HERBAL SUNNAH PIL Ajaib “MySaipress” (Biosaipress)
Terdaftar : BPOM TR183321921
HERBAL SUNNAH PIL Ajaib “MySaipress” (Biosaipress)
Terdaftar : BPOM TR183321921

Berada dalam aliran darah dan cairan non-seluler, antibodi mengi-katkan diri kepada bakteri dan virus penyebab penyakit. Mereka menan-dai molekul-molekul asing tempat mereka mengikatkan diri. Dengan demikian sel prajurit tubuh dapat membedakan sekaligus melumpuh-kannya, layaknya tank yang hancur dan tak dapat bergerak atau melepas-kan tembakan setelah dihantam rudal saat pertempuran. Antibodi bersesuaian dengan musuhnya (antigen) secara sempurna, seperti anak kunci dengan lubangnya yang dipasang dalam struktur tiga dimensi.
Tubuh manusia mampu memproduksi masing-masing antibodi yang cocok untuk hampir setiap musuh yang dihadapinya. Antibodi bukan berjenis tunggal. Sesuai dengan struktur setiap musuh, maka tu-buh menciptakan antibodi khusus yang cukup kuat untuk meng-hadapi si musuh. Hal ini karena antibodi yang dihasilkan untuk suatu penyakit belum tentu mangkus bagi penyakit lainnya.
Membuat antibodi spesifik untuk masing-masing musuh merupa-kan proses yang luar biasa, dan pantas dicermati. Proses ini dapat ter-wujud hanya jika sel-sel B mengenal struktur musuhnya dengan baik. Dan, di alam ini terdapat jutaan musuh (antigen).
Hal ini seperti membuat masing-masing kunci untuk jutaan lubang kunci. Perlu diingat, dalam hal ini si pembuat kunci harus mengerjakan-nya tanpa mengukur kunci atau menggunakan cetakan apa pun. Dia mengetahui polanya berdasarkan perasaan.
Adalah sulit bagi seseorang untuk mengingat pola kunci, walau cu-ma satu. Jadi, apakah mungkin seseorang mampu mengingat desain tiga dimensi dari masing-masing kunci yang sesuai untuk membuka jutaan lubang kunci? Tentu saja tidak. Akan tetapi, satu sel B yang sedemikian kecil untuk dapat dilihat oleh mata, menyimpan jutaan bit informasi dalam memorinya, dan dengan sadar menggunakannya dalam kombina-si yang tepat. Tersimpannya jutaan formula dalam suatu sel yang sangat kecil merupakan keajaiban yang diberikan kepada manusia. Yang tak kurang menakjubkan adalah bahwa kenyataannya sel-sel menggunakan informasi ini untuk melindungi kesehatan manusia.
Jelas, rahasia kesuksesan luar biasa sel-sel amat kecil ini di luar batas pemahaman manusia. Saat ini, kekuatan pikiran manusia dikombinasi-kan dengan batas teknologi modern untuk menghadapi kecerdasan yang diperlihatkan oleh sel-sel tersebut. Sesungguhnya, ilmuwan evolusionis tidak dapat menutup mata terhadap semua tanda-tanda kecerdasan ini, yang merupakan bukti nyata keberadaan Sang Pencipta. Dalam bukunya, “Pewarisan Sifat dan Evolusi”, Prof. Dr. Ali Demirsoy, seorang pembela fanatik evolusi di Turki mengakui:
Bagaimana dan dalam bentuk apa sel-sel plasma mendapatkan informasi ini, lalu memproduksi antibodi yang khusus dirancang berdasarkan informasi itu? Pertanyaan ini belum terjawab sampai saat ini.3
Sebagaimana pengakuan ilmuwan evolusionis di atas, cara antibodi dihasilkan merupakan hal yang belum dapat dipahami sepenuhnya. Teknologi abad ke-20 terbukti belum cukup bahkan untuk sekadar memahami metode produksi yang sempurna ini. Di masa akan datang, karena metode yang digunakan oleh sel-sel kecil ini — yang diciptakan untuk melayani umat manusia — dan cara mereka mewujudkannya be-lumlah tersingkap, semoga kesempurnaan dan seni dari sel-sel ini akan lebih dimengerti.
Struktur Antibodi
Sebelumnya telah dikatakan bahwa antibodi termasuk protein. Jadi, pertama-tama mari kita pelajari struktur protein tersebut.
Protein tersusun dari asam amino. Dua puluh jenis asam amino ber-beda disusun dalam urutan yang berbeda untuk membentuk protein-protein yang berlainan, umpama membuat pelbagai kalung mengguna-kan manik-manik dengan dua puluh warna berbeda. Perbedaan utama antara protein-protein tersebut adalah urutan asam aminonya.
Perlu diingat, setiap kesalahan dalam urutan asam amino menjadi-kan protein tidak berguna, dan bahkan berbahaya. Karena itu, tidak boleh ada kesalahan sekecil apa pun dalam urutannya.
Jadi, bagaimana penghasil protein dalam sel dapat mengetahui ba-gaimana urutan asam amino yang menyusun mereka, dan protein apa yang akan dihasilkan? Instruksi untuk setiap protein dengan ribuan tipe yang berbeda dilakukan oleh gen yang ditemukan di bank data genetik pada inti sel. Dengan demikian, gen-gen ini dibutuhkan untuk mempro-duksi antibodi.
Ada suatu keajaiban penting disini. Di dalam tubuh manusia hanya ada seratus ribu gen, padahal antibodi yang dihasilkan 1.920.000. Artinya, sekitar sembilan ratus ribu gen hilang.
Lalu bagaimana mungkin sekelompok kecil gen mampu mempro-duksi antibodi sebanyak sepuluh kali lipat dari jumlahnya? Di sinilah keajaiban itu tersingkapkan. Sel menggabungkan seratus ribu gen yang dikandungnya itu dengan kombinasi berbeda untuk membentuk suatu antibodi baru. Sel tersebut menerima informasi dari beberapa gen dan menggabungkannya dengan informasi gen lain dan membuat produksi yang diinginkan berdasarkan kombinasi informasi tersebut.
Sebanyak 1.920.000 antibodi berbeda dibentuk dari 5.200 buah kom-binasi.4 Proses ini memperlihatkan suatu kearifan dan perencanaan yang terlalu hebat untuk dipahami otak manusia, apalagi untuk merancang-nya.
Tak terhingga jumlah kombinasi yang dapat diwujudkan dengan menggunakan seratus ribu gen tersebut. Akan tetapi, sel, dengan kecer-dasan luar biasa, hanya menggunakan 5.200 kombinasi dasar dan meng-hasilkan 1.920.000 antibodi spesifik. Bagaimana cara suatu sel dapat bela-jar untuk membuat kombinasi yang tepat sementara peluang untuk mem-bentuk antibodi yang diinginkan tak berhingga banyaknya? Lalu, dari mana sel itu mendapatkan ide untuk membuat kombinasi tersebut?
Lagi pula, kombinasi yang dihasilkan memiliki tujuan tertentu, dan dimaksudkan untuk memproduksi antibodi pelawan antigen yang ma-suk ke tubuh. Jadi, sel tersebut juga memahami karakter jutaan antigen yang masuk ke tubuh manusia.
Tidak satu pun ahli di dunia mampu menghasilkan desain sempurna tiada banding seperti ini. Akan tetapi sel-sel yang berukuran hanya seperseratus milimeter, mampu melakukannya. Lalu, bagaimana sel tersebut mempelajari sistem spesial itu?
Nyatanya, tidak ada sel yang berkesempatan “mempelajari” fungsi biologis dalam artian sebenarnya. Ini dikarenakan sel tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakan hal itu sejak lahir. Mereka tidak pula berkesempatan mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan selama masa hidupnya. Kalau demikian halnya, adalah suatu keniscayaan bah-wa sistem yang ada di dalam sel pastilah sudah siap dan lengkap sejak awal kehidupan. Sel-sel itu juga tidak mempunyai keterampilan untuk mempelajari kombinasi kunci, tidak pula ia punya waktu untuk mempe-lajarinya, karena hal itu akan menyebabkan kegagalannya menghentikan antigen yang memasuki tubuh, dan tubuh akan kalah dalam pertempuran itu.
Ada makna tersendiri di balik kenyataan bahwa sistem yang men-cengangkan umat manusia bahkan pada titik pemahaman ini ditempat-kan pada sebuah sel yang tidak memiliki kemampuan untuk berpikir dan bernalar. Ini merupakan cerminan dari keunikan ciptaan Allah Yang Maha Mengetahui, pada sel yang sangat kecil. Dalam Al Quran dinyata-kan bahwa kemahabijaksanaan Allah meliputi segalanya:
“… mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa lelah memelihara keduanya, dan Allah Maha-tinggi lagi Mahabesar.” (QS. Al Baqarah, 2: 255) !
Jika Anda mendesain suatu molekul antibodi, bagaimana cara Anda melakukannya? Pertama-tama, Anda harus mengadakan penelitian me-nyeluruh sebelum menentukan bentuk molekul tersebut. Tentu Anda tidak dapat membentuknya secara acak tanpa tahu pasti tugas si molekul. Karena antibodi yang ingin Anda produksi akan berkontak dengan anti-gen, Anda juga harus sangat menguasai struktur dan spesifikasi antigen tersebut.
Terakhir, antibodi yang Anda hasilkan harus memiliki pola khusus dan unik pada salah satu ujungnya. Hanya dengan demikian ia dapat mengikatkan diri dengan antigen. Ujung yang lainnya harus serupa dengan antibodi lainnya. Inilah satu-satunya cara untuk menonaktifkan antigen perusak. Kesimpulannya, satu ujung bersifat standar, sedangkan ujung yang lainnya harus berbeda dengan lainnya (ada lebih dari satu juta tipe yang berbeda).
Bagaimanapun juga, manusia tidak dapat menciptakan suatu anti-bodi, apa pun teknologi yang ada di hadapan mereka. Antibodi yang di-hasilkan dari laboratorium tetap diperoleh dari contoh antibodi yang diambil dari tubuh manusia, atau dari tubuh makhluk hidup lainnya.
Pengelompokan Antibodi
Sebelumnya telah kita sebutkan bahwa antibodi adalah sejenis pro-tein. Protein-protein yang berfungsi untuk melindungi tubuh lewat proses kekebalan ini dinamakan “imuno globulin”, disingkat “Ig”.
Protein paling khas pada sistem pertahanan, molekul imuno globulin mengikatkan diri pada antigen untuk menginformasikan kepada sel-sel kekebalan lainnya tentang keberadaan antigen tersebut atau untuk memu-lai reaksi berantai perang penghancuran.
IgG (Imuno globulin G): IgG merupakan antibodi yang paling umum. Dihasilkan hanya dalam waktu beberapa hari, ia memiliki masa hidup berkisar antara beberapa minggu sampai beberapa tahun. IgG ber-edar dalam tubuh dan banyak terdapat pada darah, sistem getah bening, dan usus. Mereka mengikuti aliran darah, langsung menuju musuh dan menghambatnya begitu terdeteksi. Mereka mempunyai efek kuat anti-bakteri dan penghancur antigen. Mereka melindungi tubuh terhadap bakteri dan virus, serta menetralkan asam yang terkandung dalam racun.
Selain itu, IgG mampu menyelip di antara sel-sel dan menyingkirkan bakteri serta musuh mikroorganis yang masuk ke dalam sel-sel dan kulit. Karena kemampuannya serta ukurannya yang kecil, mereka dapat masuk ke dalam plasenta ibu hamil dan melindungi janin dari kemungkinan infeksi.
Jika antibodi tidak diciptakan dengan karakteristik yang memung-kinkan mereka untuk masuk ke dalam plasenta, maka janin dalam rahim tidak akan terlindungi melawan mikroba. Hal ini dapat menyebabkan kematian sebelum lahir. Karena itu, antibodi sang ibu akan melindungi embrio dari musuh sampai anak itu lahir.
IgA (Imuno globulin A): Antibodi ini terdapat pada daerah peka tempat tubuh melawan antigen seperti air mata, air liur, ASI, darah, kantong-kantong udara, lendir, getah lambung, dan sekresi usus. Kepe-kaan daerah tersebut berhubungan langsung dengan kecenderungan bakteri dan virus yang lebih menyukai media lembap seperti itu.
Secara struktur, IgA mirip satu sama lain. Mereka mendiami bagian tubuh yang paling mungkin dimasuki mikroba. Mereka menjaga daerah itu dalam pengawasannya layaknya tentara andal yang ditempatkan untuk melindungi daerah kritis.
Antibodi ini melindungi janin dari berbagai penyakit pada saat da-lam kandungan. Setelah kelahiran, mereka tidak akan meninggalkan sang bayi, melainkan tetap melindunginya. Setiap bayi yang baru lahir mem-butuhkan pertolongan ibunya, karena IgA tidak terdapat dalam organis-me bayi yang baru lahir. Selama periode ini, IgA yang terdapat dalam ASI akan melindungi sistem pencernaan bayi terhadap mikroba. Seperti IgG, jenis antibodi ini juga akan hilang setelah mereka melaksanakan semua tugasnya, pada saat bayi telah berumur beberapa minggu.
Pernahkah Anda mempertanyakan siapa gerangan yang mengirim-kan antibodi yang berusaha melindungi Anda dari mikroba pada saat Anda masih dalam bentuk embrio dan tidak mengetahui apa-apa? Mung-kinkah itu ibu, atau ayah? Atau mungkinkah mereka memutuskan bersa-ma dan mengirimi Anda antibodi secara bersama-sama? Tentu saja perto-longan yang kita bicarakan ini di luar kendali kedua orang tua. Si ibu malah tidak menyadari bahwa dia telah dikaruniai rancangan bantuan ini. Sang ayah juga tidak menyadari apa yang telah terjadi.
Lalu kenapa sel-sel itu berada di payudara ibu? Kenapa pembuatan antibodi berlangsung dengan cara tersebut? Kekuatan mana yang mem-beri tahu sel-sel itu bahwa bayi yang baru lahir membutuhkan antibodi? Bukan suatu kebetulan bahwa sel yang terlibat dalam pembuatan anti-bodi untuk bayi ditempatkan pada bagian yang akan diisap sang bayi.
Di sini, kembali ada keajaiban penting. Antibodi merupakan organis-me yang tersusun dari protein. Sedangkan protein dicerna dalam lam-bung manusia. Karena itu, normalnya, bayi yang menyusu pada ibunya akan mencerna antibodi ini dalam lambungnya, sehingga tidak lagi terlindung dari mikroba. Akan tetapi, lambung bayi yang baru lahir diciptakan sedemikian rupa untuk tidak mencerna dan menghancurkan antibodi ini. Pada tahap ini, produksi enzim pencerna protein masih sangat sedikit. Maka, antibodi yang sangat penting untuk hidup itu tidak dicerna dan akan melindungi bayi yang baru lahir dari musuhnya.
Keajaiban tidak berhenti sampai di sini. Antibodi yang tidak dapat dihancurkan lambung ini dapat diserap oleh usus secara utuh. Sel-sel usus pada bayi diciptakan sedemikian rupa untuk melakukan hal itu.
Tak disangkal lagi, bukanlah kebetulan bahwa peristiwa menakjub-kan di atas ditata dalam suatu urutan. Tubuh manusia, suatu contoh pen-ciptaan yang sangat teliti, menjalani tahap-tahap sempurna dari embrio sampai memiliki sistem kekebalan yang berfungsi penuh. Pastilah, pem-buat perhitungan yang sangat tepat ini adalah Allah. Dia yang mencip-takan segala sesuatu berdasarkan perencanaan sangat rumit.
IgM (Imuno globulin M): Antibodi ini terdapat pada darah, getah bening, dan pada permukaan sel B. Pada saat organisme tubuh manusia bertemu dengan antigen, IgM merupakan antibodi pertama yang dihasil-kan tubuh untuk melawan musuh.
Janin dalam rahim mampu memproduksi IgM pada umur kehamilan enam bulan. Jika musuh menyerang janin, jika janin terinfeksi kuman penyakit, produksi IgM janin akan meningkat. Untuk mengetahui apakah janin telah terinfeksi atau tidak, dapat diketahui dari kadar IgM dalam darah.
IgD (Imuno globulin D): IgD juga terdapat dalam darah, getah bening, dan pada permukaan sel B. Mereka tidak mampu untuk bertindak sendiri-sendiri. Dengan menempelkan dirinya pada permukaan sel-sel T, mereka membantu sel T menangkap antigen.
IgE (Imuno globulin E): IgE merupakan antibodi yang beredar dalam aliran darah. Antibodi ini bertanggung jawab untuk memanggil para prajurit tempur dan sel darah lainnya untuk berperang. Antibodi ini kadang juga menimbulkan reaksi alergi pada tubuh. Karena itu, kadar IgE tinggi pada tubuh orang yang sedang mengalami alergi.
Upaya Para Evolusionis untuk Menyembunyikan Bukti Penciptaan-Nya
Pertama, mari kita tinjau kembali informasi yang kita peroleh sejauh ini:
-Antibodi akan mengunci antigen yang memasuki tubuh.
-Dihasilkan antibodi berbeda untuk masing-masing musuh.
-Sel mampu menghasilkan ribuan antibodi berbeda untuk ribuan antigen berlainan.
-Produksi ini dimulai langsung pada saat musuh memasuki tubuh dan teridentifikasi.
-Terdapat kesesuaian antara antigen dengan antibodi tiga dimensi, yang dihasilkan khusus untuk antigen itu, persis seperti anak kunci cocok dengan lubangnya.
-Sel, jika dibutuhkan, dengan sengaja menyusun informasi yang dimi-likinya dan menghasilkan antibodi-antibodi yang berbeda.
-Sembari melakukan hal itu, sel memperlihatkan kearifan dan peren-canaan yang jauh melampaui batas pemahaman akal manusia.
-Antibodi tertentu, yang terdapat khusus dalam ASI, memenuhi kebu-tuhan antibodi bayi yang belum mampu untuk memproduksi antibodi ini sendiri.
-Lambung bayi tidak akan mencerna antibodi, melainkan melewat-kannya agar dapat melindungi tubuh bayi.
Di sini kita lihat sistem yang bekerja sempurna. Dalam sel-sel yang memproduksi antibodi, Allah menempatkan informasi yang berisikan rancangan konstruksi antibodi. Kesemua informasi itu dapat mengisi penuh ribuan halaman ensiklopedi. Lebih jauh, Allah mengaruniai sel-sel itu kemampuan untuk membuat kombinasi yang melampaui pemikiran manusia.
Bagaimana orang yang meyakini evolusi akan menjelaskan kebe-radaan sistem yang sempurna ini? Jawabannya sangat sederhana: Mereka tidak mampu menjelaskannya.
Yang mereka lakukan hanyalah mengedepankan asumsi tidak logis yang saling bertentangan. Banyak skenario rekaan tanpa sedikit pun kebenaran ilmiah yang dimaksudkan semata-mata untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan “Bagaimana kita dapat menjelaskan sistem ini dari sudut pandang evolusi?”
Skenario yang paling populer bersikukuh bahwa sistem kekebalan tubuh berkembang dari satu antibodi. Berikut ini ringkasan skenario yang tidak mempunyai landasan ilmiah tersebut:
Pada awalnya sistem pertahanan tubuh terdiri dari satu gen yang mempro-duksi satu tipe imunoglobulin (semacam protein). Akan tetapi gen ini “de-ngan cepat memperbanyak dirinya sendiri(!)” dan mengembangkan kembarannya ini sehingga membentuk molekul imunoglobulin yang berbeda. Kemudian dikembangkan mekanisme kontrol yang akan mengawasi pembentukan gen-gen berbeda yang memiliki kemampuan untuk kombinasi ulang.
Contoh ini penting untuk memperlihatkan betapa goyahnya pijakan tempat teori evolusi. Dari contoh ini juga dapat dipahami metode palsu dan bersifat mencuci otak yang sering dipilih para evolusionis. Mari kita lihat kebohongan ini kalimat demi kalimat:
Kalimat 1: “Pada awalnya sistem pertahanan tubuh terdiri dari satu gen yang memproduksi satu tipe imunoglobulin (semacam protein).” Pertanyaan pertama yang harus diajukan adalah: “Siapa yang menciptakan gen awal ini?”
