engkau ampunan dan kesehatan di dunia dan akhirat. Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat dan jauhkan kami dari api neraka”.

Tahlil ketika sakit

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Doa mohon kesehatan anggota badan

اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي جَسَدِي وَعَافِنِي فِي بَصَرِي وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنِّي لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ya Allah, sehatkanlah aku dalam tubuhku, ya Allah sehatkankan aku dalam pandanganku, dan jadikan itu sebagai warisan dariku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah yang Maha lembut dan Mulia, Maha Suci Allah Tuhan Pemilik ‘arsy yang agung, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam

Berlindung dari syirik

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ‏.‏

Artinya “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku sadari. Dan, aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui”. 

Berlindung dari Munafik:

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ النِّفَاقِ وَعَمَلِي مِنَ الرِّيَاءِ وَ لِسَانِي مِنَ الْكَذِبِ وَعَيْنِي مِنَ الْخِيَانَةِ إِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الأَعْيُنِ وَمَا تُخْفى الصُّدُوْرِ

Artinya: “Ya Allah, sucikanlah hatiku dari kemunafikan, amal perbuatanku dari pamer, lidah dan ucapanku dari kebohongan, dan sucikan mataku dari khianat. Sesungguhnya, Engkau mengetahui pandangan mata yang khianat dan mengetahui apa saja yang tersembungyi dalam hati.”

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الشِّقَاقِ، وَالنِّفَاقِ، وَسُوءِ الْأَخْلَاقِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perselisihan, kemunafikan, dan akhlak yang buruk.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i)

Doa ketetapan hati

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Artinya: “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku atas agamaMu.”

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Karunia.” (QS Al Imran ayat 8)

Berdzikir Istighfar

“Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir).

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

Beruntunglah bagi orang yang mendapatkan di dalam catatan amalnya istighfar yg banyak.

  • Ibnu Majah, kitab Adab, bab Istighfar, juz 3, no. 3818, Kitab Himpunan Ahkam dan Sunah, halaman 47

مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barang siapa yang membiasakan membaca istighfar, meminta ampun kepada Allah, maka Allah akan menjadikan keluasan baginya dari tiap kesusahan, (termasuk cita-cita), kelonggaran, jalan keluar dari setiap kesempitan & Allah akan memberinya rezeqi yang tidak ia sangka-sangka.

  • Ibnu Majah, kitab Adab, bab Istighfar, juz 3, no. 3819, Kitab Himpunan Ahkam dan Sunah, halaman 47

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Rosulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah pasti akan selalu memberikannya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelapangan dari segala kegundahan, serta Allah akan memberikan rezeqi kepadanya dari arah yg tidak ia sangka-sangka.”

  • Abu Daud, kitab sholat bab penjelasan tentang istighfar, no. 1297.

Membaca Do’a Raja Istighfar

Membaca Al Qur’an

QS. Al-Anfal Ayat 2:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”

QS. Al-A’raf Ayat 204
وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

” Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.”

MEMBACA SURAT AL-BAQARAH

عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: اقْرَؤُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلا يَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ   رواه مسلم

Dari Abu Umâmah al-Bâhili Radhiyallahu anhu dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bacalah surah al-Baqarah, karena sesungguhnya selalu menetapinya mendatangkan keberkahan, sedangkan meninggalkannya akan mengakibatkan penyesalan, dan para tukang sihir tidak akan mampu melakukannya. [HR. Muslim]

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan membaca dan merenungkan surah al-Baqarah, sehingga Imam an-Nawawi rahimahullah mencantumkan hadits ini dalam bab: Keutamaan Membaca al-Qur’an Dan Membaca Surah al-Baqarah.