Evolusionis mencoba memperlihatkan tahap ini sebagai sesuatu yang tak berarti dan mengelakkannya. Tetapi, bagaimana gen awal ini bermula harus dijelaskan. Secara ilmiah mustahil suatu gen membentuk dirinya sendiri. Mustahilnya pembentukan tak sengaja dari urutan gen adalah kenyataan yang sering diakui oleh ilmuwan evolusionis. Dalam hal ini kita dapat mencontohkan Prof. Ali Demirsoy, seorang evolusionis dari Turki:
Yaitu, jika kehidupan membutuhkan urutan tertentu, maka dapat dikatakan peluang terjadinya hanya satu kali di seluruh jagat raya. Kalau tidak, ada campur tangan kekuatan metafisik tak terdefinisikan dalam pemben-tukannya5.
Namun para evolusionis menyembunyikan hal ini dan melontarkan pemikiran bodoh seperti “apa pun argumennya, pasti ada satu gen pada awalnya.” Jelas sekali, skenario ini runtuh pada langkah pertama.
Kalimat 2: “Akan tetapi gen ini ‘dengan cepat memperbanyak dirinya sendiri(!)’ dan mengembangkan kembarannya ini sehingga membentuk molekul imunoglobulin yang berbeda.”
Kendati mustahil, anggaplah memang ada satu gen pada awalnya. Meskipun sama sekali tidak mungkin gen pertama tersebut membentuk dirinya sendiri, para evolusionis mengeluarkan pernyataan yang tidak memiliki landasan ilmiah seperti “ia memperbanyak dirinya sendiri.” Per-nyataan itu, yang tidak memiliki nilai ilmiah merupakan contoh bagus kedok para evolusionis. Hipotesa yang menyatakan bahwa suatu gen terbentuk dan membuat salinan berbeda dari dirinya tidak bersesu-aian dengan aturan logis serta fakta-fakta ilmiah.
Di samping itu, antibodi yang dihasilkan gen khayalan yang katanya membentuk dirinya sendiri beserta salinannya, harus memiliki kemam-puan dan struktur yang dapat menghentikan antigen yang datang dari dunia luar. Hal ini berarti Pencipta yang sama, yaitu Allah, menciptakan antigen serta gen, yang bertanggung jawab untuk memproduksi antibodi untuk melawan antigen.
Kalimat 3: “Kemudian dikembangkan mekanisme kontrol yang akan mengawasi pembentukan gen-gen berbeda yang memiliki kemam-puan untuk kombinasi ulang.”
Tidak mampu menjelaskan prinsip kerja mekanisme kontrol dan kombinasinya, para evolusionis menghindari topik ini dengan mengata-kan bahwa “sistem ini ada dengan sendirinya” agar sesuai dengan maksud mereka. Mereka tidak berusaha menjelaskan bagaimana sistem yang luar biasa ini dibangun oleh dirinya sendiri secara kebetulan. Pada saat mereka mencoba memberi penjelasan tentang hal ini, yang dapat mereka kemukakan hanyalah skenario mengada-ada dan menggelikan. Dengan demikian mereka telah menyingkapkan kelemahan serta tidak masuk akalnya pernyataan yang mereka buat.
Demikian hebatnya kearifan yang ditunjukkan mekanisme kontrol ini sehingga sekitar dua juta produk dengan struktur berbeda terbentuk dari ribuan kombinasi unit informasi. Sebagaimana yang dijelaskan di atas, sel dan sistem apa pun di dalam sel sama-sama tidak mempunyai kemampuan untuk “belajar” dan “mengembangkan”. Lagi pula, sel membuat kombinasi informasi ini dengan memilih hanya satu pilihan te-pat di antara begitu banyak kemungkinan. Oleh karena itu, hal ini mem-butuhkan mekanisme pemilihan yang jauh lebih sadar dan masuk akal.
Mereka yang mengeluarkan pernyataan di atas mungkin akan me-ngembangkan teori berikut untuk produk apa pun yang dihasilkan dari teknologi atau pemikiran manusia:
“Lempeng batu tulis terbentuk dengan sendirinya dan belakangan berkembang menjadi komputer.” Atau,
“Layang-layang terbuat dengan sendirinya kemudian berkembang menjadi pesawat jet.”
Kalimat di atas terdengar konyol bagi siapa pun. Akan tetapi, kalimat ini malah masih lebih logis daripada mengatakan bahwa elemen dari sis-tem pertahanan, yang prinsip kerjanya belum tersingkapkan, ada secara kebetulan.
Terlebih lagi, antibodi saja tidak cukup untuk melindungi tubuh ma-nusia. Agar sistem kekebalan berfungsi, dan agar tubuh manusia dapat bertahan hidup, diperlukan kerja sama antara makrofag, sel T penolong, sel T pembunuh, sel-sel T penekan, sel pengingat, sel B, dan banyak faktor lain.
Satu sel B menggandakan antibodi spesifiknya dan mencantolkannya ke permukaan luar membran selnya. Antibodi memanjang keluar seperti jarum, aerial yang sudah menyesuaikan diri menunggu berkontak dengan sekeping protein tertentu yang bisa mereka kenali. Antibodi tersebut terdiri dari dua rantai ringan dan dua rantai berat asam amino yang bersambungan dalam bentuk Y. Bagian tetap dari rantai itu sama di pelbagai jenis antibodi. Tetapi bagian bergerak ujung lengan masing-masing mempunyai rongga berbentuk unik yang tepat sesuai dengan bentuk bagian protein yang “dipilih” antibodi.
Setelah digandakan sampai jutaan, sebagian besar sel B berhenti membelah dan menjadi sel plasma, jenis sel yang bagian dalamnya berisi alat untuk membuat satu produk antibodi. Sebagian sel B lain membelah terus tak berhingga, dan menjadi sel memori. Antibodi bebas yang dibuat oleh sel plasma berkeliling di darah dan cairan limpa. Ketika antibodi mengikatkan diri pada antigen sasarannya, bentuknya berubah. Perubahan bentuk inilah yang membuat antibodi “menempel” di bagian luar makrofag.
(Sumber: Harun Yahya)
Penulis Al-Ustadz Abu Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al-Medani
Syariah Kajian Utama 27 – Juli – 2006 08:43:54
Merunut sejarah ruqyah merupakan salah satu metode pengobatan yg cukup tua di muka bumi ini. Dengan datang Islam metode ini kemudian disesuaikan dgn nafas dan tata cara yg sesuai syariat.
Ada akibat tentu dgn sebab. Yang demikian merupakan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala yg berlaku di jagad raya ini. Memang ini tdk mutlak terjadi pada seluruh perkara. Namun mayoritas urusan makhluk tdk lepas dari hukum sebab dan akibat. Hukum ini merupakan hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala yg lengkap dgn kebaikan. Makhluk mana pun tdk bisa menggapai keinginan kecuali dgn hukum sebab dan akibat. Di alam nyata ini tdk ada sebab yg sempurna dan bisa melahirkan akibat dgn sendiri kecuali kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan sebab bagi segala sebab. Kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala adl kekuatan yg selalu menuntut akibat. tdk satu sebab pun bisa melahirkan akibat dgn sendiri melainkan harus disertai sebab yg lain yaitu kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan pada sebagian sebab hal-hal yg dapat menggagalkan akibatnya. Adapun kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala tdk membutuhkan sebab yg lain kecuali kehendak-Nya itu sendiri.
Tak ada sebab apapun yg dapat melawan dan membatalkannya. Namun terkadang Allah Subhanahu wa Ta’ala membatalkan hukum kehendak-Nya dgn kehendak-Nya . Dialah yg menghendaki sesuatu lalu menghendaki lawan yg bisa mencegah terjadinya. Inilah sebab mengapa seorang hamba wajib memasrahkan diri takut berharap dan berkeinginan hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengucapkan dlm doanya:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِرَضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمَعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ
“Ya Allah sesungguh aku berlindung dgn ridha-Mu dari murka-Mu dgn pemeliharaan-Mu dari siksa-Mu. Dan aku berlindung dengan-Mu dari-Mu.”
وَلاَ مَنْجَى مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ
“Tak ada tempat selamat dari Dzat-Mu kecuali kepada Dzat-Mu.”
Di antara sekian akibat yg membutuhkan sebab adl kesembuhan. Kesembuhan datang dgn sebab berobat. Namun apakah tiap orang yg berobat pasti sembuh? Jawaban tentu tidak. Karena kesembuhan itu datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan dari obat atau orang yg mengobati. Obat akan manjur dan mengantarkan kepada kesembuhan bila Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki. Karena itu seorang yg berobat tdk boleh menyandarkan diri kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan kepada obat dan orang yg mengobati.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memaparkan perihal berobat dlm beberapa haditsnya. Di antaranya:
1. Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أَصَابَ الدَّوَاءُ الدَّاءَ، بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dgn penyakit mk dia akan sembuh dgn seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
2. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا أَنْزَلَ اللهُ مِنْ دَاءٍ إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
“Tidaklah Allah menurunkan sebuah penyakit melainkan menurunkan pula obatnya.”
3. Dari Usamah bin Syarik radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata:
كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَجَاءَتِ اْلأَعْرَابُ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَنَتَدَاوَى؟ فَقَالَ: نَعَمْ يَا عِبَادَ اللهِ، تَدَاوَوْا، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ شِفَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ. قَالُوا: مَا هُوَ؟ قَالَ: الْهَرَمُ
Aku pernah berada di samping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu datanglah serombongan Arab dusun. Mereka berta “Wahai Rasulullah bolehkah kami berobat?” Beliau menjawab: “Iya wahai para hamba Allah berobatlah. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah meletakkan sebuah penyakit melainkan meletakkan pula obat kecuali satu penyakit.” Mereka bertanya: “Penyakit apa itu?” Beliau menjawab: “Penyakit tua.”
4. Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ لَمْ يَنْزِلْ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ
“Sesungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menurunkan sebuah penyakit melainkan menurunkan pula obatnya. Obat itu diketahui oleh orang yg bisa mengetahui dan tdk diketahui oleh orang yg tdk bisa mengetahuinya.”
Dalam berobat banyak cara yg bisa ditempuh asalkan tdk melanggar syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun para ulama berbeda pendapat tentang hukum berobat dan meninggalkannya. Tentu perselisihan mereka berangkat dari perbedaan dlm memahami dalil-dalil yg ada dlm permasalahan ini. Terdapat tiga pendapat di kalangan para ulama dlm menentukan hukum berobat.
Pertama menurut sebagian ulama bahwa berobat diperbolehkan namun yg lbh utama tdk berobat. Ini merupakan madzhab yg masyhur dari Al-Imam Ahmad rahimahullahu.
Kedua menurut sebagian ulama bahwa berobat adl perkara yg disunnahkan. Ini merupakan pendapat para ulama pengikut madzhab Asy-Syafi’i rahimahullahu. Bahkan Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu dlm kitab Syarh Shahih Muslim menisbahkan pendapat ini kepada madzhab mayoritas para ulama terdahulu dan belakangan. Pendapat ini pula yg dipilih oleh Abul Muzhaffar. Beliau berkata: “Menurut madzhab Abu Hanifah berobat adl perkara yg sangat ditekankan. Hukum hampir mendekati wajib.”
Ketiga menurut sebagian ulama bahwa berobat dan meninggalkan sama saja tdk ada yg lbh utama. Ini merupakan madzhab Al-Imam Malik rahimahullahu. Beliau berkata: “Berobat adl perkara yg tdk mengapa. Demikian pula meninggalkannya.”
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu memiliki metode yg cukup baik dlm mempertemukan beberapa pendapat di atas. Beliau merinci hukum berobat menjadi beberapa keadaan sebagai berikut:
1. Bila diketahui atau diduga kuat bahwa berobat sangat bermanfaat dan meninggalkan akan berakibat kebinasaan mk hukum wajib.
2. Bila diduga kuat bahwa berobat sangat bermanfaat namun meninggalkan tdk berakibat kebinasaan yg pasti mk melakukan lbh utama.
3. Bila dgn berobat diperkirakan kadar kemungkinan antara kesembuhan dan kebinasaan sama mk meninggalkan lbh utama agar dia tdk melemparkan diri dlm kehancuran tanpa disadari.
Secara garis besar berobat merupakan perkara yg disyariatkan selama tdk menggunakan sesuatu yg haram. Hal ini sebagaimana ditegaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm sabdanya:
إِنَّ اللهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ
“Sesungguh Allah telah menurunkan penyakit dan obat demikian pula Allah menjadikan bagi tiap penyakit ada obatnya. mk berobatlah kalian dan janganlah berobat dgn yg haram.”
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata:
نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الدَّوَاءِ الْخَبِيْثِ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari obat yg buruk .” (Lihat kitab Ahkam Ar-Ruqa wa At-Tama`im karya Dr. Fahd As-Suhaimi hal. 21}
Di antara cara pengobatan yg disyariatkan adl melakukan ruqyah. Akhir-akhir ini pengobatan dgn ruqyah memang marak diperbincangkan dan dipraktekkan di tengah kaum muslimin negeri ini. Padahal sebelum pengobatan dgn ruqyah tdk banyak diketahui oleh mereka.
Sayang sebagian kelompok menjadikan ruqyah sebagai arena utk mengundang simpati publik demi kepentingan yg bernuansa politik. Mereka beramai-ramai membuka ruqyah center di berbagai tempat guna memenuhi kebutuhan massa yg ‘haus’ akan pengobatan ruqyah. Namun sudahkah praktek ruqyah itu mencocoki tuntunan syariat Islam? Pertanyaan ini harus dijawab dgn ilmu yg benar bukan dgn semangat belaka.
Oleh krn itu perlu pembekalan ilmu yg dapat mengenalkan kaum muslimin kepada ruqyah syar’i yg tepat sesuai dgn Al-Qur`an dan As-Sunnah. Sehingga mereka terhindar dari praktek-praktek ruqyah yg salah kaprah bahkan bertentangan dgn Al-Quran dan As-Sunnah. Oleh krn itu marilah kita simak beberapa pembahasan berikut ini.
Definisi Ruqyah
Makna ruqyah secara terminologi adl al-‘udzah yg digunakan utk melindungi orang yg terkena penyakit seperti panas krn disengat binatang kesurupan dan yg lainnya.
Secara terminologi ruqyah terkadang disebut pula dgn ‘azimah. Al-Fairuz Abadi berkata: “Yang dimaksud ‘azimah-‘azimah adl ruqyah-ruqyah. Sedangkan ruqyah yaitu ayat-ayat Al-Qur`an yg dibacakan terhadap orang2 yg terkena berbagai penyakit dgn mengharap kesembuhan.”
Adapun makna ruqyah secara etimologi syariat adl doa dan bacaan-bacaan yg mengandung permintaan tolong dan perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala utk mencegah atau mengangkat bala/penyakit. Terkadang doa atau bacaan itu disertai dgn sebuah tiupan dari mulut ke kedua telapak tangan atau anggota tubuh orang yg meruqyah atau yg diruqyah.
Tentu ruqyah yg paling utama adl doa dan bacaan yg bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah.
Ruqyah di Masa Jahiliyyah
Setiap manusia yg mengerti kemaslahatan tentu selalu ingin menjaga kesehatan tubuh dan jiwanya. Barangsiapa bisa memenuhi keinginan ini berarti karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala utk diri cukup besar. Sehingga wajar jika pengobatan ruqyah telah dikenal secara luas di tengah masyarakat jahiliyyah.
Ruqyah adl salah satu cara pengobatan yg mereka yakini dapat menyembuhkan penyakit dan menjaga kesehatan. Kala itu ruqyah digunakan utk mengobati berbagai penyakit seperti tersengat binatang berbisa terkena sihir kekuatan ‘ain dan lainnya.
Namun yg disayangkan ruqyah sering menjadi media utk penyebarluasan berbagai kesyirikan di kalangan mereka. Pengobatan ruqyah yg dilakukan tdk luput dari pelanggaran syariat. Di antara adl pengakuan mengetahui perkara ghaib menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyandarkan diri kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala berlindung kepada jin dan lain-lain.
Setelah Islam datang seluruh ruqyah dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali yg tdk mengandung kesyirikan. Islam mengajarkan kaum muslimin utk berhati-hati dlm menggunakan ruqyah. Sehingga mereka tdk terjatuh ke dlm pengobatan ruqyah yg mengandung bid’ah atau syirik.
‘Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata:
كُنَّ نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: اعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ
“Dahulu kami meruqyah di masa jahiliyyah. Lalu kami bertanya: ‘Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang hal itu?’ Beliau menjawab: ‘Tunjukkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Ruqyah-ruqyah itu tdk mengapa selama tdk mengandung syirik’.”
Kebanyakan manusia terpedaya dgn penampilan ‘shalih’ dari orang yg meruqyah. Sehingga mereka tdk lagi memperhatikan tata cara dan isi ruqyah yg dibacakan.
Asy-Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alus-Syaikh hafizhahullah berkata: “Penyebaran kesyirikan banyak terjadi di negeri-negeri Islam melalui para tabib orang yg mengobati dgn ramu-ramuan dan mengobati dgn Al-Qur`an. Ibnu Bisyr menyebutkan pada permulaan Tarikh Najd di antara faktor penyebab tersebar kesyirikan di negeri Najd adl keberadaan para tabib dan ahli pengobatan dari orang2 Badwi di berbagai kampung sewaktu musim buah. Manusia membutuhkan mereka utk keperluan meruqyah dan pengobatan. mk mereka memerintahkan manusia dgn kesyirikan dan cara-cara yg tdk disyariatkan..”
Hukum Ruqyah
Ruqyah telah dikenal oleh masyarakat jahiliyyah sebelum Islam. Tetapi kebanyakan ruqyah mereka mengandung kesyirikan. Padahal Islam datang utk mengenyahkan segala bentuk kesyirikan. Alasan inilah yg membuat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang para shahabat radhiallahu ‘anhum utk melakukan ruqyah. Kemudian beliau membolehkan selama tdk mengandung kesyirikan. Beberapa hadits telah menjelaskan kepada kita tentang fenomena di atas. Di antaranya:
1. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
“Sesungguh segala ruqyah tamimah dan tiwalah adl syirik.”
2. Dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata:
كُنَّ نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: اعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ
Dahulu kami meruqyah di masa jahiliyyah. Lalu kami bertanya: “Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang hal itu?” Beliau menjawab: “Tunjukkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Ruqyah-ruqyah itu tdk mengapa selama tdk mengandung syirik.”
3. Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata:
نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرُّقَى فَجَاءَ آلُ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: إِنَّهُ كَانَتْ عِنْدَنَا رُقْيَةٌ نَرْقِي مِنَ الْعَقْرَبِ وَإِنَّكَ نَهَيْتَ عَنِ الرُّقَى. قَالَ: فَعَرَضُوْهَا عَلَيْهِ. فَقَالَ: مَا أَرَى بَأْسًا، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَنْفَعْهُ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari segala ruqyah. Lalu keluarga ‘Amr bin Hazm datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah sesungguh kami dahulu memiliki ruqyah yg kami pakai utk meruqyah krn kalajengking. Tetapi engkau telah melarang dari semua ruqyah.” Mereka lalu menunjukkan ruqyah itu kepada beliau. Beliau bersabda: “Tidak mengapa barangsiapa di antara kalian yg mampu memberi kemanfaatan bagi saudara mk hendak dia lakukan.”
4. Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu beliau berkata:
كَانَ لِيْ خَالٌ يَرْقِي عَنِ الْعَقْرَبِ، فَنَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرُّقَى. قَالَ: فَأَتَاهُ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّكَ نَهَيْتَ عَنِ الرُّقَى وَأَنَا أَرْقِي مِنَ الْعَقْرَبِ فَقَالَ: مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ
“Dahulu pamanku meruqyah krn kalajengking. Sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari segala ruqyah. mk pamanku mendatangi beliau lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah sesungguh engkau melarang dari segala ruqyah dan dahulu aku meruqyah krn kalajengking.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: ‘Barangsiapa di antara kalian yg mampu memberi manfaat bagi saudara mk hendak dia lakukan.”
5. Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiallahu ‘anhu beliau berkata:
كُنْتُ أَرْقِي مِنْ حُمَةِ الْعَيْنِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ. فَلَمَّا أَسْلَمْتُ ذَكَرْتُهَا لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اعْرِضْهَا عَلَيَّ. فَعَرَضْتُهَا عَلَيْهِ، فَقَالَ: ارْقِ بِهَا فَلاَ بَأْسَ بِهَا
“Di masa jahiliyyah dulu aku meruqyah krn kalajengking dan ‘ain . Tatkala aku masuk Islam aku memberitahukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Perlihatkan ruqyah itu kepadaku!’ Lalu aku menunjukkan kepada beliau. Beliau pun bersabda: ‘Pakailah utk meruqyah krn tdk mengapa menggunakannya’.”
6. Dari Syifa` bintu Abdullah radhiallahu ‘anha:
أَنَّهَا كَانَتْ تُرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَلَمَّا جَاءَ اْلإِسْلاَمُ، قَالَتْ: لاَ أَرْقِي حَتَّى اسْتَأْذَنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَتَيْتُهُ فَاسْتَأْذَنْتُهُ. فَقَالَ عَنْهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ارْقِي مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهَا شِرْكٌ
“Dahulu dia meruqyah di masa jahiliyyah. Setelah kedatangan Islam mk dia berkata: ‘Aku tdk meruqyah hingga aku meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu dia pun pergi menemui dan meminta izin kepada beliau. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: ‘Silahkan engkau meruqyah selama tdk mengandung perbuatan syirik’.”
Demikianlah mereka melakukan ruqyah di masa jahiliyyah. Ruqyah mereka mengandung perbuatan syirik sehingga dilarang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau membolehkan bagi mereka selama tdk mengandung kesyirikan. Beliau membolehkan krn ruqyah itu bermanfaat bagi mereka dlm banyak hal.
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata: “Hadits-hadits sebelum menunjukkan bahwa hukum asal seluruh ruqyah adl dilarang sebagaimana yg tampak dari ucapannya: ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari segala ruqyah.’ Larangan terhadap segala ruqyah itu berlaku secara mutlak. Karena di masa jahiliyyah mereka meruqyah dgn ruqyah-ruqyah yg syirik dan tdk dipahami. Mereka meyakini bahwa ruqyah-ruqyah itu berpengaruh dgn sendirinya. Ketika mereka masuk Islam dan hilang dari diri mereka yg demikian itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka dari ruqyah secara umum agar lbh mantap larangan dan lbh menutup jalan . Selanjut ketika mereka berta dan mengabarkan kepada beliau bahwa mereka mendapat manfaat dgn ruqyah-ruqyah itu beliau memberi keringanan sebagian bagi mereka. Beliau bersabda: ‘Perlihatkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Tidak mengapa menggunakan ruqyah-ruqyah selama tdk mengandung syirik’.”
Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ
“Tidak ada ruqyah kecuali krn ‘ain atau humah .”
Menurut sebagian pendapat bahwa ruqyah tdk diperbolehkan kecuali krn dua hal yg telah disebutkan dlm hadits di atas.
Ini adl pendapat yg lemah krn Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk memaksudkan dgn sabda tersebut utk melarang ruqyah pada yg selain keduanya. Yang beliau maksudkan bahwa ruqyah yg paling utama dan bermanfaat adl ruqyah yg disebabkan krn ‘ain atau humah. Hal ini terlihat dari uraian hadits. Ketika Sahl bin Hunaif terkena ‘ain dia bertanya: “Adakah yg lbh baik dlm ruqyah?”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ نَفْسٍ أَوْ حُمَةٍ
“Tidak ada ruqyah kecuali krn satu jiwa dan humah .”
Demikian pula hadits-hadits yg lain baik yg bersifat umum atau khusus seluruh mengarah kepada makna di atas.
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Para ulama berkata: ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk memaksudkan utk membatasi ruqyah hanya pada kedua dan melarang dari selain keduanya. Yang beliau maksudkan adl tdk ada ruqyah yg lbh benar dan utama daripada ruqyah krn ‘ain dan hummah krn bahaya kedua sangat dahsyat.”
Syarat-syarat Ruqyah
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Para ulama telah bersepakat tentang boleh ruqyah ketika terpenuhi tiga syarat:
1. Menggunakan Kalamullah atau nama-nama dan sifat-Nya.
2. Menggunakan lisan Arab atau yg selain selama makna diketahui.
3. Meyakini bahwa ruqyah tdk berpengaruh dgn sendiri namun dgn sebab Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mereka berselisih mengenai tiga hal di atas bila dijadikan sebagai syarat. Yang kuat adl pendapat yg mengharuskan utk memenuhi tiga syarat yg disebutkan.”
Dengan penjelasan di atas berarti segala ruqyah yg tdk memenuhi tiga syarat itu tdk diperbolehkan. Jika kita rinci ada tiga jenis ruqyah yg tdk diperbolehkan:
1. Ruqyah yg mengandung permohonan bantuan dan perlindungan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ruqyah-ruqyah seperti ini sering dipakai oleh para dukun tukang sihir dan paranormal. Mereka memohon bantuan dan perlindungan dgn menyebut nama-nama jin malaikat nabi dan orang shalih. Terkadang mereka melakukan kesyirikan ini dgn kedok agama. Banyak orang awam yg terkecoh dgn penampilan sebagian mereka yg memakai atribut agama. Padahal ruqyah yg mereka lakukan dan ajarkan berbau mistik serta sarat dgn kesyirikan.
2. Ruqyah dgn bahasa ‘ajam atau sesuatu yg tdk dipahami maknanya.
Mayoritas ruqyah yg berbahasa ‘ajam mengandung penyebutan nama-nama jin permintaan tolong kepada mereka dan sumpah dgn nama orang yg mengagungkannya. Oleh krn itu para setan segera menyambut dan menaati orang yg membacanya. Keumuman ruqyah yg tersebar di tengah manusia dan tdk menggunakan bahasa Arab banyak mengandung syirik. Demikian yg ditegaskan oleh Syaikhul Islam.
Asy-Syaikh Hafizh Al-Hakami berkata: “Adapun ruqyah yg tdk memakai lafadz-lafadz Arab tdk diketahui makna tdk masyhur dan tdk didapatkan dlm syariat sama sekali mk bukanlah perkara yg datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidaklah berada dlm naungan Al-Quran dan As-Sunnah. Bahkan hal itu merupakan bisikan setan kepada para walinya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لَيُوْحُوْنَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوْكُمْ
“Dan sesungguh para setan mewahyukan kepada wali-wali mereka utk mendebat kalian.”
Ruqyah semacam inilah yg dimaksud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm sabdanya:
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
“Sesungguh segala ruqyah tamimah dan tiwalah adl syirik.”
Hal itu krn orang yg mengucapkan tdk mengetahui apakah ruqyah menggunakan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala para malaikat atau para setan. Dia pun tdk mengetahui apakah di dlm terdapat kekafiran atau keimanan kebenaran atau kebatilan kemanfaatan atau marabahaya dan apakah itu ruqyah atau sihir. Demi Allah mayoritas manusia benar-benar tenggelam dlm berbagai malapetaka ini. Mereka menggunakan dgn bentuk yg cukup banyak dan jenis yg beraneka ragam….”
Sebagian kalangan membolehkan tiap ruqyah walaupun makna tdk diketahui asalkan terbukti memberi kemanfaatan. Mereka berdalil dgn sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarga ‘Amr bin Hazm sewaktu mereka berta tentang ruqyah:
مَا أَرَى بَأْسًا، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ
“Aku lihat tdk mengapa. Barangsiapa yg mampu memberi manfaat bagi saudara hendaklah dia lakukan.”
Tetapi pendapat mereka ini terbantah dgn hadits ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i. Dia meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ
“Perlihatkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Tidak mengapa kalian menggunakan ruqyah-ruqyah itu selama tdk mengandung syirik”.
Hadits ‘Auf ini menunjukkan dilarang seluruh ruqyah yg mengarah kepada kesyirikan. Setiap ruqyah yg tdk dimengerti makna tdk dirasa aman akan membawa kepada syirik. Sehingga tiap ruqyah yg tdk dimengerti makna dilarang dlm rangka berhati-hati.
3. Ruqyah yg diyakini bahwa pelaku bisa menyembuhkan dgn sendiri tanpa kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tentu yg demikian ini bertentangan dgn ajaran tauhid. Karena ruqyah merupakan sebab berarti pelaku ruqyah adl pelaku sebab. Peruqyah ibarat dokter sedangkan ruqyah ibarat obat. Obat adl sebab dan dokter adl pelaku sebab. Adapun pencipta sebab adl Allah Subhanahu wa Ta’ala. Suatu sebab akan bermanfaat jika dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dahulu bangsa jahiliyah meyakini bahwa ruqyah dipastikan berpengaruh dgn sendirinya. Oleh krn itu mereka sangat mengagungkan ruqyah dan pelakunya. Ini merupakan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang hamba diperintahkan utk menjalani sebab utk mendapatkan akibat. Namun hati tdk boleh bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala krn Allah Subhanahu wa Ta’ala adl Pencipta segala sebab dan akibat. Di tangan-Nya seluruh kekuasaan langit dan bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَا يَفْتَحِ اللهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلاَ مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلاَ مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ
“Apa saja yg Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat mk tdk ada seorangpun yg dapat menahannya; dan apa saja yg ditahan oleh Allah mk tdk seorangpun yg sanggup utk melepaskan sesudah itu.”
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ
“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu mk tdk ada yg menghilangkan melainkan Dia sendiri.”
Seorang hamba hendak mengharapkan kesembuhan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hanya bergantung kepada-Nya tatkala melakukan ruqyah.
Sifat-sifat Peruqyah dan Pasiennya
Ruqyah merupakan perkara yg disyariatkan. Tentu seorang peruqyah perlu memperhatikan rambu-rambu syariat dlm meruqyah. Sehingga dia tdk ngawur dan melanggar syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hendak dia memiliki kriteria sebagai berikut:
a. Ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm tiap ucapan dan perbuatannya.
Semesti dia bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm seluruh ibadah tanpa sedikit pun berbuat syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika meruqyah hendak mengikhlaskan permintaan tolong dan perlindungan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala utk menggapai kemanfaatan dari ruqyah yg dia lakukan.
b. Memiliki ilmu syar’i tentang ruqyahnya.
Seharus dia mengetahui bahwa ruqyah yg digunakan termasuk yg disyariatkan. Hendak dia mengambil ruqyah dari Al-Qur`an As-Sunnah dan doa-doa yg ma’ruf. Jika dia tdk mengetahui ruqyah disyariatkan atau tdk semesti berta kepada orang yg berilmu. Bila dia seorang yg bodoh bukan ahlul ilmi dan tdk mampu utk menelaah ruqyah yg digunakan atau ditinggalkan berarti ini merupakan tanda bahwa dia tdk bisa. Dia tdk diperbolehkan bahkan tdk pantas diberi kesempatan utk meruqyah.
c. Bertujuan utk memberi kemanfaatan kepada orang lain.
Sudah seharus dia bertujuan dgn ruqyah itu utk memberi kemanfaatan kepada saudara yg membutuhkan. Ini adl sifat yg mulia dan dianjurkan. Sebagaimana hadits yg diriwayatkan oleh Jabir radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ
“Barangsiapa di antara kalian yg mampu memberi kemanfaatan bagi saudara mk hendak dia lakukan.”
Memberi kemanfaatan kepada saudara kita yg membutuhkan atau sakit adl perbuatan baik yg sangat dituntut sesama hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hamba yg paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adl seorang yg paling bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya.
d. Membuat orang yg diruqyah hanya bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bila meruqyah seharus dia tdk membuat orang yg diruqyah bergantung kepada dirinya. Jika dia telah sering meruqyah orang lain sampai sembuh mk tdk perlu dia menceritakan kepada yg akan diruqyah sehingga tdk menimbulkan keyakinan yg salah terhadap dirinya. Sepantas dia menanamkan kepada orang yg akan diruqyah bahwa yg mampu menyembuhkan adl Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Adapun ruqyah adl sebab demikian pula diri bukan pencipta akibat. Namun sangat disayangkan kebanyakan peruqyah membuat orang yg diruqyah merasa yakin terhadap diri seolah-olah dialah yg menyembuhkan. dlm hal ini korban yg paling banyak adl para wanita dan orang2 yg bodoh.
e. Khusyu’ tunduk dan merendahkan diri hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ini adl kelanjutan dari pembahasan yg sebelumnya. Seharus dia tdk membesar-besarkan diri di hadapan orang yg akan diruqyah. Sebagaimana dia juga tdk merasa besar terhadap diri sendiri. Niat adl memberi kemanfaatan kepada orang lain dgn seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan utk merasa besar dan membesar-besarkan diri. Sehingga dia tdk membuat manusia bergantung kepada diri tetapi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn menggunakan dzikir dan wirid-wirid yg disyariatkan di dlm As-Sunnah.
f. Menghindarkan diri dari celah-celah dosa dan fitnah.
Seharus dia tdk mengikuti langkah-langkah setan yg bisa menggelincirkan ke dlm kubangan dosa dgn alasan ruqyah. Terlebih lagi bila yg diruqyah adl wanita. Seringkali setan menggunakan kesempatan ini utk menjatuhkan peruqyah ke dlm dosa. Misal setan menggoda utk berkhalwat dgn wanita yg diruqyah padahal bukan mahramnya. Atau menggoda utk menyentuh bagian tubuh wanita itu dgn tangan dgn alasan agar ruqyah lbh manjur dsb. Oleh krn itu banyak dari kalangan peruqyah yg rusak agama setelah terlibat dlm dunia ruqyah.
Insya Allah nanti akan kita jelaskan praktek-praktek ruqyah yg menyimpang supaya kaum muslimin tdk mudah diperdaya oleh para peruqyah gadungan yg melanggar syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Adapun orang yg diruqyah hendak memiliki kriteria sebagai berikut:
a. Memperbesar harapan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm meminta pertolongan dan perlindungan.
Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِنْ يَرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيْبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
“Jika Allah menimpakan kemudharatan kepadamu mk tdk ada yg dapat menghilangkan kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu mk tdk ada yg dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yg dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.”
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْخَبِيْرُ
“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu mk tdk ada yg menghilangkan melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu mk Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan Dialah yg berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ
“Dan apabila aku sakit Dialah yg menyembuhkan aku.”
b. Meninggalkan rasa was-was.
Seharus dia tdk mengikuti rasa was-was yg muncul pada diri krn hal itu berasal dari setan. Bila dia larut dlm rasa was-was itu justru secara tdk langsung dia telah membantu setan utk lbh menguasai dirinya. Karena itulah kita melihat kebanyakan orang yg tertimpa oleh penyakit was-was gampang dimasuki oleh jin atau terkena penyakit lainnya.
Di samping itu orang yg dihantui perasaan was-was akan membayangkan hal-hal yg bersifat halusinasi sehingga dia akan semakin lemah dan bertambah penyakit baik secara kualitas maupun kuantitas. mk wajib atas orang yg memiliki was-was utk memperkuat tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjalani berbagai sebab yg disyariatkan guna menyembuhkan penyakitnya. Demikian pula hendak dia melawan segala rasa was-was itu dan tdk mengikuti dgn cara berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
c. Mempelajari wirid bacaan dan doa-doa yg disyariatkan.
Seharus dia tdk selalu menggunakan orang lain dlm meruqyah dirinya. Hendak dia mulai menanamkan keyakinan bahwa diri mampu utk meruqyah sendiri tanpa membutuhkan orang lain. Kemudian dia bersungguh-sungguh mempelajari wirid bacaan dan doa-doa yg disyariatkan utk dipakai meruqyah diri sendiri. Ruqyah-ruqyah yg dipelajari itu sangat bermanfaat guna mengobati atau membentengi diri dari berbagai gangguan setan dan penyakit. Untuk meruqyah diri dia bisa membaca seperti surat Al-Fatihah Al-Ikhlash Al-Falaq An-Naas Ayat Kursi dan yg lainnya. Dia bisa membaca ruqyah-ruqyah itu sebelum tidur di pagi dan sore hari setelah shalat wajib atau waktu-waktu lain sesuai dgn yg dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wirid-wirid yg dibaca itu ibarat baju atau besi yg dipakai utk membentengi dari beragama bahaya. Wirid-wirid itu adl sebab yg bermanfaat utk melindungi dirinya. Sedangkan pemberi manfaat dan penolak bahaya yg sebenar adl Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bacaan dan Tata Cara Ruqyah
Tentu bacaan dan wirid terbaik utk meruqyah adl kalam Pencipta Pemilik dan Pengatur alam semesta ini. Menggunakan kalam-Nya dlm meruqyah mengandung keberkahan Ilahi yg tdk terkira. Ketika seorang peruqyah mengharapkan kesembuhan hanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala mk sangat tepat dan utama bila dia menggunakan Kalamullah. Ucapan Allah Subhanahu wa Ta’ala yg berupa Al-Qur`an sendiri memang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai penyembuh dari segala jenis penyakit. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُوْرِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
“Hai manusia sesungguh telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dlm dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang2 yg beriman.”
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an sesuatu yg menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang2 yg beriman.”
قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ
“Katakanlah: ‘ itu adl petunjuk dan penyembuh bagi orang2 yg beriman’.”
Alam semesta ini adl ciptaan milik dan aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada satu kekuatan pun yg mampu berhadapan dgn kemahakuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Para malaikat pingsan dan tersungkur sujud tatkala mendengar firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas langit sana. Sedangkan langit-langit bergemuruh dgn dahsyat krn takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana hal ini telah dikabarkan oleh Rasul yg jujur lagi dibenarkan ucapan yaitu Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَتِلْكَ اْلأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
“Kalau sekira Kami menurunkan Al-Qur`an ini kepada sebuah gunung pasti kamu akan melihat tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat utk manusia supaya mereka berfikir.”
Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Termasuk perkara yg dimaklumi bahwa sebagian ucapan memiliki keistimewaan dan kemanfaatan yg telah teruji. mk bagaimana kita menganggap ucapan Rabb semesta alam ini? Tentu keutamaan ucapan-Nya atas segala ucapan yg lain seperti keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas seluruh makhluk-Nya. Ucapan-Nya merupakan penyembuh yg sempurna pelindung yg bermanfaat cahaya yg memberi petunjuk dan rahmat yg menyeluruh. Ucapan-Nya yg sekira diturunkan kepada sebuah gunung niscaya akan pecah krn keagungan dan kemuliaan-Nya.”
Berobat dgn Al-Qur`an adl penyembuhan yg mujarab. Terlebih lagi jika dibacakan oleh seorang yg memiliki kekuatan iman. Dengan demikian pengaruh bacaan itu akan bertambah ampuh utk pengobatan segala penyakit dgn seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Penyembuhan dgn Al-Qur`an tdk hanya bagi penyakit jiwa bahkan juga sangat mumpuni bagi penyakit jasmani. Cukuplah sebagai bukti konkret peristiwa yg diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu . Hadits tersebut menunjukkan betapa besar pengaruh Al-Qur`an bagi penyembuhan penyakit jasmani. Bila seorang muslim melakukan dgn keyakinan penuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya akan terealisasi dgn seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Menurut sebagian kalangan letak ruqyah dlm surat Al-Fatihah adl pada firman-Nya:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
“Ha kepada-Mu kami menyembah dan memohon pertolongan.”
Dan tdk diragukan lagi bahwa dua kalimat ini termasuk bagian yg terkuat dari obat ini. Karena kedua mengandung penyerahan penyandaran pemasrahan permohonan tolong permintaan dan kebutuhan yg total kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian pula kedua menggabungkan puncak segala tujuan yaitu peribadahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sarana yg paling utama yaitu permintaan tolong utk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yg tdk terdapat pada selainnya.
Suatu ketika aku pernah jatuh sakit di kota Makkah. Aku sama sekali tdk mendapatkan seorang dokter dan obat. mk aku pun berobat dgn surat Al-Fatihah. Aku ambil minum dari air Zamzam dan kubacakan atas surat Al-Fatihah lalu aku meminumnya. Aku pun sembuh secara total. Semenjak itu aku selalu berpegang dgn cara pengobatan ini pada kebanyakan penyakit yg aku derita. Akhir aku benar-benar meraih manfaat dgn surat Al-Fatihah.”
Penyembuhan Al-Qur`an terhadap penyakit jiwa sangat manjur pula. Seperti utk penyembuhan sempit dada pengaruh sorotan mata yg jahat dan mampu merusak akal dan jiwa kemasukan jin kena sihir dan lain-lain. Kesimpulan Al-Qur`an adl obat bagi segala penyakit.