Yang dimaksud dengan selalu menetapi surah ini adalah merutinkan membacanya, memahami kandungan dan mengamalkannya.
Arti ‘meninggalkannya akan mengakibatkan penyesalan’ adalah penyesalan dan kerugian karena luputnya pahala dan keutamaan yang agung dengan selalu menetapinya.
Adapun makna ‘para tukang sihir tidak akan mampu melakukannya’ yaitu mereka tidak akan mampu menghafal surah ini, atau mereka tidak akan mampu mengganggu orang yang selalu membacanya.
Kata al-bathalah (para pelaku kebatilan atau kerusakan) dalam hadits ini artinya adalah para pelaku sihir, sebagaimana yang ditafsirkan oleh salah seorang rawi hadits ini,[6] dan penafsiran ini benar, karena mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat syirik dan kerusakan di muka bumi.
Diantara Keutamaan Surah al-Baqarah
Dalam hadits-hadits shahih yang lain banyak dijelaskan keutamaan surah al-Baqarah atau keutamaan ayat-ayat tertentu di dalam surah ini, diantaranya:

1.Menjauhkan rumah dan anggota keluarga dari keburukan dan tipu daya setan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ

Janganlah kamu menjadikan rumahmu (seperti) kuburan (dengan tidak pernah mengerjakan shalat dan membaca al-Qur’an di dalamnya), sesungguhnya syaitan akan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat al-Baqarah.
Dalam lafazh riwayat at-Tirmidzi: “…Sesungguhnya syaitan tidak akan masuk ke rumah yang dibaca di dalamnya surat al-Baqarah”

2. Di dalam surah ini terdapat ayat al-Kursi yang merupakan ayat paling agung dalam al-Qur’an.
Dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu beliau berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (kepadaku):

يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيَّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ قَالَ فَضَرَبَ فِي صَدْرِي وَقَالَ وَاللهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ

Wahai Abul Mundzir, apakah kamu mengetahui ayat apakah yang paling agung dalam a-Qur’an yang ada padamu (yang kamu hafal)?”. Maka aku berkata: “(Ayat al-Kursi) Allah tidak ada sembahan yang benar kecuali Dia Yang Maha Hidup lagi Berdiri sendiri dan menegakkan makhluk-Nya…” (al-Baqarah: 255). Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk dadaku dan bersabda: “Demi Allah, ilmu akan menjadi kesenangan bagimu, wahai Abul Mundzir!”

3. Dua ayat terakhir dari surah ini merupakan sebab dicukupkannya seorang hamba dari segala keburukan dan dimudahkan baginya banyak kebaikan
Dari Abu Mas’ud al-Badri Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ مَنْ قَرَأَهُمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

Dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah, barangsiapa yang membacanya di malam hari maka dua ayat tersebut akan mencukupi baginya”

Sholat Tasbih

Sholat Tasbih dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk dilaksanakan, baik sekali seumur hidup atau setiap hari. Sholat tasbih dapat dilakukan kapan saja, baik siang hari maupun malam hari, sepanjang tidak pada waktu yang dilarang untuk sholat.  

Sholat tasbih memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

  • Menghapus dosa: Sholat tasbih dapat menghapus dosa yang dilakukan, baik yang disengaja maupun tidak.  
  • Memberatkan timbangan amal baik: Sholat tasbih dapat memberatkan timbangan amal baik di akhirat sehingga umat Islam dapat masuk surga.  
  • Mendapatkan kebun kurma di surga: Sholat tasbih dapat membuat umat Islam mendapatkan kebun kurma di surga.  
  • Mendekatkan diri kepada Allah: Kalimat tasbih yang dibaca sebanyak 300 kali dalam sholat tasbih dapat mendekatkan diri kepada Allah.  
  • Menenangkan jiwa dan pikiran: Sholat tasbih dapat membuat jiwa dan pikiran tenang.  
  • Meningkatkan konsentrasi: Sholat tasbih dapat membantu meningkatkan konsentrasi dan memperkuat pikiran dan jiwa.  

Hadist Sholat Tasbih

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Abbas bin Abdil Muththalib :”Wahai Abbas, wahai pamanku, maukah engkau jika aku memberimu ? Maukah engkau jika aku menyantunimu? Maukah engkau jika aku menghadiahkanmu? Maukah engkau jika aku berbuat sesuatu terhadapmu? Ada sepuluh kriteria, yang jika engkau mengerjakan hal tersebut, maka Allah akan memberikan ampunan kepadamu atas dosa-dosamu, yang pertama dan yang paling terakhir, yang sudah lama maupun yang baru, tidak sengaja maupun yang disengaja, kecil maupun besar, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Sepuluh kriteria itu adalah : Hendaklah engkau mengerjakan shalat empat rakaat ; yang pada setiap rakaat engkau membaca surat al-Fatihah dan satu surat lainnya. Dan jika engkau sudah selesai membaca di rakaat pertama sedang engkau masih dalam keadaan berdiri, hendaklah engkau mengucapkan :

(سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ )

Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Ilah (yang haq) selain Allah, dan Allah Maha Besar sebanyak lima belas kali.