Selain Al-Fatihah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga meruqyah dgn Al-Mu’awwidzat sebagaimana yg diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Beliau berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْفِثُ عَلَى نَفْسِهِ – فِي الْمَرَضِ الَّذِي مَاتَ فِيْهِ – بِالْمُعَاوِذَاتِ. فَلَمَّا ثَفُلَ، كُنْتُ أَنْفِثُ عَلَيْهِ بِهِنَّ وَأَمْسَحُ بِيَدِ نَفْسِهِ لِبَرَكَتِهَا
“Dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Mu’awwidzaat dan meniupkan dgn sedikit meludah atas diri beliau di masa sakit beliau yg membawa kepada kematiannya. Tatkala beliau merasa semakin parah aku yg membacakan Al-Mu’awwidzaat dan meniupkan atas beliau. Aku usapkan bacaan itu dan tiupan dgn tangan beliau sendiri. Hal ini krn keberkahan tangan beliau.”
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu menyebutkan hadits ini dlm kitab Shahih- dgn judul Bab Meruqyah dgn Al-Qur`an dan Al-Mu’awwidzat. Sedangkan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu menjelaskan hal ini sebagai berikut: “Judul bab ini merupakan metode utk mengikutkan hukum sesuatu yg khusus dgn sesuatu yg umum . Karena yg dimaksud dgn Al-Mu’awwidzat adl surat Al-Falaq An-Naas dan Al-Ikhlash sebagaimana telah lewat penjelasan di bagian akhir Kitab At-Tafsir . Bisa jadi istilah Al-Mu’awwidzat di sini termasuk Bab At-Taghlib . Atau yg dimaksud adl surat Al-Falaq An-Naas dan seluruh ayat-ayat Al-Qur`an yg mengandung ta’awwudz kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Kemudian Ibnu Hajar rahimahullahu menyebutkan sebuah ayat sebagai contoh ucapannya. Namun beliau mengatakan bahwa pendapat yg pertama lbh baik. Beliau menyebutkan pula sebuah hadits dgn sanad yg disebutkan di dalamnya: “Tak ada ruqyah kecuali dgn Al-Mu’awwidzat.” Lalu beliau berbicara tentang kelemahan hadits ini dari sisi periwayatannya. Menurut beliau jika hadits ini shahih mk hukum telah dihapuskan krn Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan utk meruqyah dgn Al-Fatihah.
Setelah beberapa penjelasan beliau pun berkata: “…Hal ini tdk menunjukkan larangan ber-ta’awwudz dgn selain dua surat ini . Hal itu hanyalah menunjukkan keutamaannya. Terlebih lagi telah ada dalil yg membolehkan ber-ta’awwudz dgn selain keduanya. Ha saja beliau mencukupkan diri dgn kedua krn kedua mengandung al-isti’adzah yg ringkas dan padat dari segala perkara yg tdk disukai baik secara global maupun rinci….”
Boleh meruqyah dgn Al-Qur`an tdk terbatas pada surat Al-Fatihah Al-Falaq An-Naas dan Al-Ikhlas. Karena Al-Qur`an secara keseluruhan merupakan obat bagi segala penyakit. Oleh krn itu boleh meruqyah dgn ayat atau surat mana saja dari Al-Qur`an. Ibnu Baththal rahimahullahu berkata: “Bila diperbolehkan meruqyah dgn Al-Mu’awwidzatain yg kedua merupakan dua surat dari Al-Qur`an berarti meruqyah dgn yg selebih dari Al-Qur`an juga diperbolehkan. Karena seluruh adl Al-Qur`an.”
Demikian pula boleh meruqyah dgn nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala krn Al-Qur`an juga mengandung keduanya. Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Jibril ‘alaihissalam pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jibril bertanya: “Wahai Muhammad apakah engkau mengeluhkan rasa sakit?” Nabi menjawab: “Iya.” mk Jibril membacakan:
بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ، مِنْ شَرٍّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيْكَ، بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ
“Dengan nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yg mengganggumu dan keburukan tiap jiwa atau sorotan mata yg dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu dgn nama Allah aku meruqyahmu.”
Adapun doa-doa yg dibaca oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam utk meruqyah juga merupakan pengobatan yg mujarab. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kata-kata yg ringkas dan padat sehingga doa-doa yg beliau baca benar-benar barakah. Inilah keistimewaan yg telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bila kita memakai doa-doa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam utk meruqyah dgn keyakinan yg mantap niscaya manfaat akan tampak nyata dgn seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam tulisan ini kami akan menyebutkan sebagian doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu. Namun bukan berarti tdk ada yg lain lagi. Selama suatu doa dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm hadits yg shahih utk meruqyah diri atau orang lain mk kita diperbolehkan bahkan dianjurkan utk menggunakannya. Sebaik-baik teladan adl Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.
Mengenai doa-doa yg kami maksud adl sebagai berikut:
1. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata kepada Tsabit Al-Bunani: “Maukah engkau aku ruqyah dgn ruqyah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Tsabit menjawab: “Ya”. mk Anas membaca:
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبِأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَافِي لاَ شَافِيَ إِلاَّ أَنْتَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَفَمًا
“Ya Allah Rabb sekalian manusia yg menghilangkan segala petaka sembuhkanlah Engkaulah Yang Maha Penyembuh tdk ada yg bisa menyembuhkan kecuali Engkau sebuah kesembuhan yg tdk meninggalkan penyakit.”
Dalam riwayat lain dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha beliau berkata: “Dahulu bila salah seorang dari kami mengeluhkan rasa sakit mk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap dgn tangan kanan beliau dan membaca:
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبِأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَفَمًا
“Ya Allah Rabb sekalian manusia hilangkanlah petaka dan sembuhkanlah dia Engkaulah Yang Maha Penyembuh tdk ada penyembuh kecuali penyembuhan-Mu sebuah penyembuhan yg tdk meninggalkan penyakit.”
2. Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa beliau berkata: “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meruqyah dgn membaca:
امْسِحِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ بِيَدِكَ الشِّفَاءِ لاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ أَنْتَ
“Hapuslah petaka wahai Rabb sekalian manusia. Di tangan-Mu seluruh penyembuhan tdk ada yg menyingkap untuk kecuali Engkau.”
3. Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa beliau berkata: “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila meruqyah beliau membaca:
بِسْمِ اللهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيْقَةِ بَعْضِنَا لِيُشْفَى بِهِ سَقِيْمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا
“Dengan nama Allah. Tanah bumi kami dan air ludah sebagian kami semoga disembuhkan dengan orang yg sakit di antara kami dgn seizin Rabb kami.”
4. Dari Abu Al-‘Ash Ats-Tsaqafi radhiallahu ‘anhu bahwa beliau mengeluhkan sakit yg dirasakan di tubuh semenjak masuk Islam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:
ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ فِيْ جَسَدِكَ وَقُلْ: بِسْمِ اللهِ ثَلاَثًا، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ
“Letakkanlah tanganmu pada tempat yg sakit dari tubuhmu dan ucapkanlah ‘Bismillah ’ sebanyak tiga kali. Lalu ucapkanlah:
أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ
‘Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan sesuatu yg kurasakan dan kuhindarkan’ sebanyak tujuh kali.”
5. Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:
مَنْ عَادَ مَرِيْضًا لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ فَقَالَ عِنْدَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَسْأَلُكَ اللهَ الْعَظِيْمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيْكَ، إِلاَّ عَافَاهُ اللهُ فِيْ ذَلِكَ
“Barangsiapa mengunjungi orang sakit selama belum datang ajal lalu dia bacakan di sisi sebanyak tujuh kali:
أَسْأَلُكَ اللهَ الْعَظِيْمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيْكَ
‘Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung Pemilik ‘Arsy yg besar semoga menyembuhkanmu’ niscaya Allah akan menyembuhkan dari penyakit itu.”
6. Dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu beliau berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungiku dan beliau membaca:
اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا
“Ya Allah sembuhkanlah Sa’d Ya Allah sembuhkanlah Sa’d. Ya Allah sembuhkanlah Sa’d.”
Cara-Cara Meruqyah
Perkara lain yg demikian serius utk diperhatikan oleh seorang peruqyah adl tdk melakukan tatacara ruqyah yg tdk diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena ruqyah adl amal yg disyariatkan mk hendak sesuai dgn ajaran yg mengemban syariat. Berikut ini beberapa tatacara ruqyah yg dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
1. Meniup dgn air ludah yg sangat sedikit bukan meludah.
Inilah yg disebut dgn an-nafats. Sedangkan di atas adl at-tafal dan di atas adl al-buzaq yg disebut dlm bahasa kita dgn meludah. Yang disyariatkan ketika meruqyah adl melakukan an-nafats dan at-tafal. Tatacara ini telah dijelaskan dlm hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yg diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Hadits ini menunjukkan boleh melakukan an-nafats dan at-tafal dlm meruqyah. Ini adl pendapat sekumpulan shahabat dan jumhur para ulama.
Adapun waktu pelaksanaan boleh dilakukan sebelum membaca ruqyah sesudah atau bersamaan. Hal ini ditunjukkan oleh hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yg sebagian diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim sedangkan yg lain hanya diriwayatkan oleh Al-Bukhari saja dan hadits Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu yg diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
2. Meruqyah tanpa an-nafats dan at-tafal.
Hal ini ditunjukkan oleh hadits Anas bin Malik yg dikeluarkan oleh Al-Bukhari sebagaimana telah disebutkan di atas. Demikian pula ruqyah yg dilakukan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu dan diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim.
3. Meniup dgn air ludah yg sangat sedikit pada jari telunjuk lalu meletakkan di tanah kemudian mengusapkan pada tempat yg sakit ketika melakukan ruqyah.
Hal ini ditunjukkan oleh hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yg diriwayatkan Al-Imam Muslim.
4. Mengusap dgn tangan kanan pada tubuh setelah membaca ruqyah atau pada tempat yg sakit sebelum membaca ruqyah.
Hal ini ditunjukkan oleh hadits ‘Aisyah yg diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dan hadits ‘Utsman bin Abil ‘Ash yg diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim.
5. Menyediakan air dlm sebuah bejana lalu membacakan ruqyah yg disyariatkan pada dan meniupkan pada sedikit air ludah. Kemudian dimandikan atau diminumkan kepada orang yg sakit atau diusapkan ke tempat yg sakit.
Ini berdasarkan hadits ‘Ali radhiallahu ‘anhu yg diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dlm Ash-Shahihah dan hadits Tsabit bin Qais bin Syammas radhiallahu ‘anhu yg dikeluarkan oleh Abu Dawud An-Nasa`i serta yg lain dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dlm Ash-Shahihah . Hal ini juga dikuatkan oleh beberapa atsar sebagaimana dlm Mushannaf Ibnu Abi Syaibah dan Mushannaf Abdur Razaq.
Demikian pula sebelum ini kami telah membawakan pengakuan Ibnul Qayyim bahwa ketika beliau sakit di Makkah pernah berobat dgn meminum air Zamzam yg dibacakan atas Al-Fatihah berulang kali. Selanjut beliau berkata: “Dari aku memperoleh manfaat dan kekuatan yg belum pernah aku ketahui semisal pada berbagai obat. Bahkan bisa jadi perkara lbh besar daripada itu akan tetapi sesuai dgn kekuatan iman dan kebenaran keyakinan. Wallahul Musta’an.”
Cara yg disebutkan oleh Ibnul Qayyim ini juga merupakan pendapat Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazz rahimahumallah.
6. Menuliskan ayat-ayat Al-Qur`an pada selembar daun atau yg sejenis atau pada sebuah bejana lalu dihapus dgn air kemudian air itu diminum atau dimandikan kepada orang yg sakit.
Cara ini diperselisihkan hukum di kalangan para ulama. Di antara yg membolehkan adl Ibnu ‘Abbas Mujahid Abu Qilabah Ahmad bin Hanbal Al-Qadhi ‘Iyadh Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim. Sedangkan yg memakruhkan adl Ibrahim An-Nakha’i Ibnu Sirin dan Ibnul ‘Arabi rahimahumullah. Al-Lajnah Ad-Da`imah sebagai tim fatwa negara Saudi Arabia pernah dita tentang hal ini. Mereka menjawab bahwa hal ini tdk datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Al-Khulafa` Ar-Rasyidun dan para shahabat yg lainnya. Adapun yg diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tidaklah shahih. Selanjut mereka menyebutkan nama-nama ulama yg membolehkan sebagaimana yg tadi telah kami singgung. Kemudian mereka berkata: “Bagaimana pun juga bahwa amalan yg seperti ini tidaklah dianggap syirik.”
Demikianlah beberapa penjelasan tentang ruqyah syar’i yg bisa kami cantumkan dlm tulisan ini. Sebenar masih banyak pembahasan tentang ruqyah syar’i yg tdk bisa kami sertakan di sini krn keterbatasan tempat. Semoga yg kami tuliskan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bermanfaat bagi seluruh pembaca yg budiman. Akhir kesempurnaan itu hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Sumber: www.asysyariah.com
Ayat² Ruqyah Syar’iyyah
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.Terapi.Ruqyah_Pendinding.Diri.SNA_Store.DroidAppS
Author : Prof. Dr. H. Ashadi, Guru Besar FKIP UNS
Dalam ayat ini, kata pelajaran yang dimaksud adalah Al Qur’an .Penyakit dalam dada apa maksudnya. Didalam dada kita ada ego dan emosi, ada nafsu-nafsu kita. Dari nafsu-nafsu kita inilah akan dapat muncul berbagai penyakit.
Nafsu ingin dihargai oleh orang lain secara berlebih akan muncul mudah tersinggung, sakit hati, marah/ ngomel jika nasehatnya tidak didengar, kita marah kalau orang lain menganggap kita kurang pandai, marah jika pendapatnya/ usul/ sarannya tidak dipakai, jengkel jika suami tidak memuji apa-apa yang diusahakan istri dan sebaliknya, jengkel kepada mertua jika kurang mendapat tempat yang sama diantara para menantu, Jengkel pada suami karena dianggap sudah kurang perhatian dan lebih memperhatikan pekerjaan kantornya. Seorang anak marah jika apa yang diinginkannya tidak disetujui orang tua, entah karena beda pendapat atau menyangkut uang dan orangtua sedang tidak punya uang.
Dari ego yang tinggi muncul kesombongan, keserakahan, mengambil hak orang lain, meremehkan orang lain, menguasai suami tanpa mau mengerti bahwa suami punya orangtua dan saudara, lupa mensyukuri apa-apa yang telah diberikan oleh Alloh tetapi malah membanggakan diri dan sombong, merasa dari kalangan terpelajar, dari orang yang berderajat lebih tinggi,merasa ibadah dan pengetahuan agamanya sudah lebih baik dari orang lain. Dari ego yang tinggi muncul keinginan bahwa orang lain harus mau dan mampu berpikir seperti apa yang dipikirkannya, mudah marah, memaksakan kehendak, merasa paling benar, bila punya keinginan harus dan harus, segera, menjadikan kita sulit untuk memaafkan orang lain, menyebabkan kita merasa kitalah yang paling benar, dsb.
Emosi kita dapat menyebabkan kita kehilangan kesabaran, mudah marah, melakukan kekerasan, menghujat, menyebabkan kita kehilangan sebagian pikiran jernih kita, dsb. dst.
Coba kita cermati lebih jauh, jika ego dan emosi kita tidak kita kendalikan, maka kita akan merugi. Jika kita tidak menjadi pemaaf, bisa jadi akan berlanjut dendam pada seseorang. Jika ini terjadi coba kita berfikir apakah hidup ini nyaman. Jika kita suka dendam dengan orang lain, benci maka berbagai penyakit dapat muncul, orang akan sering tegang, akan depresi, yang dapat berakibat penyakit fisik bermacam-macam, setidaknya merasa badan kita tidak nyaman. Jika emosi kita sering muncul, sering meledak, sering marah, sebentar-sebantar emosi, hal yang kecil saja marah, maka sebenarnya kita sendiri secara jujur tindakan-tindakan kita itu menyebabkan badan kita tidak enak. Coba renungkan, apa untumgnya orang yang marah, benarkah kita merasa masalah kita selesai setelah marah? Bagaimana perasaan orang yang kita marahi. Bagaimana jika yang dimarahi itu kita.
Sekarang ini banyak penyakit yang disebut psikosomatis, yaitu penyakit yang penyebabnya sebenarnya psikis tetapi akibatnya berupa sakit fisik, sebagai contoh sakit gula. Sakit gula dapat berlanjut jika gula darah kita selalu tinggi maka kolesterol mudah mengendap di mana-mana. Akibat daripadanya bisa terjadi penyumbatan di pembuluh darah jantung, di pembuluh darah yang mensuplai darah ke otak. Sampai sekarang belum ada solusi untuk penyakit gula. Yang biasa dilakukan adalah olah raga yang cukup dan diet (menurut dokter). Ampai sekarang tidak ada dokter yang dapat menyembuhkan sakit gula (Diabetes), bahkan sampai dokter-dokter di luar negeri. Pada hal banyak pasien saya yang nurut saya nasehati, saya ajak kembai ke Al Qur”an, alhamdulillah sembuh hanya sekitar 2 s/d 3 minggu gulanya normal.
Al Qur’an penyembuh maksudnya jika kita pelajari dengan benar dan kita ikuti petunjuk-petunjuknya maka insyaAlloh kita terhindar dari penyakit yang awalnya dari ego dan emosi kita. Banyak petunjuk dalam Al Qur’an yang sering kita lupakan, seperti Jadilah engkau pemaaf (Al-A’raaf, 199), .. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar Al Baqoroh 153. Coba renungkan Al Baqoroh 153, jika kita mengatakan sabar itu ada batasnya apakah ini berarti kita sudah tidak sabar lagi dan berarti juga kita mulai tidak mau dekat dengan Alloh lagi?.
2. Musibah (termasuk sakit) adalah disebabkan oleh perilaku kita yang kurang terpuji.
Azab yang dekat maksudnya sakit, siksa besar adalah siksa di neraka kelak. Kalau orang diberi sakit, sebenarnya sedang diingatkan oleh Alloh karena melakukan dosa yang diulang-ulang. Sakit sebenarnya merupakan gambaran bagaimana kita akan disiksa kelak diakhirat
42. Asy Syuura
Hati-hati dalam hal ini, bahwa yang dapat menolong, yang dapat menyembuhkan hanyalah Alloh, atas ijin Alloh. Kalau yang dapat menolong hanyalah Alloh, sedang sakit disebabkan oleh perilaku kita yang kurang terpuji (dosa), maka solusinya adalah mengakui dosa kita kemudian mohon ampun.
Ini ayat yang lumayan berat, yaitu kalau kita ingin do’a kita dikabulkan supaya kita melakukan semua perintahNya. Apa saja perintah Alloh? Ini dapat dilihat dalam Al Qur’an dan As sunnah.
Adab berdoa.
Menjadi pemaaf adalah perintah, jika kita tidak pemaaf mungkin kita akan mudah jengkel, dendam. Jika demikian maka tentu akan diperingatkan oleh Alloh dengan sakit. Jika kita jengkel terus, marah, maka akan sakit darah tinggi. Jika jengkel terus lama-lama dendam akan kena hepatitis.
Jangan pernah kita merasa lebih baik dari orang lain dihadapan Alloh. Orang yang baik di mata Alloh adalah orang yang selalu patuh menjalankan perintahNya. Dan merekalah orang-orang yang akan bahagia didunia maupun diakhirat. Kenapa demikian? Orang patuh pada Alloh pastilah memiliki tingkat kesabaran yang sangat tinggi. Jika demikian maka pasti Alloh dekat dengan mereka. Jika dekat dengan Alloh pastilah do’anya dikabulkan. Ingin punya rumah insyaAlloh Alloh berikan, ingin punya kendaraan agar lebih mudah bersilaturrahmi kepda saudara-saudanya insyaAlloh Alloh berikan. Ingin dapat suami yang sholeh yang sabar yang care terhadap istri dan anak, yang selalu mengajak ke jalan Alloh, insyaAlloh akan berikan.
12. Jangan berkata buruk
Kalau Alloh tidak suka ucapan buruk dan kita melanggarnya tentu akan diperingatkan. Peringatan bisa berupa sakit yang tak kunjung sembuh.
Kita diperintahkan untuk mensyukuri nikmat-nikmat yang kita terima dan dilarang mengingkari nikmat tersebut. Dapatkah kita tuliskan berapa banyak Alloh telah melimpahkan kenikmatan pada diri kita. Diberikan mulut bisa bicara, diberikan mata yang bisa melihat,diberikan kaki yang dapat berjalan dan berjuta nikmat lainnya.
Kita diberitahu bahwa jika kita pandai mensyukuri nikmat maka Alloh akan menambahkan nikmat lagi.
Www.http://www.rohmadi.info/web/read/al-quran-penyembuh-penyakit-musibah-azab-dan-doa/
Quantum Terapi Ikhlas adalah penyembuhan diri sendiri yang sangat mudah, alami, bisa dilakukan dimana saja dengan cara duduk tenang, melakukan pernafasan secara teratur, mengendalikan emosi, relaksasi, khusuk dan menyeimbangkan hati, pikiran (mind), tubuh (body), soul (jiwa) dengan hati Ikhlas dan pasrah, sehingga seluruh organ tubuh merasa nyaman ketika dikendalikan oleh otak yang merupakan pusat syaraf semua kegiatan tubuh.
Ikhlas adalah hakikat dari perintah agama. Allah subḥahu wa ta’ālā berfirman :
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama ini dengan lurus . . .” (Qs. Al-Bayyinah: 5)
Tidaklah diperintahkan di dalam syariat kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadahnya untuk Allah ta’ālā semata. Artinya menjadikan tujuan seluruh ibadah dzahir dan bathin itu hanyalah mengharap wajah Allah ta’ālā semata dan mendekatkan diri kepadaNya dan menolak seluruh agama yang menyelisihi agama tauhid ini. Dalam ayat ini dikhususkan pada ibadah shalat dan zakat karena keutamaan keduanya melebihi ibadah-ibadah lainnya. Tauhid dan ikhlas, itulah dīnul qayyimah, artinya agama yang lurus yang mengantarkan ke surga, sedangkan selainnya adalah jalan yang mengantarkan ke neraka. (Taisīru Karīmi ar-Raḥmāni : 1099).
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam” (Q.S al-An’ām : 162)
Ketenangan dan keseimbangan bisa menghasilkan proses metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan tubuh manusia menjadi sangat normal, netral, stabil, tenang dan teratur.
Dalam kondisi ikhlas, tenang, relaks dan khusuk, otak berada pada gelombang Alfa dengan frekwensi 8 – 13,9 Hz, maka otak memproduksi hormon serotonin dan endorphin yg menyebabkan seseorang merasakan rasa nyaman, tenang, bahagia. Hormon ini membuat sistem kekebalan tubuh / ANTIBODI meningkat, pembuluh darah terbuka lebar, detak jantung menjadi stabil, dan kapasitas indra kita meningkat. Sehingga dengan sendirinya segala kondisi proses abnormal dan negatif dalam tubuh akan terminimalisir.
TAWAKAL
Mewujudkan tawakal yang benar dan ikhlas diperlukan syarat-syarat. Syarat-syarat ini wajib dipenuhi untuk mewujudkan semua yang telah Allah janjikan. Para ulama menyampaikan empat syarat terwujudnya sikap tawakal yang benar, yaitu:
1. Bertawakal hanya kepada Allah saja. Allah berfirman: “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabb-mu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud: 123).
2. Berkeyakinan yang kuat bahwa Allah Maha mampu mewujudkan semua permintaan dan kebutuhan hamba-hamba-Nya dan semua yang didapatkan hamba hanyalah dengan pengaturan dan kehendak Allah. Allah berfirman,“Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri.” (QS. Ibrahim: 12).
3. Yakin bahwa Allah akan merealisasikan apa yang di-tawakal-kan seorang hamba apabila ia mengikhlaskan niatnya dan menghadap kepada Allah dengan hatinya. Allah berfirman dalam Surat At Talaq ayat 2-3:
ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
“Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.”
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
4. Tidak putus asa dan patah hati dalam semua usaha yang dilakukan hamba dalam memenuhi kebutuhannya dengan tetap menyerahkan semua urusannya kepada Allah. Allah berfirman, “Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung.’”(QS. At-taubah: 129).
KEKUATAN DZIKIR
Dzikir berarti menyebut dan mengingat. Orang yang menyebut nama Allah dengan lisan dan mengingat-Nya dalam hati dengan penuh keyakinan, kemudian diwujudkan dengan akhlak-akhlak Allah dalam kehidupan sehari-hari, maka orang itu disebut sebagai ahli dzikir. Hati ahli dzikir akan selalu tenteram dan tenang.
Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman;
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ
“Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al-Baqarah [2]: 152).
Zikir menjadikan hati kita tertata, tenang dan tenteram. Firman Allah SWT:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
” Orang orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram,” (QS. Ar-Rad 13.28).
Allah tekankan agar kita terus berdzikir kepada-Nya.
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring” (QS. An-Nisa [4]: 103).
Surat Al-A’raf Ayat 205
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
Dalam hadis Rasulullah SAW: Dari Nu’man bin Basyir berkata: saya mendengar Rasululloh bersabda;
أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya: ” Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah “Qolbu” yaitu hati “. (Hadis Riwayat Bukhori).
Kekuatan Ikhlas, Pasrah, Tawakal dengan Berdzikir mempunyai kekuatan luarbiasa.
Ada kekuatan psikoreligius yang dalam keilmuan medis termasuk dalam cabang Psikoneuro endokrinologi atau Psikoneuro endokrin immunologi (kondisi psikis akan mempengaruhi syaraf, syaraf akan mempengaruhi kelenjar dan kelenjar akan mengeluarkan cairan dalam tubuh yang disebut endokrin dan cairan ini akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh).
Maka dengan kekuatan spiritual, ikhlas, pasrah dan keyakinan sepenuhnya, melalui sistem syaraf yang diteruskan ke kelenjar hormonal, memulihkan keseimbangan hormonal, imunitas tubuh, sel-sel tubuh menjadi sangat kuat sehingga pertumbuhan sel- sel radikal yang bermasalah dalam tubuh seperti alergi, tumor, kanker, stroke, jantung, ginjal, dan penyakit lainnya yang merusak keseimbangan tubuh akan hilang digantikan dengan sel-sel baru yang kuat dan kesehatan tubuh akan dipulihkan.
Terapi Dzikir dan Ikhlas Meliputi 5 tahap;
Proses tersebut akan dirasakan oleh tubuh ketika sel-sel tubuh mulai aktif dan kuat untuk melakukan healing. Insyaallah pada tahap 3, bisa terjadi detox jika yang berlatih mempunyai penyakit.
Manfaat melatih Terapi Ikhlas secara rutin:
– Organ-organ tubuh dan sel tubuh akan mengalami keadaan normal dan bekerja lebih teratur.
– Mampu mengatur dan mengendalikan diri sendiri.
– Mampu mengerti orang lain dan memaafkannya.
– Merubah hidup yang lebih baik, sebagai pembawa berkah bagi sesama.
– Mampu menerima suka dan duka, kesulitan, dan kebaikan hidup dengan baik.
– Menyembuhkan diri dari sakit emosi, mental dan phisik.
– Meningkatkan kekuatan energi dan Antibodi.
*ANTIBODI*
Antibodi (sistem kekebalan tubuh) merupakan senjata yang tersusun dari protein dan dibentuk untuk melawan sel-sel asing yang masuk ke tubuh manusia. Senjata ini diproduksi oleh sel-sel B, sekelompok prajurit pejuang dalam sistem kekebalan. Antibodi akan menghancurkan musuh-musuh penyerbu. Antibodi mempunyai dua fungsi, pertama un-tuk mengikatkan diri kepada sel-sel musuh, yaitu antigen. Fungsi kedua adalah membusukkan struktur biologi antigen tersebut lalu menghancur-kannya.
Berada dalam aliran darah dan cairan non-seluler, antibodi mengi-katkan diri kepada bakteri dan virus penyebab penyakit. Mereka menan-dai molekul-molekul asing tempat mereka mengikatkan diri. Dengan demikian sel prajurit tubuh dapat membedakan sekaligus melumpuh-kannya, layaknya tank yang hancur dan tak dapat bergerak atau melepas-kan tembakan setelah dihantam rudal saat pertempuran. Antibodi bersesuaian dengan musuhnya (antigen) secara sempurna, seperti anak kunci dengan lubangnya yang dipasang dalam struktur tiga dimensi.
Tubuh manusia mampu memproduksi masing-masing antibodi yang cocok untuk hampir setiap musuh yang dihadapinya. Antibodi bukan berjenis tunggal. Sesuai dengan struktur setiap musuh, maka tu-buh menciptakan antibodi khusus yang cukup kuat untuk meng-hadapi si musuh. Hal ini karena antibodi yang dihasilkan untuk suatu penyakit belum tentu mangkus bagi penyakit lainnya.
KEKUATAN DZIKIR ASTAGHFIRULLAH
Rahasia La ilaha illallah dan Astaghfirullah untuk Menghilangkan Nyeri serta Menumbuhkan Ketenangan dan Kestabilan Saraf
Sungguh, dengan mengingat Allah, hati akan tenang.
Maka, ingatlah Aku, niscaya Aku mengingatmu.
Lantunan zikir dan doa tidak hanya terbang menembus langit, tetapi juga mengalirkan kebaikan pada seluruh bagian tubuh. Berbagai penelitian mutakhir menemukan, gelombang suara sangat berpengaruh pada proses penyembuhan. Mulai dari ilmuwan Han Jenny (1960) yang mengungkap pengaruh gelombang suara terhadap bentuk dan material sel hingga Fabien dan Grimal (1974) yang membuktikan, bacaan ayat-ayat Al-Quran mampu menghancurkan virus dan sel kanker setahap demi setahap.
Hubungan erat antara zikir dan bacaan-bacaan berdimensi Ilahi dengan proses penyembuhan kerusakan jaringan saraf menurut ilmu kedokteran saraf dan ilmu tajwid.
Seluruh organ tubuh tidak akan berfungsi baik bila jaringan saraf mengalami kerusakan. Lewat penelusuran ilmiah dan praktik bertahun-tahun sebagai dokter, penulis mengungkap:
Apa efek penyembuhan zikir pada bagian-bagian tubuh yang rusak dan mengalami gangguan?
Bagaimana komponen-komponen otak mengalami perubahan ketika seseorang menzikirkan la ilaha illallah dan astaghfirullah.
Apa keajaiban zikir tersebut terhadap kesehatan serta penyembuhan penyakit saraf yang sering diderita pasien, seperti nyeri (nyeri kepala tipe tegang, migren, fibromialgia, nyeri sendi, nyeri neuropati akibat kencing manis kronis, nyeri pinggang akibat iritasi akar saraf atau saraf terjepit), lumpuh karena stroke, depresi pascastroke, gangguan pikiran dan emosi, serta gangguan tidur (insomnia).
Semoga Allah memberikan manfaat, kesehatan, kesembuhan, kewarasan lahir dan bathin bagi kita semua…
Aamiin ..
Pelatihan dan Bimbingan:
Ir. H. Imam Sarjono
Hp. Wa: 0811187375 / 085697968001
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ
(رواه البخاري)
*Ya Alloh, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada-Mu bahwa aku menyekutukan pada-Mu sedang aku mengetahuinya dan aku mohon ampun pada-Mu dari apa apa yang tidak aku ketahui*.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ النِّفَاقِ وَعَمَلِي مِنَ الرِّيَاءِ وَلِسَانِي مِنَ الْكَذِبِ وَعَيْنِي مِنَ الْخِيَانَةِ ، فَإِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
(رواه البيهقي)
*Ya Alloh sucikanlah hatiku dari sifat kemunafikan dan amalku dari pamer dan mulutku dari dusta dan mataku dari khiyanat, sesungguhnya Engkau mengetahui khiyanatnya mata dan apa saja yang dirahasiakan hati.*
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسۡأَلُكَ رِضَاكَ وَالۡجَنَّةَ،
وَأَعُوۡذُ بِكَ مِنۡ سَخَطِكَ وَالنَّارِ.
*Ya Alloh, sesungguhnya aku mohon pada-Mu ridho-Mu dan sorga, dan aku mohon perlindungan pada-Mu dari murka-Mu dan neraka.*
DOA PERLINDUNGAN
اللَّهُمَّ إنِّي أعُوذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ، والكَسَلِ، والجُبْنِ، والبُخْلِ، والهَرَمِ، والقَسْوَةِ، والغَفْلَةِ، والعَيْلَةِ، والذِّلَّةِ، والمَسْكَنَةِ، وأعُوذُ بِكَ مِنَ الفَقْرِ، والكُفْرِ، والفُسُوقِ، والشِّقاقِ، والنِّفاقِ، والسُّمْعَةِ، والرِّياءِ، وأعُوذُ بِكَ مِنَ الصَّمَمِ، والبَكَمِ، والجُنُونِ، والجُذامِ، والبَرَصِ، وَسَيِّىءِ الأَسْقامِ (رواه الحاكم)
*Ya Alloh, sesungguhnya aku mohon perlindungan pada-Mu dari lemah, malas, penakut, pelit, pikun, keras hati, lalai, melarat, ashor, jatuh, dan aku mohon perlindungan pada-Mu dari melarat, kafir, fasik, pecah, kemunafikan, pamer pendengaran, pamer penglihatan, dan aku mohon perlindungan pada-Mu dari tuli, bisu, gila, lepra, belang, dan jeleknya penyakit/sakit.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَدْمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ التّرَدِّي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْغَرَقِ، وَالْحَرَقِ، وَالْهَرَمِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِراً، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغاً* رواه ابو داود
Ya Allah, hamba berlindung kepada-Mu dari kejatuhan ( longsor ), dan berlindung pada-Mu dari tergelincir, dan berlindung pada-Mu dari tenggelam (banjir), terbakar dan pikun, berlindung pada-Mu apabila syetan menjerumuskan ketika akan mati, dan berlindung pada-Mu apabila mati dalam keadaan mundur dari agama-Mu dan berlindung pada-Mu apabila mati karena disengat.
١~ *اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي، وَمَالِي،
Ya Alloh, aku mohon pengampunan kpd Mu, Dan mohon keselamatan dari sgl bahaya, di dunia dan akhirot,. Ya Alloh aku mohon pengampunan dan keselamatan didlm agama ku, dunia ku, kekuargaku, Dan harta ku..
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ، وَالعَجْزِ وَالكَسَلِ،
وَالبُخْلِ وَالجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan penakut, dan dari lilitan hutang dan penindasan.
اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، واحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي”.*
Ya Alloh Tutup lah rahasia ku, aman kan lah rasa takut ku,, Dan jagalah aku dr depanku, dari belakangku, dari kananku, dari kiriku, dari atas ku, dan aku mohon berlindung kpd Mu, agar aku tdk di rusak dari bawah ku…
*اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا فِي ضَمَانِكَ وَأَمَانِكَ وَإِحْسَانِكَ بِعِزَّتِكَ وَجَلاَلِكَ يَا رَبَّ الْعَا لَمِيْن*َ
Ya Alloh.. Jadikanlah kami di dalam tanggungan Engkau.. keamanan Engkau, kebaikan Engkau .. dgn kemulyaan Engkau serta Keagungan Engkau.. Wahai dzat Semesta alam..
*اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ آمِناً مُطْمَئِنًا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْن*َ
*اَللّهُمَّ اجْعَلِ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ يَخَافَُكَ وَيَتَّقِيْكَ ،اللّٰهُمَّ اجْعَلْ كَلِمَةَ الْمُسْلِمِيْنَ عَلَى الْحَقِّ ، اللّٰهُمَّ أٰمِنَّا أَوْطَانَنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَا ةَ أُمُوْرِنَا وَأَيَّدْهُمْ بِالْحَقِّ وَخُذْ بِنَوَاصِيْهِمْ إِلَى الْخَيْرِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن*
Ya Allah jadikanlah negara ini aman, tenang, begitu juga seluruh negara2 islam.
Ya Alloh jadikanlah wilayah kami tergolong orang-orang yg takut kepada Mu, dan sangat takut kepada Mu, ya Alloh jadikanlah ucapannya orang-orang islam selalu benar, ya Alloh amankanlah tanah air kami, dan jadikanlah baik para pemimpin kami, dan para pengatur perkara kami, dan kuatkanlah mereka pada kebenaran, dan pegang lah ubun2 mereka pada kebaikan,, wahai Tuhan semesta Alam.
*اَللَّهُمَ اِنِّى اَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَ مِنْ شَرِّ بَصَرِى وَ مِنْ شَرِّ لِسَانِى وَ مِنْ شَرِّ قَلْبِى وَ مِنْ شَرِّ مَنِيِّ.*
Ya Alloh sesungguh nya aku berlindung kpd Mu dari jeleknya pendengaranku, dan dari jeleknya penglihatanku, dan dari jeleknya lisan ku, dan dari jeleknya hatiku, dan dari jelek nya mani ku( zina).
*َ اَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُبِكَ مِنَ الْغَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أََرْحِمَ الرَّاحِمِيْن*َ
Ya Alloh sesungguh nya aku berlindung kpd Mu dari paceklik, wabah, riba, zina, guncangan, berbagai fitnah dan jeleknya cobaan2 yg lahir maupun yg batin dg Rohmat Mu wahai dzat yg paling menyayangi.
A’uudzu bikalimaatillahit taammati min kulli syaithonin wa haam matin wa mingkulli ‘aiinin laammah.
Artinya : ”Aku berlindung dengan kalimat Alloh yang Maha Sempurna dari syaitan yang menggoda dan dari pandangan mata yang menyeramkan.” (HR. Bukhari, no. 3371).
” Dengan nama Allah, aku berlindung kepada kalimat Allah yang sempurna dari kemurkaan dan siksaan-Nya, dari kejahatan hamba-hamba-Nya, dan dari bisikan serta kedatangan setan-setan kepadaku. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad).
اَعُوْذُبِوَجْهِ اللهِ الْكَرِيْمِ وَبِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ الَّتِى لَايُجَاوِزُ هُنَّ بَرٌّ وَلَافَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَايَنْزِلُ مِنَ السَّمَآءِ وَمِنْ شَرِّمَا يَخْرُجُ فِيْهَا وَمِنْ شَرِّمَا ذَرَأَ فِى الْأَرْضِ وَمِنْ شَرِّمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمِنْ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَرِ وَمِنْ طَوَارِقِ اللَّيْلِ وَالنَّهَرِ إِلَّاطَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرِ يٰارَحْمٰنُ
A’uudzu biwaj’hillaahil kariim wa bikalimaatil laahit taammaatil latii laa yujaawizuhunna barrun wa laa faajirun min syarri maa yanzilu minas-samai wa min syarri maaya’ ruju fiiha wa min syarri maa dzaro-a fiil ardhi wa min syarri ma yakhruju minhaa wa min fitanil laili wan nahaari Wa min thawaariqil laili wannahaari illa thooriqan yathruqu bikhairin ya rahman.
Artinya: “Dengan nama Allah yang pengasih dan penyayang. Aku berlindung kepada Allah yang maha pemurah dan berpegang teguh pada kalimat-kalimat-Nya yang sempurna yang tidak dapat dipengaruhi oleh siapapun juga, baik orang taat maupun orang fasik, dari kejahatan yang turun dari langit dan kejahatan yang naik ke langit, kejahatan yang ada di muka bumi dan kejahatan yang keluar dari bumi. Kejahatan fitnah-fitnah dan peristiwa yang membawa akibat buruk yang terjadi siang dan malam, kecuali peristiwa yang membawa kebaikan. Wahai Tuhan kami yang maha Rahman (pengasih).”
ٍ بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْنَا عَلَى اللهِ
سْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (١) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢)الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (٥) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ* الم * ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ * وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ * أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
[Surat Al-Baqarah 1 – 5]
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ *
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
[Surat Al-Baqarah 255 – 257]
لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ * آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ * لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
[Surat Al-Baqarah 284 – 286]
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (*) اللَّهُ الصَّمَدُ (*) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (*) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
لَوْ أَنزلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (*) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (*) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (*) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Nomor 1.
١. لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلملْكُ وَ لَهُ اْلحَمْدُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
(رواه البخارى كتاب الدعوات)
Artinya:
Tidak ada Tuhan selain Alloh yang Esa, aku tidak menyekutukan pada Alloh, kerajaan milik Alloh, bagi Alloh segala puji dan Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dibaca 100 kali dalam sehari.
Keutamaan:
Nomor 2.
٢. سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِهِ
(رواه البخارى كتاب الدعوات)
Artinya:
Alloh Maha Suci dengan memuji kepada Alloh
Dibaca 100 kali dalam sehari.
Keutamaan:
Alloh mengampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih lautan.
Nomor 3.
٣. سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ اْلعَظِيْمِ
(رواه البخارى كتاب الدعوات ٦/١٠٧)
Artinya:
Alloh Maha Suci yang Agung, Alloh Maha Suci dengan memuji kepada Alloh
Dibaca sebanyak-banyaknya.