Kemudian ruku, lalu egkau membacanya sepuluh kali sedang engkau dalam keadaan ruku. Lalu mengangkat kepalamu dari ruku seraya mengucapkannya sepuluh kali. Selanjutnya, turun bersujud, lalu membacanya sepuluh kali ketika dalam keadaan sujud. Setelah itu, mengangkat kepalamu dari sujud seraya mengucapkannya sepuluh kali. Kemudian bersujud lagi dan mengucapkannnya sepuluh kali. Selanjutnya, mengangkat kepalamu seraya mengucapkannya sepuluh kali. Demikian itulah tujuh puluh lima kali setiap rakaat. Dan engkau melakukan hal tersebut pada empat raka’at, jika engkau mampu mengerjakannya setiap hari satu kali, maka kerjakanlah. Dan jika engkau tidak bisa mengerjakannya setiap hari maka kerjakanlah setiap jum’at satu kali. Dan jika tidak bisa, maka kerjakanlah sekali setiap bulan. Dan jika tidak bisa, maka kerjakanlah satu kali setiap tahun. Dan jika tidak bisa juga, maka kerjakanlah satu kali selama hidupmu” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Muhasabah

Muhasabah atau Mindfulness merupakan suatu terapi yang dilakukan seseorang dengan cara fokus untuk menyadari masalah yang sedang dihadapi, menerimanya dengan lapang dada tanpa melakukan penilaian yang negatif dan juga tidak bereaksi berlebihan. Mindfulness spiritual Islam didefinisikan sebagai suatu terapi yang melibatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Tuhan yang Maha kuasa dalam setiap proses (mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala) dengan tujuan membantu individu untuk secara sadar memahami kondisi atau pengalaman yang dihadapi bukan sebagai kebetulan tetapi peristiwa dibuat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang menerima kondisi yang dialami dengan penuh lapang dada, menemukan maksud serta tujuan dan cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi sesuai dengan aturan Islam. Individu yang mindful melakukan sesuatu dengan penuh kesadaran dan berusaha meningkatkan kemampuan mereka untuk menyelesaikan masalah.

Firman Allah dalam Surat al-Hasyar ayat 18:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ۝١٨

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini menekankan pentingnya introspeksi diri dan kesadaran akan tindakan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Allah mengingatkan umat Islam untuk selalu bertakwa dan memperhatikan perbuatan mereka sebagai persiapan menghadapi hari akhirat.

Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu berkata :

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوها قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَأهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ

“Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal”

Tahapan Muhasabah Diri (Mindfulness Spiritual Islam)

  • Momen kesadaran untuk Berubah dengan istighfar

Pada tahap pertama seorang individu harus memiliki niat,niat merupakan energi spiritual dan ruhul ibadah. Niat akan memunculkan keinginan atau dorongan hati sesuai dengan kebutuhan dirinya yang dipanjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

  • Check tentang dosa

Kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari perbuatan dosa dan kesalahan, baik yang tidak disengaja bahkan ada yang melakukannya dengan sengaja. Meskipun demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memerintahkan umat manusia untuk berusaha menjauhi segala perbuatan dosa atau kemaksiatan dan tidak menyepelekan kemaksiatan sekalipun itu adalah dosa kecil, yaitu dengan senantiasa bertaubat dan memohon ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala jika telah terlanjur melakukannya. Sebagaimana terdapat potongan dari salah satu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu). (Q.S Asy Syura: [42] 30)

مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا

Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi. (Q.S an-nisa: [4] 79)

  • Body scan

Body scan adalah berpikir serius dan cermat atau merenungkan tentang karakter, perilaku, emosi, dan motif yang ada pada diri sendiri. Saat melakukan Body scan Anda akan melihat ke belakang mengenai hal-hal yang Anda lakukan pada masa lalu, yang merefleksikan hidup Anda hingga saat ini.

Tindakan ini memberi kesempatan kepada otak untuk berhenti sejenak dari berbagai pemikiran yang kacau. Selama beristirahat, Anda akan memilah-milah berbagai pengalaman yang pernah terjadi serta mengevaluasi pengalaman tersebut. Evaluasi inilah yang kemudian menjadi pembelajaran bagi Anda untuk menentukan pola pikir dan perilaku yang baik.