Keutamaan:
Dua kalimat yang ringan atas lisan namun berat didalam timbangan, Alloh Yang Maha Pengasih senang dengan 2 kalimat ini.
Nomor 4.
٤. لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ وَ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
(رواه الترمذى)
Artinya:
Tidak ada Tuhan selain Alloh, Alloh Maha Besar, tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan Alloh.
Keutamaan:
Alloh mengampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih lautan.
Nomor 5.
٥. أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِى لاَ إِلٰهَ إِلاَّ هُوَ اْلحَيَّ اْلقَيُّوْمَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْهِ
(رواه ابو داود)
Artinya:
Saya minta ampun kepada Alloh, yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, Dzat Yang Hidup, Dzat Yang Tegak, saya tobat kepada Alloh.
Keutamaan:
Alloh mengampuni dosa-dosanya walaupun lari dari perang.
Nomor 6.
٦. رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَ بِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا وَ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ رَسُلاً
(رواه ابو داود)
Artinya:
Saya ridho Alloh sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Nabi Muhammad saw sebagai Utusan.
Keutamaan:
Wajib masuk Syurga bagi yang membacanya.
Nomor 7.
٧. سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَ أَتُوْبُ إِلَيْكَ
(رواه الترمذى)
Artinya:
Maha Suci bagi Engkau (Alloh), ya Alloh dengan memuji kepada Mu, saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Engkau, saya minta ampun kepada Mu, dan saya tobat kepada Mu.
Dibaca saat akan berdiri dari duduk.
Keutamaan:
Alloh menagmpuni lahan-lahan/ dosa selama duduk.
Nomor 8.
٨. رَبِّ اغْفِرْلِى وَ تُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
(رواه ابو داود)
Artinya:
Wahai Tuhanku ampunilah aku, semoga menerima tobatku, sesungguhnya Engkau Dzat yang menerima tobat lagi Maha Penyayang.
Biasa dibaca Nabi sebanyak 100 kali setiap duduk.
Nomor 9.
٩. بِسْمِ اللهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِى اْلأَرْضِ وَ لاَ فِى السَّمَاءِ وَ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
(رواه الترمذى)
Artinya:
Dengan nama Alloh Dzat yang tidak memelaratkan beserta namaNya sesuatu dibumi dan tidak memelaratkan dilangit dan Dia Maha Mendenngar lagi Maha Mengetahui.
Dibaca pagi 3 kali dan sore 3 kali.
Keutamaan : Dijaga dari segala bahaya/ mudharat.
(رواه الترمذى ج ١٢ ابواب الدعاء)
Artinya :
Ya Alloh Engkau Tuhanku, tidak ada Tuhan kecuali Engkau yang telah menciptakan aku dan aku hambaMu dan aku pada agamaMu dan metetapi janjiMu sepenuh kemampuanku, aku berlindung padaMu dari jeleknya apa-apa yang bernuat aku dan aku tobat padamu dengan nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosa-dosaku maka ampunilah aku atas dosa-dosaku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.
Do’a Raja Istighfar dibaca pagi dan sore.
Keutamaan :
Nomor 11.
١١. لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ اْلعَلِيُّ اْلحَلِيْمُ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمٰوَاتِ وَ اْلاَرْضِ وَ رَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ
(رواه الترمذى)
Artinya:
Tidak ada Tuhan kecuali Alloh Yang Maha Luhur lagi Aris, tidak ada Tuhan kecuali Alloh Tuhannya Arsy yang Agung, tidak ada Tuhan kecuali Alloh Tuhannya langit dan bumi dan Tuhannya Arsy yang Mulia.Dibaca bila tertimpa kesusahan.
Nomor 12.
( masing-masing dibaca: 100x)
(رواه الترمذى)
Subhalallah 100x, Alhamdulillah 100x, Allahu Akbar 100x, Laa ilaaha illallah 100x
Artinya:
Maha Suci Alloh, Segala Puji bagi Alloh, Tidak ada Tuhan kecuali Alloh, Alloh Maha Besar.
Do’a pagi dan sore.
Keutamaan :
Nomor 13.
١٣. اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِى عَافَانِى مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَ فَضَّلَنِى عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّن خَلَقَ تَفْضِيْلاً
(رواه الترمذى)
Artinya:
Segala puji bagi Alloh, Dzat yang mengampuni padaku dari apa-apa yang mencoba Engkau dengan apa-apa dan Engkau telah memberi keutamaan padaku yang banyak, termasuk orang yang Engkau ciptakan pada keutamaan.
Dibaca bila melihat orang yang tertimpa cobaan.
Keutamaan : Cobaan tsb tidak akan menimpa orang yang membaca do’a ini.
*KEUTAMAAN ISTIGHFAR*
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang melazimkan istighfar, Allah akan menjadikan dari setiap kesedihan kelonggaran, dan dari setiap kesempitan jalan keluar dan memberi rezeki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(HR. Ibnu Majah: 3819)
DOA ISTIKHARAH
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي (عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ) فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي ( فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ) فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي
“Ya Allah aku memohon pilihan kepadaMu dengan ilmuMu dan memohon kemampuan dengan kekuasaanMu dan memohon kepadaMu dengan karuniaMu yang Agung, karena Engkau Maha berkuasa sedang aku tidak berkuasa, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui karena Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini atau Beliau bersabda; di waktu dekat atau di masa nanti maka takdirkanlah buatku dan mudahkanlah kemudian berikanlah berkah padanya. Namun sebaliknya, ya Allah bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini atau Beliau bersabda; di waktu dekat atau di maa nanti maka jauhkanlah urusan dariku dan jauhkanlah aku darinya dan tetapkanlah buatku urusan yang baik saja dimanapun adanya kemudian paskanlah hatiku dengan ketepanMu itu.”
لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، *_وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَالحَمْدُ لِلَّهِ،_* وَلاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّابِاللَّه
*Istighfar*
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي / اَسْتَغْفِرُ اللَّه x3
*Doa Pengampunan Dosa*
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Ali Imron 147
۔… رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسۡرَافَنَا فِىٓ أَمۡرِنَا وَثَبِّتۡ أَقۡدَامَنَا وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡڪَـٰفِرِينَ
Al A’rof 23 (Doa Nabi Adam AS)
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Ibrahim 41 (Mendoakan kedua Orang Tua)
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
Al Hasr 10
۔… رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
*Asmaul Husna*
يَااللَّهُ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا اَنْت, يَارَحْمٰن,ُيَارَحِيمُ, يَامَلِكُ,يَاقُدُّوسُ, يَاسَلَامُ, يَامُؤْمِنُ, يَامُهَيْمِنُ, يَاعَزِيزُ, يَاجَبَّارُ, يَامُتَكَبِّرُ, يَاخَالِقُ،َ يابَارِئُ, يَامُصَوِّرُ, يَاغَفَّارُ, يَاقَهَّارُ,يَاوَهَّاب,ُ يَارَزَّاق,ُ يَافَتَّاحُ, يَاعَلِيمُ, يَاقَابِضُ, يَابَاسِطُ, يَاخَافِضُ, يَارَافِعُ, يَامُعِزُّ, يَامُذِلُّ, يَاسَمِيعُ, يَابَصِيرُ, يَاحَكَمُ يَاعَدْلُ, يَالَطِيفُ, يَاخَبِيرُ, يَاحَلِيمُ, يَاعَظِيمُ, يَاغَفُورُ, يَاشَكُورُ, يَاعَلِيُّ, يَاكَبِيرُ, يَاحَفِيظُ, يَامُقِيتُ, يَاحَسِيبُ، يَاجَلِيلُ، يَاكَرِيمُ، يَارَقِيبُيَامُجِيبُ، يَاوَاسِعُ، يَاحَكِيمُ، يَاوَدُودُ، يَامَجِيدُ، يَابَاعِثُ، يَاشَهِيدُ، يَاحَقُّ،يَاوَكِيلُ، يَاقَوِيُّ، يَامَتِينُ، يَاوَلِيُّ، يَاحَمِيدُ ،يَامُحصِي، يَامُبْدِئُ، يَامُعِيدُ، يَامُحيِي، يَامُمِيتُ، يَاحَيُّ، يَاقَيُّومُ، يَاوَاجِدُ، يَامَاجِدُ، يَاوَاحِدُ، يَاصَمَدُ، يَاقَادِرُ، يَامُقْتَدِرُ، يَامُقَدِّمُ، يَامُؤَخِّرُ، يَاأَوَّلُ، يَاآخِرُ، يَاظَاهِرُ، يَابَاطِنُ، يَاوَالِيَ، يَامُتَعَالِي، يَابَرُّ، يَاتَوَّابُ، يَامُنْتَقِمُ، يَاعَفُوُّ، يَارَءُوفُ، يَامَالِكَ الْمُلْكِ،يَاذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَامُقْسِطُ، يَاجَامِعُ، يَاغَنِيُّ، يَامُغْنِي، يَامَانِعُ، يَاضَارُّ، يَانَافِعُيَانُورُ، يَاهَادِي، يَابَدِيعُ، يَابَاقِي، يَاوَارِثُ، يَارَشِيدُ، يَاصَبُورُ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيد

KEKUATAN DO’A TERNYATA MAMPU MENANGKAL PENYAKIT GANAS YANG BISA MENYERANG SIAPA SAJA.
Berikut ini antara lain adalah do’a-do’a dan bacaan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ dan dlm JM agar terhindar dari penyakit ganas :
1.DO’A MOHON KESEHATAN DAN RIDHO TERHADAP TAKDIR DARI ALLOH
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الصِّحَّةَ وَالْعِفَّةَ وَالأَمَانَةَ وَحُسْنَ الْخُلُقِ وَالرِّضَا بِالْقَدَرِ. فى الأدب المفرد للبخاري
Artinya :
Ya Alloh sesungguhnya aku memohon kepadaMu kesehatan, penjagaan, amanah, bagusnya akhlak dan menerima takdir dariMu.(HR. Bukhori fi adabil mufrod)
Teks maret 2020
2.DO’A MOHON PENGAMPUAN DAN ‘AFIAH
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ‚ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآ خِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رواه الطبرانى فى الأوسط
Artinya :
Ya Alloh, sesungguhnya aku mohon kepadaMU pengampunan, keselamatan (dari segala penyakit) dan ‘afiyah (keselamatan dari segala kekurangan) di dunia dan akhirat
Ya Alloh, berikanlah kepadaku kebaikan di dunia dan akhirot dan jagalah aku dari siksa neraka.(HR.Tobroni fil ausath)
Teks maret 2020
3. DO’A AGAR TERHINDAR DARI PENYAKIT BERBAHAYA seperti virus Corona:
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْلُ : (اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، وَالجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ). رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ.
Dari Anas RA bahwa Nabi Saw berdoa :
Ya Alloh, aku berlindung kepadaMu dari penyakit kulit, gila, lepra, dan dari penyakit penyakit yang jelek/mengerikan (misal: virus corona)(HR.Abu Daud. hadits shahih)
Teks maret 2020
4.DO’A MOHON PERLINDUNGAN DARI WABAH DAN PACEKLIK
اَللّٰهُمَّ اِنِّي اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْغَلَاءِ وَالْوَبَاءِ وَالرِّبَا وَالزِّنَا وَاْلزَّلَازِلِ وَالْمِحَنِ وَسُوءِالْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Artinya :
Ya Alloh, aku berlindung kepadaMu dari paceklik, wabah, riba, zina, keguncangan dan berbagai fitnah, dan jeleknya beberapa cobaan yang lahir maupun batin, dengan rohmatMu wahai Alloh Dzat yang paling menyayangi. Teks maret 2020
5.DO’A AGAR TERHINDAR DARI BALA’ DAN PENYAKIT YANG MEMBAHAYAKAN
Dari Anas Rodhiyallohu ‘Anhu bahwa Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam berdoa :
اللّهُمَّ إِنَّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ، وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ، وَالبُخْلِ، وَالْهَرَمِ، وَالْقَسْوَةِ، وَالْغَفْلَةِ، وَالْعِيْلَةِ، وَالذِّلَّةِ، وَالْمَسْكَنَةِ، وَأَعُوذُبِكَ مِنَ الْفَقْرِ, وَالْكُفْرِ، وَالْفُسُوْقِ، وَالْشِّقَاقِ، وَالنِّفَاقِ، وَالسُّمْعَةِ، وَالرِّيَاءِ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ الصَّمَمِ، وَالْبَكَمِ، وَالْجُنُوْنِ، وَالجُذَامِ، وَالْبَرَصِ، وَسَيِّئِ الْأَسْقَامِ. المستدرك على الصحيحين للحاكم والبيهقي عن انس
Ya Alloh, Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari lemah pisik, malas (mampu mengerjakan namun tidak mau mengerjakannya), sifat penakut, pelit, pikun, keras hati, lalai(ibadah dan kewajiban),mlarat (berat tanggungan), hina, dan jatuh.
Dan aku berlindung kepadaMu dari kefakiran (kemiskinan), kekufuran, kefasikan(tidak thoat/melanggar), menentang, kemunafikan, sum’ah (Pamer pendengaran/memperdengarkan amalan kpd orang lain), riya’ (pamer penglihatan/ memperlihatkan amalan kpd orang lain), dan aku berlindung kepadaMu dari tuli, bisu, gila, penyakit lepra, belang, dan berbagai macam penyakit yg jelek/ mengerikan.(Shahih: HR. Al-Hakim walbahaqi Anans)
Teks Okt 1993 & Sept 2018
6. DO’A BERLINDUNG DARI HILANGNYA NIKMAT DAN DATANGNYA PENYAKIT.
Dari ‘Abdulloh bin ‘Umar Rodiyallohu ‘Anhuma, dia berkata, “Di antara doa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam adalah:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ. رواه مسلم
Ya Alloh Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksaMu yang datang secara tiba-tiba, dan berlindung dari segala kemurkaanMu. (HR. Muslim )
Faedah dari hadits di atas:
Pertama:
Yang dimaksud nikmat di sini adalah nikmat hidayah (QHJ dan ni’mat dunia) Jadi dalam do’a ini kita berlindung dari hilangnya nikmat-nikmat tersebut. Maksud hilangnya nikmat adalah nikmat tersebut dicabut oleh Alloh.
Kedua :
Yang dimaksud dengan berubahnya kesehatan (‘Afiyah) adalah nikmat sehat tersebut berubah menjadi sakit.
Berpindahnya nikmat ‘afiyah dari pendengaran, penglihatan dan anggota tubuh lainnya.
Jadi maksud do’a ini kita mohon kepada Alloh selalu dlm keadaan sehat (tidak berubah menjadi penyakit) pada pendengaran kita, penglihatan dan anggota tubuh lainnya.
Ketiga :
Yang dimaksud fuja’ah adalah datang tiba-tiba. Sedangkan “niqmah” adalah siksa dan murka. Dalam do’a ini berarti kita berlindung pada Alloh dari datangnya ‘adzab, siksa dan murka Alloh yang datangnya tiba-tiba.
Keempat :
Dalam do’a ini, kita juga meminta pada Alloh agar terlindung dari murkaNya yaitu segala hal yang dapat mengantarkan pada murka Alloh.
7.DO’A BERLINDUNG KEPADA ALLOH DARI BALA’ DAN MALAPETAKA YANG MENIMPA
Dari Abu Huroiroh Rodiyallohu ‘Anhu
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ. رواه البخارى ومسلم
Ya Alloh Kami berlindung kepadaMu dari beratnya musibah yang tak mampu ditanggung, dari datangnya sebab-sebab kebinasaan, dari buruknya akibat apa yang telah ditakdirkan, dan gembiranya musuh atas penderitaan yang menimpa.
[Muttafaq ‘alaih]
8. DO’A AGAR TERHINDAR DARI KEJELEKAN DAN KEJAHATAN
Dari Utsman bin Affan
Rosululloh Saw bersabda, ” Siapa saja yang membaca pada setiap pagi hari dan setiap sore hari 3x:
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. رواه الترمذى حسن صحيح
Niscaya tidak ada sesuatupun yang akan mencelakainya.
[HR. At-Tirmidzi, hadits hasan shohih ]
9.DO’A PERMOHONAN PENJAGAAN DAN PERLINDUNGAN YANG SEMPURNA DARI SEGALA PENJURU dan PENGAYUMAN
Hadits dari Abdulloh bin ‘Umar Rodiyallohu ‘Anhuma, disebutkan bahwa Rosululloh tidak pernah meninggalkan doa-doa berikut ini ketika waktu pagi dan sore hari :
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِيْ، وَآمِنْ رَوْعَاتِيْ، وَاحْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ،وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِينِيْ، وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ. رواه ابن ماجة وابوداود صحيح
Ya Alloh sesungguhnya aku memohon kpdMu pengampunan dan keselamatan dari segala bahaya di dunia dan akhirat.
Ya Alloh sesungguhnya aku memohon kpdMu pengampunan dan keselamatan segala bahaya di dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku.
Ya Alloh tutupilah auratku (aibku) dan berilah keamanan (hilangkanlah) dari rasa takutku.
Ya Alloh, jagalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri dan dari atasku.
dan Aku berlindung kpdMu agar aku tidak dirusak dari bawahku (berlindung dari dibenamkan ke dalam bumi)”
[HR.Abu Dawud, hadits shohih]
Do’a ini dibaca diwaktu pagi dan sore
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فيِ ضَمَانِكَ وَأَمَانِكَ وَإِحْسَانِكَ بِعِزَّتِكَ وَجَلاَلِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
Yaa Alloh jadikanlah aku di dalam tanggunganmu (jaminan keamananmu), keamananmu dan kebaikanmu dengan kemulyaanmu dan keagunganmu wahai tuhan alam semesta
اللَّهُمَّ أَنْجِ أَئِمَّتَنَا اللَّهُمَّ أَنْجِ جَمَاعَتَنَا اللَّهُمَّ انْصُرْ أَئِمَّتَنَا اللَّهُمَّ انْصُرْ جَمَاعَتَنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ أَئِمَّتَنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ جَمَاعَتَنَا اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا اللَّهُمَّ أَصْلِحْ جَمَاعَتَنَا اللَّهُمَّ اشْفِ أَئِمَّتَنَا اللَّهُمَّ اشْفِ جَمَاعَتَنَا اللَّهُمَّ احْفَظْ أَئِمَّتَنَا اللَّهُمَّ احْفَظْ جَمَاعَتَنَا.
اللَّهُمَّ نَجِّنَا وَأَهْلِيْنَا وَأَئِمَّتَنَا وَجَمَاعَتَنَا مِنَ اْلقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَأَعْمَالِهِمْ
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ جَمَاعَتَنَا عَلَى دِيْنِكَ وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَاشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَاشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مَنْ أَفْسَدَنَا، وَاشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مَنْ خَانَنَا، وَاشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلجَمَاعَةَ وَأَذِلَّ اْلفِرْقَةَ اْلكَفَرَةَ.
اللّهُمَّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ أٰمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ .
اللّهُمَّ اجْعَلْ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ يَخَافُكَ وَيَتَّقِيْكَ، اللّهُمَّ اجْعَلْ كَلِمَةَ الْمُسْلِمِيْنَ عَلَى الْحَقِّ،
Yaa Alloh jadikanlah wilayah kami didalam golongan orang yg selalu takut dan taqwa kepada engkau,
Yaa Alloh jadikanlah kalimatnya orang2 islam dalam kebenaran
اللّهُمَّ أٰمِنَّا أَوْطَانَنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ أُمُوْرِنَا وَأَيِّدْهُمْ بِالْحَقِّ وَخُذْ بِنَوَاصِيْهِمْ إِلَى الْخَيْرِ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ .
Yaa Alloh berilah keamanan negara kami, perbaikilah imam kami dan pengatur perkara kami, kuatkanlah mereka dengan kebenaran, ambillah kebaikan pada ubun2 mereka wahai Tuhan alam semesta
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا فِي أَئِمَّتِنَا وَجَمَاعَتِنَا وَأَهْلِيْنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَفِيْمَا رَزَقْتَنَا وَبَارِكْ لَناَ فِيْهِمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ.
Ya Alloh jadikanlah baik untuk kami di dlm imam kami, jama’ah kami, keluarga kami, istri2 kami, Anak turun kami, harta kami, di dlm rizqi kami, dan berilah barokah kami di dlm mereka di dunia dan Akhirot
(تيك نوفيمر ٢٠١٨,أكوستوس٢٠١٩& فيبواري٢٠٢٠)
10.DO’A MINTA TETEP IMAN & KEWARASAN
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا دَائِمًا، وَأَسْالُكَ قَلْبًا خَاشِعًا، وأَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وأَسْأَلُك يَقِيْنًا صَادِقًا، وأَسْالُكَ دِيْنًا قَيِّمًا، وأَسْأَلُكَ الْعَافِيةَ مِنْ كُلِّ بَلِيَّةٍ، وأَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعافِيَةِ، وَأَسْأَلُكَ دَوَامَ الْعَافِيَةِ، وأَسْألُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ، وأَسْأَلُكَ الْغِنَى عَنِ النَّاسِ ( رواه الحكيم الترمذي
Ya Alloh aku mohon kpdmu keimanan yg tetap, Ya Alloh aku mohon kpdmu hati yg khusu’, Ya Alloh aku mohon kpdmu ilmu yg manfaat, Ya Alloh aku mohon kpdmu keyakinan yg benar, Ya Alloh aku mohon kpdmu agama yg tegak, Ya Alloh aku mohon kpdmu kewarasan selamat dari segala bahaya, Ya Alloh aku mohon kpdmu sempurnanya kewarasan, Ya Alloh aku mohon kpdmu kekalnya kewarasan, Ya Alloh aku mohon kpdmu mensyukuri kewarasan dan Ya Alloh aku mohon kpdmu kekayaan jauh dari manusia (tidak tergantung dengan orang lain)(تيك ١٢/٢٠١٩)
11. DO’A MOHON SEHAT JASMANI DAN ROHANI
“Do’a Rosululloh ﷺ berikut:
اللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ،اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ. رواه ابوداود حديث حسن
Artinya:
Ya Alloh berikanlah kesehatan untuk badanku, bagi pendengaranku dan penglihatanku. Tidak ada Sesembahan yang berhak untuk disembah selain Engkau.
Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung diri kepadaMu dari kekufuran dan kefakiran.
Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur. Tidak ada Sesembahan yang berhak untuk disembah selain Engkau.”
[ HR. Abu Dawud. Hadits hasan ]
Dibaca 3x pagi dan sore
12.Do’a perlindungan dari musibah/bencana dunia dan Agama
عَنْ أَبِي الْيَسَرِ، أَنَّ رَسُولَ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ اْلهَدْمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْغَرَقِ، وَالْحَرَقِ، وَالْهَرَمِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا» * رواه أبو داود
(تيك جانواري ٢٠٠٦)
dari Abul Al Yasar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a: “ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL HADMI WA A’UUDZU BIKA MINAT TARADDII, WA A’UUDZU BIKA MINAL GHARAQI, WAL HARAQI, WAL HARAMI, WA A’UUDZU BIKA AN YATAKHABBATHANIISY SYAITHAANU ‘INDAL MAUTI WA A’UUDZU BIKA AN AMUUTA FII SABIILIKA MUDBIRAN, WA A’UUDZU BIKA AN AMUUTA LADIIGHAN” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kerobohan dan aku berlindung kepadaMu dari tabrakan/kebinasaan, aku berlindung kepadaMu dari tenggelam, terbakar dan dari pikun, aku berlindung kepadaMu agar jangan sampai syetan menggelincirkanku ketika aku akan mati(tidak bisa mengucapkan tahlil saat akan mati), dan aku berlindung kepadaMu dari mati dijalanMu dalam keadaan lari (murtad) dan aku berlindung kepadaMu dari mati karena tersengat (seperti binatang ular,kolojengking ,listrik).
13. KEUTAMAAN MEMBACA DUA AYAT TERAKHIR DARI SURAT AL-BAQOROH
Alloh akan melindungi dari kejahatan dan marabahaya :
Dari Abu Mas’ud rodiyallohu ‘anhu Rosululloh Saw bersabda :
مَنْ قَرَأَ الْآيَتَيْنِ مَنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَتِهِ كَفَتَاهُ. رواه البخارى
Barang siapa membaca dua ayat terakhir dari Surat al-Baqoroh dalam suatu malam, niscaya itu akan mencukupinya.
[HR. Bukhori ]
Maksudnya, dicukupi perlindungan dari marabahaya, keburukan dan kejahatan.
14. KEUTAMAAN MEMBACA SURAT AL-IKHLASH, FALAQ DAN AN-NAS
Dari Abdulloh bin Khubaib Rodhiyallohu ‘Anhu, sesungguhnya ia berkata, “pada suatu malam, saat hujan deras dan kegelapan yang pekat, kami mencari Rosûlulloh Saw untuk mengimami sholat, kemudian aku menemukan Beliau. Beliau Saw bersabda, ‘Ucapkanlah!’, Namun aku tidak mengucapkan apa-apa. Kemudian Beliau berkata (lagi), ‘Ucapkanlah!’ Aku belum juga mengucapkan apa-apa. Beliau berkata (lagi), ‘Ucapkanlah’. Aku bertanya, ‘Apa yang harus aku ucapkan?’ Beliau Shillallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ‘Bacalah’
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُصْبِحُ وَحِينَ تُمْسِي ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ. رواه ابو داود حسن
Bacalah Qul huwallohu Ahad dan surat al-mu’awidzatain (al-falaq dan an-nas) ketika engkau membaca di sore hari dan pagi hari tiga kali, maka bacaan itu akan mencukupkan bagimu untuk melindungimu dari segala sesuatu kejelekan dan kejahatan.
[HR. Abu Dawud, hadist hasan]
1, Membaca ta’awudz ( ( أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم )
Alloh berfirman :
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّههُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيْمُ
“Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan maka berlindunglah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”( * سورة فصلت 36)
Imam Bukhori meriwayatkan ada dua orang bertengkar di dekat Nabi sampai merah mukanya dan membesar urat-urat lehernya, maka Nabi bersabda : sesungguhnya aku mengerti satu kalimat kalau dia mengucapkannya maka hilang marahnya, jika dia mau mengucapkan اعوذ بالله من الشيطانniscaya hilang apa-apa yang ia temui ( marahnya ). (HR. Bukhori juz III hal. 1195)
2. Membaca surat mu’awwidzatain.
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَتَعَوَّذُ مِنَ الْجَانِ وَعَيْنِ اْلإِنْسَانِ حَتَّى نَزَلَتِالْمُعَوِّذَتَانِ فَلَمَّا نَزَلَتَا أَخَذَ بِهِمَا وَتَرَكَ مَاسِوَا هُمَا
* رواه الترمذى
“Dari Abu Said dia berkata adalah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam itu mohon perlindungan kepada Alloh dari jin dan sawanan mata manusia hingga turun سورة الفلق dan سورة الناس, ketika keduanya telah turun maka beliau mengambil dua surat tersebut dan meninggalkan yang lainnya.”
3. Membaca ayat kursi
Imam Bukhori meriwayatkan : berkata Abu Huroiroh : dia (syetan) berkata
kepadaku :
إِذَا أَوَيْتَ إِلىَ فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ أيَةَ اْلكُرْسِىِّ مِنْ أَوَّلِهَا
حَتَّى تَخْتِمَ : اللهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَقَالَ
لىِ : لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ
حَتَّى تُصْبِحَ وَكَانُوْا أَحْرَصَ شَيْئٍ عَلىَ الْخَيْرِ فَقَالَ
النَّبِيٌّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ
وَهُوَ كَذُوبٌ. تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلاَثَ لَيَالٍ يَا أَبَا
هُرَيْرَةَ قَالَ لاَ قَالَ ذاَكَ شَيْطَانٌ رواه البخاري
“Jika engkau mengungsi ke tempat tidurmu maka bacalah ayat kursi dari awal
sampai selesai yaitu :الله لاَ إِلهَ اِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ,dia (syetan) berkata kepadaku : tidak henti-hentinya engkau mendapat enjagaan dari Alloh dan syetan tidak berani mendekat kepadamu sampai
shubuh.
Adalah para shohabat itu paling berkeinginan kepada (mempelajari) kebaikan aka Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : sesungguhnya dia elah benar kepadamu walaupun dia pendusta. Wahai Abu Hurairoh tahukah kamu
orang yang kamu ajak bicara sejak tiga malam? Abu Huroiroh berkata : tidak. aka beliau bersabda : dia itu syetan.”
4. Membaca surat Al-Baqoroh.
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ
اْلبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ * رواه مسلم
“Jangan kalian jadikan rumah kalian menjadi kuburan (tidak pernah dibacakan
Qur`an di dalamnya), sesungguhnya syetan itu lari dari rumah yang dibacakan
di dalamnya surat Al-Baqoroh.”
5. Membaca akhir surat Al-Baqoroh.
Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
إِنَّ الله كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ بِأَلْفَيْ عَامٍ
أَنْزَلَ مِنْهُ أيَتَيْنِ خَتَمَ بِهِمَا سُوْرَةَ الْبَقَرَةِ فَلاَ
يُقْرَءاَنِ فىِ دَارٍ ثَلاَثَ لَيَالٍ فَيَقْرَبُهَا شَيْطَانٌ * رواه الترمذى
“Sesungguhnya Alloh menulis kitab dua tahun sebelum Alloh menciptakan
makhluk, Alloh menurunkan dari padanya dua ayat yang Alloh menutup dengan
kedua ayat tersebut pada surat Al-Baqoroh, maka tidak dibaca dua ayat itu
dalam rumah selama tiga hari kecuali syetan tidak berani mendekatnya.”
6. Membaca awalnya surat Al-mu`min sampai dengan ayat ( إِلَيْهِ
الْمَصِيرِ) bersama ayat kursi.
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ قَرَأَ حمٍ اْلمُؤْمِنَ إِلىَ قَوْلِهِ ( إِلَيْهِ اْلمَصِيْرُ ) وَأيَةَ
الْكُرْسِىِّ حِيْنَ يُصْبِحُ حُفِظَ بِهِمَا حَتَّى يُمْسِيَ وَمَنْ
قَرَأَهُمَا حِيْنَ يُمْسِى حُفِظَ بِهِمَا حَتَّى يُصْبِحَ * رواه الترمذى
“Barang siapa membaca حم المؤمن sampai firman Alloh إِلَيْهِ
الْمَصِيْرَ dan ayat kursi di waktu
shubuh maka dia dijaga sebab membaca dua surat tersebut hingga sore, dan
barang siapa membaca keduanya di waktu sore maka dijaga sebab membaca
keduanya hingga shubuh.”
7. Membaca seratus kali :
لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَئٍ قَدِيْرٌ
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ قَالَ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ
وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَئٍ قَدِيْرٌ فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ
كَانَتْ لَهُ عِدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ
وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ
يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ
بِهِ إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ * رواه البخاري
“Barang siapa yang membaca:
لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَئٍ قَدِيْرٌ
seratus kali dalam sehari, maka membandingi memerdekakan sepuluh budak dan
ditulis baginya seratus kebaikan dan dihapus dari padanya seratus kesalahan
dan bacaan itu baginya sebagai penjagaan dari syetan hari itu sampai sore
dan tidak datang seorang pun dengan yang lebih utama dari apa yang dia
datang dengannya kecuali seorang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.”
8. Memperbanyak dzikir kepada Alloh ‘Azza wajalla.
Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda menceritakan perintah Alloh
kepada Nabi Yahya bin Zakariya yang antara lain beliau menyuruh umatnya
dengan sabdanya :
وَأمُرُكُمْ أَنْ تَذْكُرُوْا اللهَ تَعَالىَ وَإِنَّ مِثْلَ ذَلِكَ كَمِثْلِ
رَجُلٍ خَرَجَ الْعَدُوُّ فىِ أَثَرِهِ سِرَاعًا حَتَّى أَتَى عَلَى حِصْنٍ
حَصِيْنٍ فَأَحْرَصَ نَفْسَهُ مِنْهُمْ ، كَذَالِكَ الْعَبْدُ لاَيَحْرُزُ
نَفْسَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلاَّ بِذِكْرِ اللهِ تَعَالىَ * رواه الترمذى فى
أكام المرجان
“Dan aku ( Yahya bin Zakariya) menyuruh kalian (kaumku) untuk berdzikir
kepada Alloh Ta’ala karena perumpamaannya ialah seperti seorang laki-laki
yang keluar diikuti oleh musuh secara cepat sehingga dia datang di sebuah
benteng yang membentenginya (dari musuh) maka dia bisa menjaga dirinya dari
(kejaran) mereka, begitu pula seorang hamba Alloh dia tidak bisa menjaga
dirinya dari syetan kecuali dengan dzikir kepada Alloh Ta’ala.”
9. Wudlu dan sholat.
Ini adalah sebesar-besar amalan untuk menjaga diri dari syetan. Rosululloh
Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ مِنَ النَّارِ
وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ
فَلْيَتَوَضَّأْ * رواه ابو داود فى كتاب الأدب
“Sesungguhnya marah itu dari syetan dan syetan itu dari api dan api itu
dipadamkan dengan air maka ketika salah satu dari kamu marah maka hendaklah
berwudlu.”
10. Menahan diri dari kelebihan pandangan, kelebihan ucapan dan makan serta
pergaulan dengan manusia, karena syetan menguasai manusia itu melalui empat
hal ini.
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
َالنَّظْرَةُ سَهْمٌ مَسْمُوْمٌ مِنْ سِهَاِم إِبْلِيسَ فَمَنْ غَضَّ بَصَرَهُ
للهِ عَزَّ وَجَلَّ أَوْرَثَهُ اللهُ حَلاَوَةً يَجِدُهَا فىِ قَلْبِهِ إِلىَ
يَوْمٍ يَلْقَاهُ * رواه أحمد
“Pandangan mata itu adalah anak panah beracun dari beberapa anak panah
Iblis, maka barang siapa menundukkan matanya karena Alloh ‘Azza wajalla
Alloh memberikan kepadanya manisnya iman yang dia temui dalam hatinya sampai
hari yang dia ketemu Alloh.”
11. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ
“Siapa yang singgah di suatu tempat, lalu ia membaca: A’udzu Bikalimaatillaahit Taammaati min Syarri Maa Khalaq (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya) maka tak ada sesuatupun yang membahayakannya sehingga ia beranjak dari tempatnya tersebut.”
(Hadis Riwayat Muslim)
Semoga kita yakin dengan pertolongan Allah dan dikabulkan do’a kita..
وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُوْلُ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ * سورة البقرة أية ١١٧
Artinya : Dan Ketika Allah menghendaki suatu perkara, Maka sesungguhnya Allah berfirman padanya “KUN”(adalah) dan akhirnya “FAYAKUNA” (maka ada yang di kehendaki).
{QS: Al-Baqoroh Ayat 117}
1. Doa Nabi Zakaria ;
رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ
“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa” (Qs.al-Furqon : 38)
2. Doa Nabi Ibrahim ;
رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku” (Qs.Ibrahim : 40)
3. Doa Agar Anak Beriman Dan Bertakwa ;
رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (Qs.al-Furqon : 74)
4. Doa Agar Anak Menjadi Sholeh Dan Sholehah ;
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ أَوْلَادَنَا أَوْلَادًا صَالِحِيْنَ حَافِظِيْنَ لِلْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ فُقَهَاءَ فِى الدِّيْنِ مُبَارَكًا حَيَاتُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ
(Allahummaj ‘al awladana awladan sholihiin haafizhiina lil qur’ani wa sunnati fuqoha fid diin mubarokan hayatuhum fid dun-ya wal akhirah)
“Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami anak yang sholih sholihah, orang-orang yang hafal Al-Qur’an dan Sunnah, orang-orang yang faham dalam agama dibarokahi kehidupan mereka didunia dan di akhirat”
5. Doa Agar Anak Berbakti Kepada Orang Tua ;
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَوْلَادِي وَلَا تَضُرَّهُمْ وَوَفِّقْهُمْ لِطَاعَتِكَ وَارْزُقْنِي بِرَّهُمْ
“Ya Allah berilah barokah untuk hamba pada anak-anak hamba, janganlah Engkau timpakan mara bahaya kepada mereka, berilah mereka taufik untuk taat kepadaMu dan karuniakanlah hamba rejeki berupa bakti mereka”.
6. Doa Agar Anak Menjadi Pintar ;
اَللَّهُمَّ امْلَأْ قُلُوْبَ أَوْلَادِنَا نُوْرًا وَحِكْمَةً وَأَهْلِهِمْ لِقَبُوْلِ نِعْمَةٍ وَاَصْلِحْهُمْ وَاَصْلِحْ بِهِمُ الْأُمَّةَ
“Ya Allah, penuhilah hati anak-anak kami dengan cahaya dan hikmah, dan jadikan mereka hamba-hamba-Mu yang pantas menerima nikmat, dan perbaikilah diri mereka dan perbaiki pula umat ini melalui mereka.”
7. Doa Agar Anak Memiliki Pemahaman Agama Yang Benar ;
اَللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ
“Ya Allah, berikanlah kefahaman baginya dalam urusan agama, dan ajarkanlah dia ta’wil (tafsir ayat-ayat al-Qur’an)” (HR.Bukhari)
8. Doa Agar Anak Sehat, Cerdas Dan Bermanfaat Ilmunya ;
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ صَحِيْحًا كَامِلاً وَعَاقِلًا حَاذِقًا وَعَالِمًا عَامِلًا
“Ya Allah, jadikanlah ia anak yang sehat sempurna, berakal cerdas, dan berilmu lagi beramal”
9. Doa Agar Anak Diberikan Perlindungan Oleh Allah Swt ;
أُعِيْذُهُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
“Aku memohon perlindungan baginya (sebut nama anak) dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari semua godaan setan dan binatang pengganggu serta dari pandangan mata buruk”. (HR. Abu Daud 3371, dan dishahihkan al-Albani, diriwayatkan pula oleh Bukhari dan Tirmidzi)
Doa ini adalah doa yang pernah Rosulullah gunakan untuk mendoakan cucuknya Hasan dan Husein
10. Doa Agar Anak Mendapat Keberkahan ;
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا فِي أَئِمَّتِنَا وَجَمَاعَتِنَا وَأَهْلِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَفِيمَا رَزَقْتَنَا وَبَارِكْ لَنَا فِيهِمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Ya Alloh perbaikilah untuk kami di dalam imam-imam kami, jama’ah kami, keluarga kami, istri-istri kami, anak-anak turun kami, harta-harta kami dan di dalam apa-apa (rizqi) yang engkau berikan kepada kami dan berilah kami kebarokahan dalam urusan mereka di dunia dan akhirat.
Semoga kita semuanya dikaruniakan oleh ALLAH Swt keturunan keturunan yang soleh solehah yang membahagiakan kedua orang tua baik di saat hidup maupun sesudah wafat nya…
Aamiin yaa robbal alamiin..🤲🏻
Semoga bermanfaat.
Semoga Alloh memberi “Kesehatan, Keamanan, Keselamatan, Kelancaran serta kebarokahan “.
Aamiin..
Istilah atau sebutan Thibbun Nabawi sebenarnya tidak ada pada zaman Nabi Muhammad Saw. Nabi sendiri tidak pernah membuat klasifikasi bahwa ini termasuk Thibbun Nabawi dan itu bukan. Istilah Thibbun Nabawi dimunculkan oleh para dokter muslim sekitar abad ke – 13 Masehi untuk memudahkan klasifikasi ilmu kedokteran. Istilah Thibbun Nabawi dipakai untuk menunjukkan ilmu-ilmu kedokteran yang berada dalam bingkai keimanan kepada Allah Swt, serta bimbingan Al Qur’an dan As Sunnah, yang dibedakan dengan ilmu-ilmu kedokteran yang tumbuh liar sehingga bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah, seperti yang terjadi pada zaman sebelum datangnya islam.
Kitab yang sering dipakai rujukan kaum muslimin adalah karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah (691-751 H / 1282-1372 M) yang berjudul Zadu ‘l-Ma’ad. Ibnul Qoyyim mengelompokkan hadits-hadits Nabi dan prilaku Nabi sehari-hari yang berhubungan dengan kesehatan dalam Zadu l-Ma’ad IV. Inilah yang kemudian menjadi dasar bagi generasi setelah Ibnul Qoyyim untuk menyebut ilmu kedokteran yang diterangkan dalam kitab itu dengan istilah Thibbun Nabawi, Ibnul Qoyyim sendiri tidak member judul kitabnya dengan Thibbun Nabawi, sebab hadits-hadits tentang Thibbun Nabawi itu masih bagian dari Fiqih Islam, dan tidak berdiri sendiri.