Berpuasa

Puasa Sunnah yang paling disukai Allah, Rasulullah ﷺ dalam sabdanya;

“إِنْ أَحَبَّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صلاةُ داودَ، كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ، كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا. وَلَا يَفر إِذَا لَاقَى”.

“Sesungguhnya salat yang paling disukai oleh Allah adalah salatnya Nabi Daud; dia tidur hingga pertengahan malam, lalu berdiri (salat) sepertiganya dan tidur seperenamnya. Dan puasa yang paling disukai Allah adalah puasanya Nabi Daud; dia puasa sehari dan berbuka sehari, dan apabila berperang Daud tidak pernah lari dari medan perang.” (HR al-Bukhari) 

Ruqyah Syar’iyyah Mandiri

Ruqyah merupakan cara menyembuhkan penyakit dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan niat untuk melindungi dan menyembuhkan diri. Dengan demikian ruqyah mandiri adalah upaya pertama yang dapat dilakukan seseorang agar terhindar dari gangguan jin dan syetan.

Dalam Hadits ruqyah diperbolehkan yang dalam pengobatannya menggunakan firman dan nama-nama-Nya. Hal senada juga diungkapkan dalam beberapa hadits, tidak ada masalah meruqyah menggunakan firman Allah karena hal tersebut bagian dari berdzikir kepada Allah SWT.

Doa yang dibaca Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad ketika sakit adalah:

بِسْمِ اللّٰهِ اَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَىءٍيُؤْذِيْكَ, مِنْ شَرِّكُلِّ نَفْسٍ اَوْعَيْنِ حَاسِدٍ, اَللّٰهُ يَشْفِيْكَ بِسْمِ اللّٰهِ اَرْقِيْكَ

“Dengan menyebut asma Allah aku me-ruqyahmu dari semua gangguan yang menyakitimu, dari kejahatan semua jiwa atau ain (mata) yang dengki, semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan asma Allah aku me-ruqyahmu.” (HR Muslim, Ibnu Majah).

Praktik ruqyah mandiri pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Sebelum tidur, Rasulullah SAW biasa meruqyah dirinya sendiri dengan membaca beberapa surat, sebagaimana sabda beliau:

كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Artinya: “Nabi Muhammad SAW saat berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan itu ditiup dan dibacakan: ‘Qul huwallahu ahad’ (surah Al-Ikhlas), ‘Qul a’udzu birobbil falaq’ (surah Al-Falaq), dan ‘Qul a’udzu birobbin naas’ (surah An Naas). Setelah itu beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Rasulullah SAW melakukan hal itu sebanyak tiga kali.”
(HR Bukhari, No. 5017)

Untuk mengusir setan dan jin, dapat melakukan beberapa hal, seperti:

  • Membaca Surat An-Nas, Al Baqarah dan surat Al Qur’an lainnya sebagai zikir dan doa. Surat-surat mengandung makna yang berkaitan dengan hati.  
  • Melakukan Ruqyah Syar’iyyah dan prosesi pendukungnya.  
  • Memperkuat keyakinan kepada Allah.  
  • Berpuasa diri (qana’ah) akan karunia dan nikmat yang telah diberikan Allah.  
  • Menjaga diri dengan mengamalkan amalan agama sebagaimana petunjuk Allah SWT dan Contoh Rasulullah SAW.  

وقال صلى الله عليه وسلم فَقِيْهٌ وَاحِدٌ مُتَوَارِعٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ مُجْتَهِدٍ جَاهِلٍ وَارِعٍ

Rasulullah SAW Bersabda: Seorang faqih (alim dalam ilmu agama), wira’i (menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan) adalah lebih berat (sulit) bagi syaitan dibanding seribu ahli ibadah yang bersungguh-sungguh, (tapi) bodoh, (meskipun) wira’i.

Istiqomah dalam Amalan Andalan

Rasul SAW bersabda:

أحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى الله أَدْوَمُهَا وَ إِنْقَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah SWT yaitu yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit,” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari penjelasan Hadits diatas, keberlanjutan sebuah amal kebaikan itu penting karena menunjukkan konsistensi dari niat dan keteguhan dalam berbuat. Di sini, kualitas sebuah perbuatan tidak dinilai dari jenis kebaikannya tapi kesinambungannya. Amal baik akan melahirkan amal baik berikutnya.