Ibnul Kholdun dalam Muqoddimahnya mengatakan bahwa kedokteran islam, yang juga disebut Thibbun Nabawi atau kedokteran Nabi, muncul sebagai hasil integrasi ilmu kedokteran Yunani, Persia, India, China, dan Mesir yang kemudian dipadu dengan wahyu Nabi, sehingga terjaga dari kesyirikan tahayul dan khurafat, serta dipenuhi keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. Saat itu di Yunani sudah banyak teori tentang kedokteran. Sebagian diantaranya dikoreksi oleh Al Qur’an seperti teori tentang reproduksi manusia yang saat itu masih di luar jangkauan akal mereka dengan surat Al-Mukminun : 12-14, Al-Qiyamah : 37-39, Al-Infithor : 7-8, dan sebagian lainnya dibenarkan.
Di China, Arab dan India pada saat itu sudah berkembang ilmu kedokteran yang saat ini dikenal dengan ilmu kedokteran tradisional (traditional medicine), namun dipenuhi dengan unsure syirik dan khurafat. Sebagian diluruskan oleh Islam, seperti bekam dan kay Al Wasimy. Dari Persia Nabi mengambil ilmu tentang farmasi, apotik, dan penggunaan obat dari rumput-rumputan, benda-benda tambang, tumbuh-tumbuhan atau hewan, serta harum-haruman (aromaterapi) dan bebatuan berkhasiat. Dari Mesir Nabi mengambil ilmu tentang bedah, operasi, lasoh, siyasur, dan syifa’. Pengobatan mata juga diambil dari Mesir yang sudah maju. Dari beberapa kawasan tersebut, Nabi mengambil ilmu-ilmu kedokteran. Ilmu-ilmu yang sesuai dengan ajaran Islam terus dikembangkan dan didukung dengan beberapa hadits dan ayat-ayat Al Qur’an. Yang bertentangan dilarang, yang salah dikoreksi dan yang lain dibiarkan saja.
Dalam kitab Shahih Muslim dan Shohihu l-Bukhari terdapat bab khusus yang membahas mengenai kedokteran modern (modern maksudnya adalah kedokteran yang diakui dunia barat seperti yang terjadi saat ini). Dalam Shahih Muslim banyak ditulis hadits-hadits tentang proses kejadian manusia dalam rahim (embriologi dan kebidanan). Dalam Shohihu l-Bukhari saja tercatat 80 hadits yang membicarakan tentang kedokteran modern, embriologi, anatomi, fisiologi, patologi, dan lain-lainnya. Sehingga para ulama mengatakan bahwa sebenarnya Imam Bukharilah yang merupakan orang pertama yang menulis Thibbun Nabawi (Medicine of the Prophet atau Kedokteran Nabi).
Thibbun nabawi sebenarnya merupakan perpaduan berbagai disiplin ilmu kedokteran. Ilmu ini pula yang dikembangkan umat Islam ke seluruh dunia, dari Arab ke Eropa dan ke seluruh negara-negara barat hingga abad ke-17. Saat itu tidak ada pemisahan antara ilmu kedokteran modern dan ilmu kedokteran tradisional. Baru pada abad ke-19, orang-orang Yahudi dan Nasrani menghapuskan ilmu kedokteran yang bernilaikan Islam dan berdasarkan wahyu Ilahi dari kurikulum-kurikulum sekolah mereka di negara-negara Eropa. Mereka kemudian mengembangkan ilmu kedokteran yang sudah terpisah dari nilai-nilai Islam tadi sehingga maju seperti sekarang ini. Lalu mereka mengatakan bahwa ilmu kedokteran barat yang maju itu milik mereka, dan itulah yang mereka sebut ilmu kedokteran yang modern. Sedangkan yang lainnya, yang menurut mereka ketinggalan zaman, yang penuh dengan nilai-nilai Islam, mereka sebut dengan ilmu kedokteran tradisional, sebagai milik orang Islam. Padahal sekarang ini sudah dibuktikan bahwa ilmu kedokteran yang mereka anggap tradisional itu tidak ketinggal zaman, bahkan mampu menyelesaikan problema kesehatan yang tidak dapat diatasi dengan kedokteran modern. Jadi sebenarnya pembagian ilmu kedokteran antara modern dan tradisional itu merupakan usaha-usaha orang Yahudi dan Nasrani untuk menjauhkan kaum muslimin dari ilmu kedokteran yang bersumberkan Al Qur’an dan Al Hadits.
Sebagai bukti bahwa kedokteran modern yang mereka anggap berasal dari Eropa sebenarnya sudah dikembangkan oleh para sahabat Nabi, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan generasi berikutnya adalah bahwa :
Demikianlah, para dokter muslim saat itu mengembangkan ilmu kedokteran Nabi secara kaffah dan menyeluruh, tidak hanya yang tradisional, namun juga kedokteran modern, serta tidak memisahkan antara keduanya. Kaum muslimin juga meletakkan ilmu kedokteran dengan nilai-nilai ilahiyah, dalam bingkai Al Qur’an dan Al Hadits, sehingga berkembanglah ilmu kedokteran dengan pesat hingga menembus belajahan Eropa yang saat itu masih gelap gulita jauh dari cahaya ilmu pengetahuan.
Penulis ilmu kedokteran Nabi yang pertama adalah ‘Ali bin Sahl bin Robban Ath-Thobari (sekitar tahun 785-861 M). Dia tabib yang menyatukan dan memadukan ilmu kedokteran Yunani, Mesir, Persia dan India. Salah satu bukunya berjudul Manafi’u l-Ath’immah(Manfaat Makanan). Ia menulis lebih dari 360 judul buku kedokteran. Muridnya adalah Abu Bakar Ar-Rozi (854-932 M) yang terkenal di Eropa sebagai dokter paling besar di abad pertengahan. Bukunya yang terkenal berjudul Al-Hawi yang oleh Raja Charles I tahun 1279 diterjemahkan dengan bahasa latin dengan judul Liber Continens, lalu dialihkan dengan bahasa Inggris dengan judul The Book of Continens yang dijadikan buku pegangan dokter di seluruh Eropa pada saat itu. Bukunya yang lain berjudul Thibbu l-Athfal (Ilmu Kedokteran Anak), Mukhtashor fi l-Laban (Ringkasan tentang Air Susu), dan Al-Judari wa l-Hisbah (Small Pox and Measles, atau cacar dan campak. Sedangkan Al-Biruni (961-1048 M) menulis buku besar berjudul Kitabu sh-Shoidanah fi th-Thibb (buku tentang batu-batuan perak yang berkhasiat dalam pengobatan). Ibnu Sina (980-1037 M) yang oleh orang barat kepandaiannya dianggap sejajar dengan Aristoteles, telah menulis buku yang terbaik Al Qonun fi th-Thibb (Canon of Medicine). Buku ini dianggap sejajar dengan Injil di Eropa. Sedangkan Az-Zahrowi (936-1013 M) dianggap sebagai bapak ilmu bedah karena bukunya At-Tashrif. Az-Zahrowi ini menjadi guru para dokter bedah di Eropa selama lima abad. Ilmu kedokteran jiwa dikembangkan oleh Ibnu Maimun (1134-1204 M). Pengobatan dengan herba dikembangkan oleh Ibnu Al-Baithar (1197-1240 M) dengan bukunya Al-Jami’ li Mufrodati l-Adawiyah wa l-Aghdiyah, yang berisikan daftar tanaman obat yang berkhasiat untuk penyembuhan. Kahin Al-Aththor (1360 M) dikenal sebagai ahli farmasi dengan bukunyaManagement of The Drug Store,Minhaju ‘d-Dukkan wa Dusturu ‘l-A’yan fi A’mal wa Tarrokibi ‘l-Adwiyati ‘n-Nafi’ah li ‘l-Abdan, dan masih banyak dokter muslim lainnya yang namanya mengharumkan dunia kedokteran saat ini.
Ilmu kedokteran harus dikembangkan oleh orang-orang Islam, mulai Tsabit bin Qurroh (836-901 M), Yuhana bin Masawaih (857 M), Ishaq Yuda (855-955 M), Ibnu Zuhr (1073-1162 M), Ibnu Al-Khatib (1313-1374 M), Al-Quff (1222-1286 M), dan Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah yang menulis buku Al-Jawabu ‘l-Kafi Liman Sa’ala ‘ani ‘d-Dawa’I sy-Syafi (Jawaban Lengkap tentang Obat-obat Mujarab), Zadul Ma’ad fi Hadyi Khoiri ‘l-‘Ibad, Thibbun Nabawi, dan buku-buku lainnya. Ia menuliskan buku kedokteran dengan cabang-cabangnya, seperti biologi, embriologi, anatomi, patologi dan fisiologi. Ilmu kedokteran ini terus dikembangkan lagi hingga menembus Byzantium, Yunde-Shahpur, Iskandaria, Damaskus, Baghdad, Qordoba, Granada, Sicilia, Itali, Prancis dan Jerman.
Karena kegigihan dokter-dokter muslim dalam mengembangkan ilmu kedokteran, maka akhirnya kedokteran Islam menguasai dunia, hingga akhirnya seiring dengan kekalahan umat Islam, musuh-musuh Islam di negara-negara Eropa mulai memisahkan kedokteran yang berdasarkan nilai-nilai ilahi, dan membuangnya dengan kurikulum kedokteran mereka, hingga akhirnya orang muslim tidak mengetahui bahwa sebenarnya ilmu kedokteran Nabi itu tidak hanya yang tradisional, namun juga yang modern yang mereka klaim sebagai milik mereka. Mereka juga menghapus nama dokter-dokter dari literature mereka, dan memunculkan dokter-dokter dari kalangan mereka sendiri yang sebenarnya juga mengambil ilmu kedokteran dari dokter-dokter muslim. Memang inilah tujuan mereka untuk menjauhkan kaum muslimin dari penguasaan teknologi kedokteran, yang apabila dikuasai orang Islam, maka kaum muslimin pasti akan kembali menguasai dunia.
Sumber : Asy-Syifa’ min Wahyi Khotami l-Anbiya’ (Aiman bin ‘Abdul Fattah)
Arti Qur’an menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr. Subhi Al Salih berarti ‘bacaan’, asal kata qara`a.
Kata Alqur’an itu berbentuk masdar dengan arti isim maf’ul yaitu maqru` (dibaca).
Adapun definisi Alqur’an adalah: “Kalam Allah swt. yang merupakan mu’jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada nabi Muhammad saw. dan ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah.”
Banyak ayat Al Qur’an yang mengisyaratkan tentang pengobatan karena AlQur’an itu sendiri diturunkan sebagai penawar dan Rahmat bagi orang-orang yang mukmin.
“Dan kami menurunkan Al Qur’an sebagai penawar dan Rahmat untuk orang-orang yang mu’min.”
(QS. Al Isra/17: 82) “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram.”(QS. Ar Ra’d/13: 28)
Menurut para ahli tafsir bahwa nama lain dari Al Qur’an yaitu “Asysyifâ” yang artinya secara Terminologi adalah Obat Penyembuh. “Hai manusia, telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus/10: 57)
Di samping Al Qur’an mengisyaratkan tentang pengobatan juga menceritakan tentang keindahan alam semesta yang dapat kita jadikan sebagai sumber dari pembuat obat- obatan. “Dia menumbuhkan tanaman-tanaman untukmu, seperti zaitun, korma, anggur dan buah-buahan lain selengkapnya, sesungguhnya pada hal-hal yang demikian terdapat tanda-tanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan”. (QS. An-Nahl 16:11)
“Dan makanlah oleh kamu bermacam-macam sari buah-buahan, serta tempuhlah jalan-jalan yang telah digariskan tuhanmu dengan lancar. Dari perut lebah itu keluar minuman madu yang bermacam-macam jenisnya dijadikan sebagai obat untuk manusia. Di alamnya terdapat tanda-tanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan”.(QS. An-Nahl 16: 69)
Berdasarkan keterangan tadi, dapat dipastikan bahwa orang yang membaca Alqur’an akan merasakan ketenangan jiwa.
Banyak pula hadits Nabi yang menerangkan tentang keutamaan membacanya dan menghafalnya atau bahkan mempelajarinya. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alqur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhori) “Siapa saja yang disibukkan oleh Alqur’an dalam rangka berdzikir kepada-Ku, dan memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan berikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah Aku berikan kepada orang-orang yang telah meminta. Dan keutamaannya Kalam Allah daripada seluruh kalam selain-Nya, seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya.” (HR. At Turmudzi) “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah (masjid) Allah, mereka membaca Alqur’an dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketentraman, mereka diliputi dengan rahmat, malaikat menaungi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka pada makhluk yang ada di sisi-Nya”. (HR. Muslim) “Hendaklah kamu menggunakan kedua obat-obat: madu dan Alqur’an” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Mas’ud)
Walaupun tidak dibarengi dengan data ilmiah, Syaikh Ibrahim bin Ismail dalam karyanya Ta’lim al Muta’alim halaman 41, sebuah kitab yang mengupas tata krama mencari ilmu berkata,“Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang kuat ingatan atau hafalannya. Di antaranya, menyedikitkan makan, membiasakan melaksanakan ibadah salat malam, dan membaca Alquran sambil melihat kepada mushaf”. Selanjutnya ia berkata, “Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Alqur’an”.
Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.
Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.
Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Alquran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.
Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Alqur’an.
Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Alquran dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Alqur’an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Alquran dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Alqur’an.
Alquran memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Alquran dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.
Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita memiliki Alquran. Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Alquran lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Alquran memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ). Mahabenar Allah yang telah berfirman, “Dan apabila dibacakan Alquran, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. 7: 204). Atau juga, “Dan Kami telah menurunkan dari Alquran, suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (Q.S.17:82). Atau, “Ingatlah, hanya dengan berdzikir kepada Allah-lah hati menjadi tentram”
(Q.S. 13: 28).
Unsur Meditasi Al Qur’an
Kitab ini, tentu saja bukanlah sebuah buku sains ataupun buku kedokteran, namun Alqur’an menyebut dirinya sebagai ‘penyembut penyakit’, yang oleh kaum Muslim diartikan bahwa petunjuk yang dikandungnya akan membawa manusia pada kesehatan spiritual, psikologis, dan fisik.
Kesembuhan menggunakan Alqur’an dapat dilakukan dengan membaca, berdekatan dengannya, dan mendengarkannya. Membaca, mendengar, memperhatikan dan berdekatan dengannya ialah bahwasanya Alqur’an itu dibaca di sisi orang yang sedang menderita sakit sehingga akan turun rahmat kepada mereka.
Allah saw menjelaskan,
“Dan apabila dibacakan Alqur’an, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al A’raf: 204) Menurut hemat penulis, salah satu unsur yang dapat dikatakan meditasi dalam Alquran adalah, pertama, auto sugesti, dan kedua, adalah hukum- hukum bacaan yaitu waqaf.
Aspek Auto Sugesti
Alqur’an merupakan kitab suci umat Islam yang berisikan firman-firman Allah. Banyak sekali nasihat-nasihat, berita-berita kabar gembira bagi orang yang beriman dan beramal sholeh, dan berita-berita ancaman bagi mereka yang tidak beriman dan atau tidak beramal sholeh.
Maka, alqur’an berisikan ucapan-ucapan yang baik, yang dalam istilah Alqur’an sendiri, ahsan alhadits. Kata-kata yang penuh kebaikan sering memberikan efek auto sugesti yang positif dan yang akan menimbulkan ketenangan.
Platonov telah membuktikan dalam eksperimennya bahwa kata-kata sebagai suatu Conditioned Stimulus (Premis dari Pavlov) memang benar-benar menimbulkan perubahan sesuai dengan arti atau makna kata-kata tersebut pada diri manusia. Pada eksperimen Plotonov, kata-kata yang digunakan adalah tidur, tidur dan memang individu tersebut akhirnya tertidur.
Pikiran dan tubuh dapat berinteraksi dengan cara yang amat beragam untuk menimbul kan kesehatan atau penyakit. Zakiah Daradjat mengatakan bahwa sembahyang, do’a-do’a dan permohonan ampun kepada Allah, semuanya merupakan cara-cara pelegaan batin yang akan mengembalikan ketenangan dan ketentraman jiwa kepada orang-orang yang melakukannya.
Relaksasi
Aspek Waqof
Alqur’an adalah sebuah kitab suci yang mempunyai kode etik dalam membacanya. Membaca Alqur’an tidak seperti membaca bacaan-bacaan lainnya. Membaca Alqur’an harus tanpa nafas dalam pengertian sang pembaca harus membaca dengan sekali nafas hingga kalimat-kalimat tertentu atau hingga tanda-tanda tertentu yang dalam istilah ilmu tajwid dinamakan waqaf. Jika si pembaca berhenti pada tempat yang tidak semestinya maka dia harus membaca ulang kata atau kalimat sebelumnya.
Waqof artinya berhenti di suatu kata ketika membaca Alqur’an, baik di akhir ayat maupun di tengah ayat dan disertai nafas. Mengikuti tanda-tanda waqof yang ada dalam Alqur’an, kedudukannya tidak dihukumi wajib syar’i bagi yang melanggarnya. Walaupun jika berhenti dengan sengaja pada kalimat-kalimat tertentu yang dapat merusak arti dan makna yang dimaksud, maka hukumnya haram.
Jadi cara membaca Alqur’an itu bisa disesuaikan dengan tanda-tanda waqaf dalam Alqur’an atau disesuaikan dengan kemampuan si pembaca dengan syarat bahwa bacaan yang dibacanya tidak berubah arti atau makna.
Waqaf dalam Alquran
Kemampuan nafas pembaca
Siapa saja bisa boleh membaca Alqur?an, baik anak kecil, muda maupun tua, baik pria maupun wanita selagi mereka dalam keadaan suci atau berwudlu. Jadi bagaimanapun kemampuan mereka bernafas mereka boleh membaca Alqur’an. Berhenti berdasarkan kemampuan nafas pembaca, dalam ilmu tajwid, bisa dikategorikan dalam bagian-bagian waqaf.
Adapula beberapa penekanan nafas dalam membaca Alqur’an. Penekanan-penekanan tersebut dalam ilmu tajwid dinamakan mad.
Indonesia adalah negara yang mayoritas umat Islam menerapkan hukum-hukum membaca Alqur’an menurut Rowi, Hafsh, yang telah berguru kepada imam ‘Ashim. Adapun hukum-hukum bacaan mad dalam ilmu Tajwid menurut Rowi Hafsh adalah:
Waktu Meditasi dengan Alqur’an
Pada hakikatnya tidak ada waktu yang makruh untuk membaca/meditasi Alqur’an, hanya saja memang ada beberapa dalil yang menerangkan bahwa ada waktu-waktu yang lebih utama dari waktu-waktu yang lainnya untuk membaca Alqur’an. Waktu-waktu tersebut adalah:
An-Nawawi berkata; ‘Waktu-waktu pilihan yang paling utama untuk membaca Alqur’an ialah dalam sholat.’
Al Baihaqi meriwayatkan dalam asy Syu’ab dari Ka’ab r.a. ia berkata:“Allah telah memilih negeri-negeri, maka negeri-negeri yang lebih dicintai Allah ialah negeri al Haram (Mekkah). Allah telah memilih zaman, maka zaman yang lebih dicintai Allah ialah bulan-bulan haram. Dan bulan yang lebih dicintai Allah ialah bulan dzulhijjah. Hari-hari bulan Dzulhijjah yang lebih dicintai Allah ialah sepuluh hari yang pertama. Allah telah memilih hari-hari, maka hari yang lebih dicintai Allah ialah hari Jum?at. Malam-malam yang lebih dicintai Allah ialah malam Qadar. Allah telah memilih waktu-waktu malam dan siang, maka waktu yang lebih dicintai Allah ialah waktu-waktu sholat yang lima waktu. Allah telah memilih kalam-kalam (perkataan), maka kalam yang dicintai Allah adalah lafadz ‘La ilâha illallâh wallâhu akbar wa subhanallâhi wal hamdulillâh.“
Waktu-waktu yang paling utama untuk membaca Alqur’an selain waktu sholat adalah waktu malam,
Allah menegaskan,“Di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sholat).”(QS. Ali Imron 3:113)
Waktu malam ini pun dibagi menjadi 2:
Sebagai penutup mudah-mudahan ini merupakan langkah awal untuk bisa lebih membuktikan unsur-unsur kesehatan dari Alqur’an, baik makna-maknanya, cara membacanya maupun lainnya.