Oleh karenanya, pengamalan tentang hal ini harus terus diulang-ulang, dikaji dan disampaikan dalam kajian-kajian dan tulisan dalam rangka saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran, sebab terkadang seseorang tidak mengetahui bahwa dirinya terjangkit penyakit hati. Adapun orang-orang yang dapat mengetahui bahwa ia terjangkit penyakit hati adalah dirinya sendiri dan Allah.

Thibbun Nabawi dan Obat Medis

Diriwayatkan oleh Imam Muslim:
عن جابر بن عبد االله لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أَصَابَ الدَّوَاءُ الدَّاءَ، بـَرَأَ بِإِذْنِ االلهِ عَزَّ وَجَلَّ

Artinya:
“Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Allah SWT.

Ada lima jenis obat yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Selain aman dikonsumsi dan bermanfaat bagi kesehatan, kelimanya dapat menyembuhkan penyakit tertentu.

Madu

Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 68-69 menyebutkan, “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan ditempat yang dibuat manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang dimudahkan bagimu. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.”

Madu dapat digunakan untuk mengobati beraneka ragam penyakit seperti thypus, penurunan fungsi usus dan lambung yang disertai muntaber, lever kronis, impotensi umum, keracunan karena tertahannya air kencing, atau karena zat eksternal seperti zirnikh.

Kurma

Kurma sangat baik untuk dikonsumsi oleh ibu hamil. Hal ini karena kurma kaya akan zat besi untuk mencegah anemia, kalsium untuk memperkuat tulang dan gigi janin, serta fosfor untuk menutrisi sel otak dan sel reproduksi bagi wanita hamil.

Dalam hadits Riwayat Muslim, Rasulullah saw. Bersabda, “Barang siapa yang sarapan dengan tujuh butir kurma Ajwa setiap pagi akan terhindar dari bahaya racun dan sihir.”

Minyak Zaitun

“Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api…” (QS. An-Nur, 35)

Imam Al-Qurtubi mengatakan zaitun memiliki banyak manfaat terutama dalam bentuk ekstrak minyak. Beberapa manfaat minyak zaitun, di antaranya mencegah penyakit kulit dan kanker payudara, kanker rahim, kanker perut dan usus besar apabila dikonsumsi satu sendok setiap hari. Kemudian juga dapat menurunkan kadar kolesterol dan mengurangi tekanan darah tinggi.

Habatussauda (Jintan Hitam)

Habbatussauda atau jintan hitam memiliki banyak manfaat, seperti menguatkan sistem kekebalan tubuh, menetralisir racun hingga anti stres. Keistimewaan jintan hitam ini juga tertulis di dalam salah satu riwayat hadist, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, “Sesungguhnya di dalam Habbatussauda (jintan hitam) terdapat penyembuh bagi segala macam penyakit, kecuali kematian.” (HR Bukhori dan Muslim)

Jahe

Jahe sejenis tanaman rumput-rumputan aromatik yang berumur panjang. Tanaman ini disebutkan dalam Al-Qur’an, surat Al Insan ayat 17. “Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe.”

Jahe memiliki banyak khasiat, khususnya dalam mengobati organ pernapasan seperti asma, batuk, dan meluruhkan dahak. Selain itu, tanaman ini juga dipercaya dapat mengobati radang gusi, dan mencegah karies, meredakan radang sendi akibat cuaca dingin, mengatasi impotensi, lemah syahwat, mengatasi radang anus akibat sembelit akut, memperkuat otot jantung, mencegah terjadinya penggumpalan darah, serta mencegah penyumbatan jantung dan otak.

Daun Bidara

Daun bidara dipercaya memiliki khasiat untuk meruqyah tubuh dan mengusir jin. Dalam Al-Qur’an, daun bidara disebut sebagai daun Sidr yang disebutkan dalam surah Saba’ ayat 26 dan surah Al Waqi’ah ayat 28. 

Selain untuk meruqyah, daun bidara juga memiliki banyak manfaat lain, seperti:

  • Mengobati penyakit akibat bakteri atau virus
  • Mengobati penyakit lambung
  • Mencegah dan mengobati penyakit kardiovaskuler
  • Mengobati penyakit diabetes melitus
  • Mengobati masalah mulut, seperti sariawan, bibir pecah-pecah, gusi berdarah
  • Mencegah dan mengobati penyakit pertumbuhan jaringan abnormal, seperti kanker, tumor, kista
  • Mengobati luka, baik luka baru ataupun luka yang sudah lama 

Ruqyah termasuk dalam pengobatan Thibbun Nabawi. Thibbun Nabawi adalah metode pengobatan yang bersumber dari ajaran Islam, khususnya Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Ruqyah merupakan bagian dari thibbul qulub atau thibbur ruhani, yang bersandar pada wahyu Ilahi.  

Selain ruqyah, beberapa metode pengobatan Thibbun Nabawi lainnya adalah: Bekam, Mengonsumsi madu, Mengonsumsi habbatus sauda (jinten hitam), Menggunakan minyak zaitun, Mempergunakan siwak (miswak).  

Menjaga pola makan yang sehat

Dalam hadits dijelaskan bahwa perut adalah “wadah terburuk” yang diisi.

ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه

“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk yaitu perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas”

Karenanya kita diperintahkan agar mengontrol makanan, bukan sekedar untuk memuaskan nafsu mulut dan perut.

Thibbun Nabawi dan Tazkiyatun Nafs merupakan terapi penyembuhan yang bisa dipadukan dengan ilmu kedokteran dan pengobatan medis. 

Dalam Islam, kesehatan dipandang sebagai anugerah dari Allah SWT yang harus dijaga dan dipelihara. Pengobatan Thibbun Nabawi bukan hanya usaha fisik, tetapi juga spiritual. 

اللَّهُمَّ أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah. Engkau adalah Sang Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit.”

Rangkuman

Konsep kesehatan holistik ala Rasulullah SAW mencakup aspek fisik, mental, spiritual, dan sosial. Berikut beberapa prinsip dan praktiknya:

Aspek Fisik

  1. Makanan seimbang: Mengonsumsi makanan yang halal, bergizi, dan tidak berlebihan (QS. Al-A’raf: 31).
  2. Puasa: Melakukan puasa untuk menjaga kesehatan dan kesabaran (QS. Al-Baqarah: 183-185).
  3. Olahraga: Melakukan aktivitas fisik seperti berjalan, berlari, dan berenang (HR. Bukhari).
  4. Tidur yang cukup: Mengatur waktu tidur untuk menjaga kesehatan (HR. Bukhari).
  5. Kebersihan: Menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan (QS. Al-Muddassir: 4-5).

Aspek Mental

  1. Zikir dan doa: Melakukan zikir dan doa untuk menjaga ketenangan jiwa (QS. Ar-Ra’d: 28-29).
  2. Sabar dan syukur: Mengembangkan sifat sabar dan syukur dalam menghadapi kesulitan (QS. Al-Baqarah: 143).
  3. Mengelola emosi: Mengendalikan emosi negatif seperti marah dan dengki (HR. Bukhari).
  4. Membaca Al-Qur’an: Membaca dan memahami Al-Qur’an untuk menjaga kesehatan mental (QS. Al-Isra’: 82).

Aspek Spiritual

  1. Koneksi dengan Allah: Meningkatkan koneksi dengan Allah melalui ibadah dan doa (QS. Al-Baqarah: 186).
  2. Mengembangkan iman: Meningkatkan iman dan takwa kepada Allah (QS. Al-Hujurat: 10).
  3. Menghindari dosa: Menghindari perbuatan dosa dan maksiat (QS. Al-A’raf: 204).
  4. Berbuat baik: Melakukan kebaikan dan kebajikan kepada sesama (QS. Al-Baqarah: 195).

Aspek Sosial

  1. Silaturahmi: Membina hubungan baik dengan keluarga dan tetangga (QS. Al-Hujurat: 10).
  2. Gotong royong: Bekerja sama dan saling membantu (QS. Al-Ma’idah: 2).
  3. Menghormati orang lain: Menghormati dan menghargai orang lain (QS. Al-Hujurat: 11-12).
  4. Berkontribusi pada masyarakat: Berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat (QS. Al-Baqarah: 195).

Sumber:

  • Al-Qur’an
  • Al Hadits
  • Kitab-kitab kesehatan Islam

Semoga informasi ini bermanfaat!